Image Slider

Sejarah Gerakan Koin NU: Membentuk Kemandirian Jam’iyah

Oleh: Khairul Umam*

Desember adalah bulannya PCNU Sumenep. Statemen ini berawal dari momen lima tahunan yang akan diselenggarakan di bulan ini: Konferensi Cabang. Sebagai kegiatan lima tahunan dan musyawarah tertinggi di tingkat PCNU, acara ini tidak hanya sekadar seremoni, tapi juga penanda titik mula NU di tingkat kabupaten akan berlayar selama lima tahun ke depan.

Banyak rangkaian acara yang direncakan akan terselenggara mulai halaqah sanad keilmuan, lakakarya isu strategis, sidang komisi, hingga penentuan rais dan ketua selama lima tahun ke depan.

Sejak didirikannya, kita tahu bahwa NU adalah organisasi penginisiasi. Ia lahir karena ada keresahan dalam diri bangsa yang sangat jumud dan harus segera dipecahkan. Risiko dari jalan itu, ia harus mandiri. Karena hanya kemandiranlah yang bisa membuatnya tetap eksis di tengah isu kebangsaan yang porak-poranda sejak zaman penjajahan hingga Indonesia pascamerdeka.

Sumbangan Kiai, PCNU dan Warga NU untuk Muktamar

Sejarah mencatat bahwa sejak muktamar dilakukan di Surabaya hingga berpindah-pindah ke beberapa kota baik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, mayoritas pembiayaan dilakukan secara mandiri. sejumlah Kiai NU ikut menyumbang demi terselenggaranya musyawarah tertinggi dengan mandiri.

KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar saat itu menyumbang 30 rupiah (setara 11 gram mas) pada Muktamar di Menes, Banten tahun 1938, Rais NU Banten menyumbang 10 rupiah (setara 3,5 gram emas), KH Ismail Padegelang menyumbang 120 rupiah (setera 43 gram emas), dan beberapa kiai lainnya juga ikut menyumbang hingga terkumpul uang mencapai 471 rupaih.

Bahkan, yang sangat mengesankan, KH Mu’ti harus mengayuh sepeda ontel 467 kilo meter dari Ngawi ke Banyuwangi untuk menghadiri Muktamar karena menghemat biaya untuk disumbangkan.

Selain itu, dari catatan panitia Muktamar ke-9 di Banyuangi, terlihat jelas setiap PCNU yang terbentuk, para filantropis, anggota NU di setiap jenjang ikut menyumbang hingga dana sebesar f. 1882, 89 (jika dikonversi ke rupiah sekitar 230 juta) bisa terkumpul untuk membiayai penyelenggaraan Muktamar tersebut.

Gerakan Koin dan Kemandirian

Berdasar data di atas, jelas bahwa NU adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang dibangun atas dasar kemandirian. Ia tidak menghidupi (dalam konteks ekonomi) tapi harus dihidupi. Itulah pesan KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU.

Pada momen lima tahunan ini, ketika PCNU Sumenep menggalang koin untuk pembiayaan konferensi, itu adalah bentuk kepedulian PCNU Sumenep kepada keberlangsungan NU Sumenep di masa yang akan datang sekaligus membuka peluang keikutsertaan warganya secara langsung guna mendukung kemadrian NU tetap terjaga sebagaimana para pendirinya mengharapkan.

Setidaknya, ada tiga hal yang harus kita renungkan dengan hadirnya koin konferesni ini. Pertama adalah kerakyatan, kedua kemandirin, ketiga keterbukaan.

Kerakyatan adalah bentuk konsolidasi penyadaran bahwa rakyat atau warga NU bertanggung jawab terhadap keberlangsungan NU. Seringkali kita mendengar NU adalah pesantren besar dari pesantren-pesantren kecil yang berdiri di bawahnya, ia harus menjadi tauladan dan penjaga gawang dari proses kebangsaan yang penduduk utamanya adalah rakyat.

Sehingga dengan kehadiran koin ini, NU menegaskan bahwa warga NU adalah entitas penting yang harus dijaga dan dibela dari berbagai penindasan baik secara struktural atau pun kebijakan.

Kemandirian adalah bentuk ketidakterikatan NU pada siapapun kecuali pada warganya yang telah banyak berkorban dan berinvestasi dalam perjuangan. Ia adalah organisasi yang tidak boleh disetting siapa pun baik pengusaha, politisi, atau pemerintah. Sejarah telah mengatakan dengan sangat lantang bahwa NU didirikan untuk menentang kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.

Keterbukaan adalah bagian penting. Dari sumbangan yang ada ia dituntut proporsional dan transparan kepada setiap warganya sehingga segala penyelewengan dalam bentuk apa pun tidak akan pernah terjadi mengingat setiap warga NU akan terus mengawasi dengan teliti. Nah, sebagai bentuk keterbukaan, PCNU Sumenep telah membuat infografis pendapatan koin tersebut yang secara berkala disebarluaskan.

Selain ketiga hal tersebut, koin konferensi diharapkan melahirkan pemimpin yang benar-benar lepas dari berbagai kepentingan sehingga NU bisa tetap berjalan pada rel yang telah digariskan oleh para pendirinya. Semoga!

*) Penulis adalah Ketua Lesbumi PCNU Sumenep Periode 2024-2025. Saat ini mengajar di Universitas Annuqayah Guluk-Guluk.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga