Image Slider

Doa Iftitah dan Filosofi Kontrak Jam’iyah

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Abu Al-Hasan Al-Shushtari menyebutkan dalam syairnya:

لا تنظر إلى الأواني، وخض بحر المعاني، لعلك تراني

Artinya: “Janganlah memandang bentuk fisik, tapi selamilah lautan maknanya (hakikat), barangkali engkau dapat melihatku.” (Ibnu ‘Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid jilid 2, (Jami’u Al-Kutub Al-Islamiyah, ketabonline.com) hal.137.

Dalam alam semesta ini ada tanda-tanda Kemahabesaran Allah bagi kita yang mau berpikir. Maka, kita tidak boleh hanya terpesona dengan tampilan fisik atau bentuk luarnya saja, tapi lihatlah apa yang ada di balik itu semua.

Termasuk dalam doa iftitah yang kita tidak pandai menyelami hakikat maknanya, sehingga shalat yang kita laksanakan laksana pepatah kosong yang terasa hampa dan hambar.

Dalam doa iftitah kita sering lalai dan bahkan melupakan mutiara terpendam di balik keindahan maknanya. Kita sering meninggalkan dan mengabaikannya. Padahal doa iftitah itu saya sebut ibarat Kontrak Jam’iyah dalam shalat.

Kontrak Jam’iyah biasanya berupa surat pernyataan tertulis yang mengikat dalam organisasi untuk membangun komitmen bersama atas kesediannya mematuhi peraturan-peraturan dan kebijakan organisasi.

Dalam shalat, ini kita temukan di do’a iftitah (pembuka) setelah takbir (takbiratul ihram). Ya doa iftitah itu ibarat Kontrak Jam’iyah bagi orang yang mengerjakan shalat.

Shalat umumnya didefinisikan sebagai perbuatan dan perkataan tertentu yang diawali dengan takbir (Takbiratul Ihram) dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat khusus.

Takbiratul Ihram termasuk salah satu rukun shalat yang ada 18 itu setelah niat dan berdiri bagi yang mampu. Namun, sebelum mengerjakan shalat harus suci dulu dari hadats kecil dan besar.

Kemudian lakukanlah shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Hadits Rasulullah SAW:

مفتاح الصلاة الوضوء وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

Artinya: “Kunci shalat adalah wudhu’ (bersuci), dan yang mengharamkannya (aktivitas di luar shalat) adalah takbir (takbiratul ihram), dan yang menghalalkannya (kembali dari shalat) adalah salam.” (HR. Abu Daud).

Dinamakan takbiratul ihram karena orang yang sedang shalat diharamkan melakukan sesuatu yang halal sebelumnya seperti makan, minum, bicara dan lain sebagainya. (Taqiyuddin Abi Bakr Al-Hishni, Kifayatul Akhyar (Jeddah, Daar Al-Minhaj: 2008), hal. 150-175.

Sementara doa iftitah yang diibaratkan sebagai Kontrak Jam’iyah dalam shalat merupakan sunnahnya shalat. Dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa artinya shalatnya tetap sah.

Doa iftitah itu banyak modelnya. Di sini kita bahas yang biasa digunakan oleh ulama pesantren terutama di pesantren tempat penulis menimba ilmu.

Filosofi Doa Iftitah sebagai Kontrak Jam’iyah
Pertama, Pembuka Pintu Langit. Setelah takbiratul ihram biasanya membaca doa yang biasanya disebut doa iftitah (pembuka) sebagai jalan membuka pintu-pintu langit.

Ketika pintu langit terbuka ada ruang memulai mi’raj atau pengembaraan kita menuju Allah. Sebagaimana ulama menyebutnya bahwa shalat adalah mi’rajul mu’minin.

Doa ini sebagai awal pengembaraan kita menuju Allah. Bukan hanya mengakui akan kebenaran Allah, tapi kehadiran Allah benar-benar merasuki jiwa raganya.

Sebagai awal pembuka kontrak Jam’iyah yang cukup menggugah kita yang sadar terhadap apa yang kita panjatkan kepada Allah:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Artinya: “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore.” (HR. Muslim).

Ibnu Umar RA berkata:

بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: … فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك

Artinya: “Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa iiftitah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit’. Ibnu Umar pun berkata: ‘Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’.”

Mi’raj atau komunikasi secara langsung antara hamba dengan Sang Pencipta dimulai dengan doa untuk mengetuk pintu langit yang kemudian akan disambung dengan doa setelahnya.

Kedua, Konsentrasi Penuh Jiwa dan Raga. Kesadaran diri bahwa kita sedang berdiri dan berkomunikasi langsung di hadapan Dzat Yang Maha Perkasa.

Kesadaran yang menumbuhkan konsentrasi penuh jiwa raga dihadapan-Nya, serta pernyataan sikap bahwa kita bukan termasuk mereka yang menyekutukan Allah. Bukan mereka yang sombong dengan akal pikirannya yang tidak mau tunduk pada kehendak-Nya:

اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Artinya: “Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.”

Pernyataan ini sebenarnya gambaran dari Nabi Ibrahim yang akal pikirannya tunduk setelah melihat tanda-tanda Kemahabesaran Allah di alam ini. Benda-benda langit dan apa yang ada di semesta ini bukanlah sesuatu yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan. Mereka semua bertasbih dan bersujud pada Pencipta-Nya.

Ia memandang hakikat penciptaan sebagai sarana untuk mengakui kuasa-Nya. Pandangan batin sebagai wasilah untuk sampai kepada-Nya.

Begitu juga harusnya dengan doa iftitah kita dalam shalat. Jadikan sebagai sarana komunikasi efektif untuk membangun komitmen di hadapan Tuhan. Komitmen akan patuh, pasrah dan tunduk hanya pada-Nya.

Isyarah Ibnu ‘Ajibah dalam ayat di atas yang dibaca dalam doa iftitah tersebut bahwa ketika Ibrahim dibukakan tabir (diperlihatkan) alam malakut (alam kerajaan langit dan bumi = pemahaman mendalam tentang rahasia penciptaan), ia melihat (tanda-tanda kekuasaan) Allah pada segala sesuatu. Kemudian dalam sebuah keterangan juga disebut:

ما رأيت شيئًا إلا رأيت الله فيه

Artinya: “Tidaklah aku melihat sesuatu, melainkan aku melihat Allah di dalamnya.” (Ibnu ‘Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid jilid 2, (Jami’u al-Kutub al-Islamiyah, ketabonline.com) hal.137.

Nah, kesadaran dalam doa iftitah ini juga untuk menghadirkan sikap Ihsan yaitu kita berdiri dihadapan-Nya seakan-akan sedang melihat-Nya atau kalau tidak, Allah telah memperhatikan kita.

Ketiga, Totalitas Kepasrahan Pada Yang Maha Kuasa

اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan Semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya. dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim.”

Ini pernyataan komitmen bahwa darah yang mengalir dalam tubuh ini sebagai pertanda adanya kehidupan, tulang belulang sebagai penyanggahnya dan daging sebagai bungkusnya, semuanya kita serahkan penuh pada Yang Maha Menciptakan.

Ini adalah bentuk kepasrahan total pada-Nya dan itu hanya dapat terwujud dengan pernyataan dan sikap ikhlas.

Sementara keikhlasan menurut Ibnu ‘Ajibah adalah termasuk rahasia Allah yang dititipkan ke dalam hati hamba yang dicintaai-Nya.

Ia berupa kemurnian ibadah hanya kepada Allah semata. Hal ini tidak akan tercapai kecuali setelah hamba terbebas dari perbudakan hawa nafsu dan keluar dari penjara keberadaan dirinya sendiri (melepaskan diri dari belenggu untuk dipuji), dan ini adalah sesuatu yang sangat mulia. (Ibnu ‘Ajibah, Tafsir Al-Bahr Al-Madid jilid 2, (Jami’u al-Kutub al-Islamiyah, ketabonline.com) hal.193.

Maka, dalam doa iftitah ini adalah bagian dari komitmen atau Kontak Jam’iyah kita pada Allah untuk pasrah terhadap perintah dan hukum-hukum-Nya secara total.

Seluruh gerakan dalam shalat, darah yang mengalir, denyut dan detak jantung yang masih terasa, serta keluar masuknya nafas yang ada semuanya adalah karena keagungan-Nya.

Maka, kepasrahan pada-Nya adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Dampaknya setelah shalat akan kita rasakan. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep, santri alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga