Gapura, NU Online Sumenep
Suasana haru menyelimuti Masjid Jamik Al-In’am, Banjar Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Seorang pria bernama Alit Rajif resmi memeluk agama Islam setelah kurang lebih 43 tahun beragama Katolik. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan keluarga besar Pondok Pesantren Al-In’am, Jumat (26/06/2026).
Prosesi tersebut disaksikan oleh pengurus yayasan, dewan guru, Ketua Ikatan Santri dan Alumni Al-In’am (IKTASABA), serta jamaah Masjid Jamik Al-In’am. Setelah mengucapkan syahadat, Alit menerima nama baru, Muhammad Allif Rojif, yang diberikan oleh KH Mas’ud Qasim.
KH Mas’ud Qasim menyampaikan rasa syukur atas hidayah yang diterima Muhammad Allif Rojif. Menurutnya, memeluk Islam merupakan awal dari perjalanan panjang untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mengamalkan ajaran agama secara istiqamah.
“Kami menyambut dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kemudahan, serta keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam. Keluarga besar Pondok Pesantren Al-In’am siap mendampingi dan membimbing beliau untuk terus belajar mengenal Islam,” ujarnya.
Usai mengucapkan syahadat, Muhammad Allif Rojif mengungkapkan bahwa keputusan memeluk Islam murni lahir dari hati nuraninya, tanpa sedikit pun paksaan dari siapa pun.
“Yang melatarbelakangi saya memeluk Islam adalah atas keinginan sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun, bahkan dari orang yang paling dekat dengan saya sekalipun,” terangnya, Sabtu (04/07/2026).
Ia mengaku, ketertarikannya terhadap Islam sebenarnya telah tumbuh sejak dua tahun terakhir. Saat itu ia mulai ingin bersilaturahim dengan sejumlah ulama Nahdlatul Ulama (NU), termasuk Gus Baha, serta memperdalam pengetahuan tentang ajaran Islam.
Namun, keinginan itu semakin kuat ketika hidupnya memasuki fase yang sangat berat.
Menurutnya, persoalan rumah tangga menjadi awal dari berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi. Perceraian yang dialaminya membuat dirinya kehilangan semangat hidup.
“Saya berada di posisi titik nol. Semuanya benar-benar nol. Saya bercerai dengan istri dan waktu itu saya belum bisa menerima kenyataan tersebut. Sebagai seorang laki-laki, saya tentu ingin memiliki keluarga yang sakinah dan bahagia. Saya merasa sudah berusaha memberikan yang terbaik, tetapi ternyata semua itu tidak cukup,” tuturnya.
Di tengah kondisi psikologis yang terpuruk, usaha yang selama ini dirintisnya juga mengalami kemunduran. Ia mengaku pernah memiliki perusahaan bernama CV Melia Sarana Global Mandiri, namun berbagai persoalan membuat kehidupannya semakin tidak menentu. Kondisi tersebut mendorongnya mencari pelarian dengan menggunakan narkoba.
“Bahkan saya sampai menggunakan narkoba. Parah sekali. Dalam sehari saya bisa menghabiskan setengah gram sampai satu gram. Orang tua saya tahu kondisi itu. Mereka menangis dan memohon agar saya berhenti,” ungkapnya.
Ia mengaku pernah kehilangan harapan hingga mencoba mengakhiri hidup. Namun, berbagai upaya tersebut justru menjadi titik balik yang membuatnya merenungkan kembali makna kehidupan.
Dalam masa keterpurukan itu, ia mulai sering berkunjung dan berdiskusi dengan Kiai Tirmidzi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-In’am. Saat itu dirinya masih beragama Katolik. Kehangatan yang ia rasakan dari keluarga besar pesantren perlahan mengubah pandangannya.
“Saya datang ke sini ingin mencari ketenangan. Awalnya saya merasa sudah tidak punya keluarga. Tetapi ternyata keluarga besar Pondok Pesantren Al-In’am menerima saya dengan sangat luar biasa. Bahkan makan, minum hingga rokok pun ditanggung oleh Pak Kiai Tirmidzi. Saya benar-benar merasakan kasih sayang di sini,” katanya.
Menurutnya, suasana pesantren menghadirkan kedamaian yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan.
Karena itulah, ia memutuskan mengikrarkan syahadat sebagai awal perjalanan hidup yang baru.
Baginya, memeluk Islam bukan sekadar berpindah agama, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.
“Saya ingin perpindahan agama ini bukan sekadar pindah, tetapi bisa memberi manfaat bagi orang lain. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia mengaku masih dalam tahap belajar mengenal Islam. Namun, ia optimistis dapat menjalani proses tersebut dengan bimbingan para kiai dan keluarga besar Pondok Pesantren Al-In’am.
“Di sini saya menemukan kenyamanan dan ketenangan. Saya memang masih belajar, tetapi insyaallah dengan niat memperbaiki diri dan bimbingan dari pondok pesantren, saya berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Mohon doa agar saya istiqamah,” pungkasnya.

