Pasongsongan, NU Online Sumenep
Pada acara Santunan Yatim dan Dluafa yang digagas oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pasongsongan II, Kamis (17/12/2020) kemarin, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH. A. Pandji Taufiq mendorong kefilantropian pengurus NU pada nasib yatim dan dluafa, terutama yang ada di wilayah geografis Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan.
“Sejatinya kegiatan NU itu adalah kegiatan sosial, semisal santunan yatim dan dluafa ini. Gerakan santunan merupakan kewajiban kita, serta merupakan ajaran baginda Nabi Muhammad SAW, yang juga merupakan seorang yatim,” ujarnya membuka sambutan.
Siapapun saja, sambungnya, yang ingin langgeng kehidupan dan status sosialnya, maka gemarlah menyantuni yatim dan bershadaqah. Beliau menyinggung inspirasi kekuatan shadaqah yang digaungkan Ustadz Yusuf Mansur. “Bahwa kalau ingin kaya, gemarlah bershadaqah. Jika ingin haji, banyaklah shadaqah,” tuturnya.
Konsep itu, kata beliau adalah konsepnya Allah SWT, yang tertulis dalam Surat Al-Baqarah Ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.”
Beliau menyebut ada sebuah kegiatan shadaqah yang sangat inspiratif, yaitu shadaqah sarapan pagi dengan nasi bungkus bagi masyarakat. Hal ini terjadi di masjid salah satu Sragen, Masjid Raya Al Falah di Jl Raya Sukowati No.386 Sragen. Bahkan
setiap Jumat masjid tersebut menyediakan 2.500 sego Jumat yang dibagikan gratis kepada masyarakat.
“Adapun rinciannya ialah 1.000 untuk masjid sendiri, sisanya dibagikan kepada masjid masjid sekitar yang membutuhkan,” ungkapnya.
Ketua PCNU tiga periode ini menjelaskan, bahwa bukan hanya mereka sesungguhnya yang memiliki tradisi Shadaqah yang disebut bharebba (shadaqah nasi setiap malam Jumat). Ini merupakan warisan berharga.
“Jika tradisi ini kita kelola dengan baik, dan diberikan kepada dluafa dan masakin yang membutuhkan, niscaya akan menjadi gerakan pemberdayaan warga yang menggetarkan,” tuturnya mengisnpirasi.
Pengelolaan shadaqah yang dilakukan oleh PRNU Pasongsongan ini sebagai upaya untuk menyemarakkan kefilantropian Nahdlatul Ulama kepada fuqara dan masakin, yang ada di berbagai sudut dan pelosok desa.
Konferensi, kata beliau tidak hanya perhelatan pemilihan kepemimpinan seremonial saja, tapi juga ajang membangun kepekaan NU pada masalah sosial warga melalui santunan yatim dhuafa.
Selain arahan untuk kefilantropian NU, beliau juga mengharap agar warga NU mematuhi perintah negara, terutama saat negara kita mengalami kedaruratan kesehatan Covid-19, untuk senantiasa memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.
Beliau katakan bahwa sudah banyak kiai NU yang meninggal atau terkonfirmasi positif Covid-19. Ormas NU, kata beliau diantara ormas lainnya dikenal sebagai ormas yang paling patuh pada negara.
“Kalau bukan warga NU yang patuh pada negara siapa lagi?” ucapnya.
Selain pada hal dimaksud, nahdliyin harus benar-benar patuh pada negara. Bukan karena pejabat atau presiden siapa yang menduduki kursi negara,
“Dari saking pentingnya penguasa, adanya penguasa walaupun zalim masih lebih baik daripada tidak ada penguasa sama sekali. Apalagi penguasanya tidak dzalim,” ujar alumni senior Annuqayah ini.
Untuk terus membangun ketundukan pada negara itulah, beliau berharap agar warga NU pandai memilah dan memilih informasi di medsos. Jangan suka menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya. Informasi yang tidak jelas kebenarannya itu adalah aurat yang harus ditutupi.
“Kita saat ini punya penyakit gaya baru. Yaitu saling menyebar informasi hoax yang tidak jelas, yang terkadang menjauhkan jalinan persaudaraan,” ujar kiai asal Guluk-Guluk ini.
Terakhir beliau meminta agar warga NU makin mengokohkan semangat ke-NU-an dengan terus menyambungkan nuraninya kepada pendiri NU.
“Dimana ada acara NU, disitu acaranya Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asyari. Bahkan beliau bersabda, Siapa yang berkhidmat di NU, maka diakui sebagai santrinya, dan akan didoakan masuk sorga dengan keluarganya,” pungkasnya menutup sambutan.
Pewarta: Ach Subairi Karim
Editor: A. Habiburrahman

