Image Slider

Spirit Ali bin Abi Thalib untuk Kepemimpinan NU Mendatang

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Konbes dan Munas Nahdlatul Ulama di Ploso, Kediri, meninggalkan catatan yang tidak ringan bagi sebagian warga Nahdliyin termasuk juga penulis yang hanya bisa menyaksikan di luar arena.

Narasi tentang begal membegal draft, menurunnya etika berorganisasi, hingga rapuhnya dimensi spiritual para peserta forum, menjadi luka yang masih diperbincangkan.

Padahal forum tersebut disaksikan para kiai sepuh yang tsiqah, para penjaga tradisi yang komitmennya kepada NU tak pernah diragukan lagi.

Barangkali hati mereka teriris melihat arogansi peserta forum yang dipertontonkan. Ketukan palu sidang yang dipaksakan dan beberapa peserta yang tidak bisa menahan emosi.

Bahkan, jika kita meminjam bahasa spiritual para romo kiai, mungkin para muassis Nahdlatul Ulama di alam barzakh ikut menangis menyaksikan keadaan ini.

Sebab, organisasi yang didirikan atas dasar keikhlasan, adab, dan perjuangan para ulama kini sedang diuji oleh gejala yang mengarah pada dekadensi moral dalam berorganisasi dan mungkin sedang menghadapi fitnah besar dalam periode ini.

Namun, luka tidak seharusnya melahirkan keputusasaan. Anggaplah itu bagian dari dinamika organisasi sebagai proses pendewasaan yang harus terus dipupuk dengan baik.

Luka justru harus menjadi cermin untuk menata kembali perjalanan jam’iyyah. Menatap Muktamar ke-35 NU ke depan, diperlukan kepemimpinan yang tidak sekadar kuat secara managerial dan kepemimpinan organisasi, tetapi juga kuat secara moral, spiritual, dan keberanian menegakkan kebenaran.

Dalam konteks inilah sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib layak dijadikan sebagai cermin di Nahdlatul Ulama.

NU dan Fitnah Besar
Keadaan NU hari ini, dalam kadar tertentu, mengingatkan pada situasi umat Islam menjelang akhir kepemimpinan Khalifah ke-3 Sayyidina Utsman bin Affan.

Fitnah besar merobek persatuan umat. Kepentingan, propaganda, dan berbagai intrik bermunculan. Tidak sedikit yang mengatasnamakan agama dengan simbol Al-Qur’an.

Setelah itu, tongkat estafet berpindah kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin yang mewarisi situasi yang sudah terlanjur rumit.

Ali tidak memulai kepemimpinannya dalam keadaan tenang. Bahkan beliau sempat menolak untuk menggantikan Sayyidina Utsman, namun karena umat terus memaksanya maka beliau terpaksa menerimanya dengan syarat. Seperti yang disebutkan dalam Tarikh At-Thabari berikut:

إِنَّ قَدْ كُنْتُ كَارِهًا لِأَمْرِكُمْ، فَأَبَيْتُمْ إِلَّا أَنْ أَكُونَ عَلَيْكُمْ، أَلَا وَإِنَّهُ لَيْسَ لِي فِي أَمْرِ دُنْيَاكُمْ إِلَّا أَنْ مَفَاتِيحَ مَالِكُمْ مَعِي، أَلَا وَإِنَّهُ لَيْسَ لِي أَنْ آخُذَ مِنْهُ دِرْهَمًا دُونَكُمْ، رَضِيتُمْ؟

Artinya: “Sesungguhnya aku sebenarnya tidak menyukai urusan (kekuasaan) kalian ini, tetapi kalian tetap menghendaki agar aku memimpin kalian. Ketahuilah, aku tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam urusan dunia kalian. Harta milik kalian (baitul mal) kuncinya memang berada di tanganku, tetapi aku tidak berhak mengambil satu dirham pun darinya tanpa persetujuan kalian. Apakah kalian rela dengan hal itu?.”

Kemudian umat setuju dan Ali mengatakan:

“Ya Allah, saksikanlah mereka.”

Setelah itu, baru umat membaiatnya. (Tarikh At-Thabari juz IV. Kairo. Dar al-Ma’arif bimishr. Hal. 428).

Ali memimpin di tengah polarisasi, fitnah, dan pertentangan. Namun beliau tetap berusaha menegakkan keadilan dan tidak membelokkan hukum karena tekanan siapa pun.

Menariknya, dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh al-Husain bin Dizil dari Habbah al-‘Urani, dikisahkan bahwa ketika Sayyidina Ali singgah di sebuah tempat bernama Ak-Balbakh di tepi Sungai Efrat, seorang rahib turun dari biaranya membawa kitab warisan para pengikut Nabi Isa AS.

Dalam kitab itu disebutkan setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW dengan keistimewaannya serta perselisihan dan persatuan setelahnya, maka akan datang seorang lelaki dari umat Nabi Muhammad yang:

يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، وَيَقْضِي بِالْحَقِّ، وَلَا يُنَكِّسُ الْحُكْمَ.

Artinya: “Memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, memutuskan perkara dengan kebenaran (benar), dan tidak membelokkan hukum.”

الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَيْهِ مِنَ الرَّمَادِ ـ أَوْ قَالَ: التُّرَابِ ـ فِي يَوْمٍ عَصَفَتْ فِيهِ الرِّيحُ، وَالْمَوْتُ أَهْوَنُ عَلَيْهِ مِنْ شُرْبِ الْمَاءِ، يَخَافُ اللَّهَ فِي السِّرِّ، وَيَنْصَحُ فِي الْعَلَانِيَةِ، وَلَا يَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ،

Artinya: “Dunia lebih hina baginya daripada debu yang diterbangkan angin. Ia takut kepada Allah dalam kesendirian, memberi nasihat secara terbuka, dan tidak takut celaan orang-orang yang mencela dalam menjalankan atau menegakkan perintah Allah.”

Rahib itu kemudian memandang Ali dan berkata bahwa dialah sosok yang disebut dalam kitab tersebut.

Mendengar isi kitab tersebut, Ali tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun, beliau justru menangis dan memuji Allah karena dirinya disebut dalam kitab-kitab orang-orang saleh. (Ibnu Katsir. 2010. Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz VII. Beirut. Dar Ibn Katsir. Hal. 438-439).

Terlepas dari pembahasan sanad dan derajat riwayat ini, pesan moral yang terkandung di dalamnya sangat dalam.

Kepemimpinan sejati tidak dibangun di atas ambisi, melainkan keberanian moral dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar, adil dalam memutuskan perkara, tidak tergoda kepentingan dunia, tidak takut celaan manusia ketika membela kebenaran dan berani berkorban demi prinsip serta berani mati dalam menegakkan kebenaran.

Menanti Ali-Ali Baru dalam NU
NU tentu tidak membutuhkan figur yang sempurna sebagaimana para sahabat Nabi. Tetapi NU membutuhkan pemimpin yang memiliki spirit kepemimpinan seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Pemimpin yang tidak silau oleh dunia dan jabatan. Pemimpin yang lebih mengutamakan kemaslahatan jam’iyah daripada kemenangan kelompok.

Pemimpin yang berani mengatakan benar adalah benar dan salah adalah salah. Atau dalam bahasa yang lebih populer:

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Artinya: “Katakanlah kebenaran, sekalipun terasa pahit.”

Pemimpin yang tidak membiarkan hukum organisasi dibelokkan oleh kepentingan sesaat.

Pemimpin yang takut kepada Allah SWT ketika sendirian dan tetap berani menegakkan prinsip ketika berada di tengah tekanan manusia.

Muktamar ke-35 NU hendaknya menjadi momentum muhasabah bersama. Jangan sampai luka yang ditinggalkan Konbes dan Munas Ploso menjadi awal kemunduran moral organisasi.

Sebaliknya, luka itu harus menjadi jalan kembali kepada nilai-nilai para muassis: nilai keikhlasan, tawadhu’, ukhuwah, dan penghormatan kepada adab. Sebagaimana fitnah besar yang pernah melanda umat Islam dan tampilnya sosok Ali bin Abi Thalib.

Demikian pula badai yang sedang menerpa NU tidak boleh menghilangkan harapan akan lahirnya kepemimpinan yang mampu menjadi perekat, penegak keadilan, dan penjaga marwah jam’iyah.

Kepemimpinan yang tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan, melainkan amanah. Kepemimpinan yang tidak membangun dan memperlebar tembok permusuhan, melainkan menjahit kembali nilai-nilai persaudaraan. Kepemimpinan yang tidak mengejar pujian manusia, tetapi mencari ridha Allah.

Semoga di tengah fitnah yang sedang menguji, Allah menghadirkan pemimpin yang memiliki ruh keberanian, keadilan, kezuhudan, dan ketakwaan sebagaimana yang pernah dipantulkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Seorang pemimpin yang bahkan dikenali kemuliaannya oleh seorang rahib yang mewarisi kitab para pengikut Nabi Isa AS. Wallahu A’lam.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga