Image Slider

Pelantikan MWCNU Pasongsongan, KH Unais: Kekuatan NU Ada dalam Sujud kepada Allah

Pasongsongan, NU Online Sumenep

Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan masa khidmat terbaru resmi dilantik di Kantor MWCNU Pasongsongan, Senin (8/6/2026). Pelantikan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, pengurus ranting NU se-Kecamatan Pasongsongan, badan otonom NU, para masyayikh, unsur Forkopimka, serta tokoh masyarakat setempat.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan oleh Sekretaris PCNU Sumenep, H. Damanhuri, kemudian dilanjutkan pembaiatan pengurus oleh Wakil Katib PCNU Sumenep, K. Ahdi Afandi.

Pada sesi mauidhatul hasanah, Pengasuh Pondok Pesantren di Ambunten, KH Unais Ali Hisyam, mengingatkan bahwa identitas Nahdlatul Ulama tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama sebagaimana nama organisasi tersebut dipilih oleh para muassis.

“Namanya Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama. Bukan kebangkitan politisi dan bukan pula kebangkitan pedagang,” tuturnya.

Menurut KH Unais, terpilih menjadi pengurus NU merupakan pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang. Karena itu, amanah tersebut harus diiringi dengan kesungguhan dalam memperdalam ilmu agama dan meningkatkan pengabdian kepada umat.

Mengutip sabda Rasulullah SAW, man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fid din (barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan memahamkannya tentang agama), ia mengajak seluruh pengurus untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan spiritualitasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak bertumpu pada kekuasaan ataupun kekuatan materi, melainkan pada kekuatan ruhani yang lahir dari ibadah dan ketulusan pengabdian.

“Kekuatan kita ada dalam sujud kepada Allah, bukan pada kekuatan yang lain. Bangun sumber daya manusianya terlebih dahulu sebelum membangun infrastruktur fisik. Itulah yang dicontohkan Rasulullah SAW,” katanya.

KH Unais menjelaskan bahwa khidmah di NU harus dilalui melalui tiga tahapan, yaitu ta’alluqan (membangun keterikatan), takhalluqan (membentuk akhlak), dan tahaqquqan (mewujudkan nilai-nilai perjuangan secara nyata).

Karena itu, menurutnya, berkhidmah di NU tidak boleh didasari keinginan mencari pujian atau kebanggaan pribadi, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT dan keberkahan para ulama.

“Berkhidmah di NU bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk mencari keberkahan dan ridha Allah SWT,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PCNU Sumenep, K. Khalqi, S.Ag., menegaskan bahwa menjadi pengurus Nahdlatul Ulama merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Menurutnya, para pengurus NU sedang melanjutkan perjuangan para muassis Nahdlatul Ulama yang telah mewariskan organisasi sebagai sarana khidmah kepada umat.

“Ini adalah amanah mulia untuk membesarkan NU Pasongsongan. Kita mengemban perjuangan para pendiri NU seperti Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengurus NU harus mampu menjalankan tiga fungsi utama, yakni sebagai konsolidator yang menyatukan seluruh potensi organisasi, fasilitator yang menghadirkan manfaat bagi masyarakat, serta negosiator yang mampu membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

“NU harus hadir memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga