Image Slider

Menyibak Makna Gerakan Koin Konfercab NU

Oleh : Khairul Umam*

Pada tulisan sebelumnya telah saya singgung tentang sejarah kemandirian NU sejak didirikannya. Sebagai pendanda kemadirian adalah konsolidasi koin yang dikumpulkan dari warga setahap demi setahap. Meski tidak baru, membahasnya tetap sesuatu yang penting. Mengapa harus koin? Bukankah ia adalah mata uang terkecil dalam hitungan rupiah? Sering kali kita menyebutnya receh dan tidak dianggap begitu berharga.

Lalu apakah yang receh pasti tidak berharga? Tunggu dulu.

Pada dasarnya, hitungan sebesar apa pun pasti dimulai dari yang terkecil. Itulah hakikat dari bilangan. Ia tidak eksis begitu saja. Ada proses panjang yang dilalui hingga akhirnya yang kecil menjadi besar. Sedangkan sesuatu yang besar akan mudah runtuh ketika unsur penyusunnya yang kecil rapuh. Nah, kehadiran koin konferensi adalah bagian dari ikhtiar keorganisasian agar tidak lupa perihal akar rumput yang menjadi basis dari organisasi NU dan pemilik kekuatan yang sesungguhnya.

Sudah maklum bahwa kader NU hari ini berada di hampir semua lini kehidupan mulai dari petani, pengusaha, politisi, hingga akademisi. Kondisi ini adalah bagian dari pencapaian setelah berpuluh tahun NU berproses mendampingi kadernya. Sebuah pencapaian luar bisa yang harus disyukuri. Namun, di sisi berbeda, pencapaian ini dengan mudah akan menggerus NU dari akar rumputnya jika terlalu uforis. Jadi, selayaknya NU tetap harus mengakar ke tanah dan menjulang ke langit.

Koin NU ini adalah kunci agar warga akar rumput yang selama ini menjadi tumpuan tetap tidak terlupakan, bahkan merekalah yang harus menjadi titik penting dari garis perjuangan baik dalam bidang keagaaam terlebih dalam bidang sosial kemasyarakatan.

Sebagai organisasi keagamaan, NU harus selalu menghadirkan iklim keagamaan yang lues dan wasatiyah dengan warga akar rumput menjadi basis perhatian agar warganya merasa diperhatikan di tengah iklim keagamaan yang mulai elitis. Banyak produk-produk hukum yang tidak jarang membingungkan masyarakat akar rumput dan akhirnya membuat mereka merasa tidak diperhatikan. Nah, tidak jarang pemberontakan lahir dari ketidakpuasan demikian.

Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, kehadiran NU justru lebih dibutuhkan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat luas. Di tengah krisis kehidupan baik ekonomi atau pun kebijakan politis yang mulai tidak berpihak pada masyarakat akar rumput, kehadiran NU sangat dibutuhkan. Ia harus menjadi penerjemah dari kegelisahan masyarakat akar rumput dan penyambung lidah mereka sehingga mereka benar-benar merasa didampingi dan dibersamai.

Nah, di titik ini, koin konferensi adalah simbol bahwa warga NU harus berperan aktif dalam menyongsong momen lima tahun ini guna memastikan penyelenggaraan konferensi tidak terkontaminasi dari berbagai kepentingan individu atau pun kelompok yang pada akhirnya akan menjauhkan NU dari tujuan awalnya.

Koin sebagai Simbol Kebersamaan

Konferensi NU sebagai musyawarah tertinggi di tingkat cabang untuk menghasilkan pemimpin terbaik lima tahun ke depan tentu membutuhkan biaya yang tinggi. Pembiayaan ini dibutuhkan dalam rangka memastikan acara terselenggara dengan baik dan menghasilkan pemimpin yang baik. Kesalahan dalam pengumpulan pendanaan saat konferensi akan dilangsungkan tentu juga akan berakibat pada nasib NU lima tahun ke dapan.

Perjuangan pengumpulan koin untuk konferensi sebagai media konsolidasi untuk meneguhkan kembali peran sentral NU sebagai pembela rakyat akar rumput adalah sebuah ikhitar luar biasa yang harus didukung oleh masayarakat. Kekompakan dalam pengumpulan koin ini adalah cara tepat dan elegan agar kebersamaan yang selama ini sudah mulai tergerus oleh kekuatan kapitalis kembali diteguhkan dan dijaga dengan baik.

Sejarah mencatat, keberhasilan perjuangan adalah wujud dari kebersamaan yang kuat. Ia tidak lahir dari individu yang kuat dan tidak juga lahir dari sistem yang elitis. Dalam konteks Indonesia, kemerdekaan tidak akan pernah tercapai jika para pendahulu kita tidak mau bersama dan bejuang menurut egonya masing-masing. Dalam konteks keorganisasisan, NU tidak akan pernah eksis dengan baik jika ia hadir di atas menara gading dan menjadi mercusuar yang elitis. Jauh dari warganya.

*Penulis adalah Ketua Lesbumi PCNU Sumenep Periode 2024-2025. Saat ini mengajar di Universitas Annuqayah Guluk-Guluk.

Editor: A Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga