Kota, NU Online Sumenep
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. A. Pandji Taufiq meminta agar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) tidak merasa cukup dengan keberadaan infrastruktur yang memadai. Akan tetapi, harus pula diimbangi dengan konsolidasi yang kuat.
“Infrastruktur yang memadai harus diimbangi dengan ikhtiar-ikhtiar lain, seperti konsolidasi sosial, ideologi, maupun ekonomi,” ujarnya saat menyampaikan sambutan di acara Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU Sumenep yang dipusatkan di Pondok Pesantren Tarate Selatan (Taretan), Pandian, Kota, Sumenep, pada Ahad (19/6/2022).
Pasalnya, Kiai Pandji menyebut, bahwa kantor MWCNU se-Sumenep bukan hanya ada, tetapi juga dilengkapi dengan bangunan dan fasilitas yang bagus. Bahkan, ada pula 30 Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) yang sudah memiliki kantor.
“Kalau dilihat dari segi bangunan kantor, MWCNU di Sumenep sudah masuk kategori kuat,” tambahnya.
Namun demikian, lanjut Kiai Pandji, tolak ukur kemajuan dan kekuatan NU tidak hanya dilihat dari segi bangunan. Melainkan juga dari sejauhmana upaya-upaya konsolidasi yang dilakukan.
“Sayangnya, kekuatan NU tidak hanya dilihat dari segi bangunan. Tetapi juga dari konsolidasi yang dilakukan. Baik konsolidasi idelogi, sosial bahkan ekonomi. Karena itu infrastruktur yang memadai harus diikuti oleh ikhtiar-ikhtiar lainnya,” pintanya.
Selain itu, Kiai Pandji juga berharap agar MWCNU segera melengkapi struktur kepengurusan lembaga, untuk memaksimalkan gerakan di berbagai sektor. “Karena tidak mungkin MWCNU bisa melakukan amal-amal NU yang begitu banyak tanpa ditopang dengan adanya lembaga-lembaga,” harapnya.
Bukan tanpa alasan, dorongan dan imbauan Kiai Pandji kepada MWCNU itu didasari atas keprihatinan terhadap peperangan dan pergeseran ideologi yang terjadi di beberapa kalangan. Maka, upaya-upaya konsolidasi perlu terus dilakukan untuk membentengi ideologi.
“Karena di Sumenep ini ada fenomena, orangtuanya NU, anak pertamanya juga NU, tapi anak yang kedua ini tidak NU. Bahkan ada pula yang dulu orangtuanya pengurus NU, sekarang anaknya justru jadi urusan NU,” ungkapnya.
Ia pun menambahkan, di daerah kota Sumenep saat ini terjadi peperangan ideologi. Bagaimana tidak, keberadaan kelompok Salafi-Wahabi dan HTI kian merebak.
“Ini perlu kita pikirkan bersama. Sehingga NU betul-betul kuat di berbagai sektor,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

