Gapura, NU Online Sumenep
Sebagai upaya memompa semangat mengajar dan memperluas cakrawala pengetahuan para guru, Madrasah Al-Huda Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep menggelar Halaqoh Kependidikan dengan tema “Mempertegas Peran Guru Sebagai Mudarris, Mu’allim, dan Murabbi” Ahad, (23/07/2022).
Acara ini selain dihadiri para guru dan karyawan di lingkungan internal Madrasah Al-Huda, juga dihadiri sebagian pimpinan pesantren di desa setempat. KH Naqib Hasan, salah satu kiai di lingkungan PP Annuqayah hadir sebagai pemateri.
Dalam pengantarnya, beliau menyampaikan bahwa pesantren adalah tempat santri yang terdidik dari segi akhlak dan keilmuannya. Oleh sebab santri tergolong orang yang terdidik, maka harus menjadi contoh bagi masyarakat.
“Kalau kaum abangan berbuat salah masih bisa dimaklumi karena memang tidak terdidik, tapi kalau santri berbuat salah, maka tidaklah pantas walau intensitas kesalahannya sama dengan yang dilakukan kaum abangan karena santri sudah punya ilmu,” tegas beliau.
Dalam kesempatan itu, Kiai Naqib juga menjelaskan, bahwa santri harus bisa menjadi penerus perjuangan kiai agar ilmu Allah, khususnya ilmu agama bisa terus disebarkan.
“Dulu Nabi Ya’qub sangat menginginkan kehadiran seorang putra, tujuannya tidak lain agar bisa jadi penerus dakwahnya,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa guru yang mengajar di pesantren atau di madrasah harus bisa menyelidiki atau mencermati prinsip dasar yang dilakukan pendiri pesantren tersebut. Hal itu dimaksudkan agar jalan perjuangan yang ditempuh pesantren atau madrasah memiliki pegangan nilai asal di tengah kehidupan zaman yang semakin dipenuhi beragam tantangan.
“Kalau pesantren tidak punya prinsip dasar sebagaimana yang dimiliki oleh muassis maka praktik yang ada di pesantren tersebut akan jauh dari tujuan dan cita-cita luhur muassisnya,” dawuhnya.
Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah tersebut selanjutnya menjelaskan bahwa pesantren punya tiga fungsi utama, antara lain, pertama, tadris, yaitu belajar dengan beragam rancangan, seperti adanya kurikulum, klasifikasi, dan lainnya.
“Maka di sini guru hadir sebagai mudarris yang harus membuat rancangan pembelajaran efektif yang sesuai tujuan atau standar kompetensi,” jelas beliau dengan nada yang tegas.
Fungsi pesantren yang kedua adalah ta’lim, yaitu mengajari ilmu pengetahuan bagi santrinya. Menurut beliau, pesantren yang ideal tidak hanya menyampaikan pengetahuan lewat lembaga pendidikan di internal lingkungan pesantren saja, tapi juga menyampaikan pengetahuan melalui kompolan, karena kompolan lebih langsung terhubung dengan masyarakat.
Sedang yang ketiga adalah murabbi, yaitu mendidik untuk meperkuat santri dari tiga dimensi, yaitu jasadiah (kesehatan), aqliyah (intelektualitas), dan ruhaniah (akhlakul karimah).
“Tujuan ta’lim dan tadris itu agar anak didik kembali kepada Allah dan tidak menjelekkan kelompok lain,” imbuhnya.
Di akhir acara, Kiai Naqib berpesan agar para guru mengajar demi mencari hikmah dan ilmu, bukan untuk mencari hal-hal yang sekadar bersifat duniawi. Selain itu, beliau juga menyarankan para guru agar mengukur kewarasan diri dalam menggunakan teknologi terutama di era post truth yang ditandai dengan kecenderungan masyarakat yang abai pada fakta dan lebih mengedepankan emosi dan keyakinan personal dalam membentuk sebuah opini.
Editor:

