Image Slider

Belajar dari Taare Zameen Par: Kasih Sayang Menjadi Jalan Menemukan Potensi Anak

ADVERTISIMENT

Oleh: Ahmad Herzi )*

Film Taare Zameen Par karya Aamir Khan bukan sekadar kisah tentang seorang anak yang mengalami disleksia. Film ini merupakan kritik yang halus namun mendalam terhadap cara sebagian orang tua dan guru memandang keberhasilan seorang anak. Di tengah budaya yang sering menjadikan nilai rapor dan peringkat kelas sebagai ukuran utama kecerdasan, film ini mengingatkan bahwa setiap anak memiliki cara belajar, kecepatan berkembang, dan potensi yang berbeda.

Tokoh Ishaan Awasthi digambarkan sebagai anak yang selalu dimarahi karena tidak mampu membaca, menulis, dan mengikuti pelajaran seperti teman-temannya. Ia dicap malas, nakal, bahkan dianggap tidak memiliki masa depan. Padahal, yang dialaminya bukanlah kemalasan, melainkan disleksia, sebuah gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan mengenali huruf, membaca, dan menulis. Sayangnya, karena kurangnya pemahaman, orang-orang di sekitarnya lebih mudah memberi label daripada berusaha memahami.

Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi dalam film. Di sekitar kita masih banyak anak yang kehilangan kepercayaan diri karena terus-menerus dibandingkan dengan saudara atau teman sebayanya. Kalimat seperti, “Mengapa kamu tidak sepintar kakakmu?” atau “Lihat temanmu selalu juara kelas,” mungkin dianggap sebagai motivasi, tetapi sesungguhnya dapat menjadi luka yang tersimpan lama dalam hati seorang anak. Lama-kelamaan ia akan merasa dirinya tidak berharga karena menganggap kasih sayang dan penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang berprestasi.

Islam mengajarkan bahwa keadilan bukan berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang sama, melainkan memberikan hak sesuai dengan keadaan masing-masing. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90). Dalam mendidik anak, keadilan berarti menerima setiap anak dengan segala keunikan yang Allah anugerahkan kepadanya. Ada anak yang unggul dalam akademik, ada yang memiliki bakat seni, ada yang piawai memimpin, ada pula yang lebih menonjol dalam keterampilan atau kepedulian sosial. Memaksa semua anak berhasil dengan ukuran yang sama justru merupakan bentuk ketidakadilan.

Rasulullah SAW juga memberikan teladan tentang pentingnya berlaku adil kepada anak-anak. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, beliau menolak menjadi saksi atas pemberian hadiah kepada salah satu anak sementara saudara-saudaranya tidak mendapat perlakuan yang sama. Para ulama menjelaskan bahwa semangat hadis tersebut bukan hanya berkaitan dengan pemberian harta, tetapi juga perhatian, kasih sayang, penghargaan, dan kesempatan untuk berkembang.

Di sisi lain, film ini juga mengingatkan betapa besar peran seorang guru. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, tetapi sosok yang mampu melihat cahaya di balik setiap anak. Dalam film tersebut, perubahan hidup Ishaan dimulai ketika gurunya tidak lagi bertanya mengapa ia gagal, melainkan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang ia alami. Dari situlah bakat melukis Ishaan yang selama ini tersembunyi akhirnya menemukan ruang untuk berkembang.

Pandangan ini sejalan dengan tradisi pendidikan Islam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan bahwa seorang pendidik hendaknya mencintai murid sebagaimana orang tua mencintai anaknya sendiri. Guru tidak boleh merendahkan murid karena keterbatasannya, tetapi harus membimbing dengan kesabaran dan kasih sayang. Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan membantu manusia menjadi pribadi yang utuh.

Sejarah pun menunjukkan bahwa kesulitan belajar bukanlah akhir dari segalanya. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pengalaman tersebut adalah Thomas Alva Edison. Sejak kecil ia mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah hingga gurunya menganggapnya tidak mampu belajar seperti anak-anak lain. Ibunya kemudian mengambil peran sebagai pendidik utama di rumah dan terus menumbuhkan rasa percaya diri putranya. Meskipun para sejarawan masih berbeda pendapat mengenai apakah Edison benar-benar mengalami disleksia, kisah hidupnya tetap memberikan pelajaran berharga bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar tidak boleh dipandang sebagai anak yang gagal. Dengan dukungan, kesabaran, dan lingkungan yang percaya pada kemampuannya, ia justru tumbuh menjadi salah satu penemu paling berpengaruh dalam sejarah.

Karena itu, orang tua dan guru perlu berhati-hati dalam memberikan label kepada anak. Sebuah nilai yang rendah bukanlah gambaran utuh tentang kecerdasan seseorang. Rapor hanya mencatat kemampuan akademik dalam waktu tertentu, sedangkan masa depan seorang anak dibentuk oleh jauh lebih banyak faktor, seperti karakter, kreativitas, ketekunan, rasa ingin tahu, serta lingkungan yang mendukungnya untuk terus berkembang.

Film Taare Zameen Par mengajarkan bahwa terkadang yang dibutuhkan seorang anak bukanlah lebih banyak hukuman, melainkan lebih banyak orang yang mau memahami. Bukan lebih banyak perbandingan, melainkan lebih banyak penghargaan. Bukan lebih banyak tekanan, melainkan lebih banyak kepercayaan.

Setiap anak adalah amanah dari Allah SWT yang diciptakan dengan kelebihan dan jalan hidupnya masing-masing. Tugas orang tua bukan membentuk semua anak menjadi sama, dan tugas guru bukan memaksa semua murid mencapai keberhasilan dengan cara yang seragam. Tugas keduanya adalah menemukan potensi yang telah Allah titipkan pada setiap anak, lalu membantu mereka bertumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.

Sebab, bisa jadi anak yang hari ini dianggap paling lemah di ruang kelas, justru kelak menjadi orang yang paling banyak memberi cahaya bagi kehidupan orang lain.

*)Penulis adalah Wakil Ketua LTNNU Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga