Image Slider

Menjemput Rezeki dengan Hati yang Berdoa dan Tangan yang Bekerja

Oleh: Amrullah*)

Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menganjurkan manusia untuk berdoa kepada Allah Swt., di antaranya Surah al-Ghafir ayat 60, Surah al-A’raf ayat 55, dan Surah al-Baqarah ayat 186. Anjuran tersebut menunjukkan bahwa doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang dapat ditempuh manusia dalam memohon terpenuhinya berbagai hajat dan kebutuhan.

Doa pada hakikatnya merupakan bentuk pengharapan seorang hamba kepada Allah Swt. atas sesuatu yang diinginkan dan dibutuhkan, sementara waktu serta proses terkabulnya doa sepenuhnya berada dalam pengetahuan dan ketentuan-Nya. Dalam konteks ini, doa tidak hanya menjadi ungkapan permohonan, tetapi juga mencerminkan kesadaran manusia bahwa dirinya memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan dari Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Hal yang sama berlaku dalam urusan rezeki. Kelancaran dan kemudahan dalam memperoleh rezeki dapat diupayakan dengan memohon kepada Sang Pencipta melalui doa. Manusia menyadari bahwa rezeki merupakan bagian dari ketentuan Allah Swt., sehingga permohonan kepada-Nya menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan. Namun, rezeki tidak semata-mata berkaitan dengan harta, uang, rumah, sawah yang luas, maupun pekerjaan. Makna rezeki jauh lebih luas dan memiliki beragam bentuk serta tingkatan.

Oleh karena itu, mengharapkan rezeki tidak cukup hanya dengan menengadahkan tangan ke langit dan menunggu datangnya harapan seolah-olah rezeki akan turun dengan sendirinya. Doa perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata. Manusia dituntut untuk berusaha, bekerja dengan sungguh-sungguh, membangun etos kerja, serta mengambil berbagai langkah yang memungkinkan untuk menjemput rezeki tersebut.

Dengan demikian, doa menjadi bentuk ketergantungan spiritual kepada Allah Swt., sedangkan ikhtiar menjadi wujud kesungguhan manusia dalam menjalankan tanggung jawabnya. Keduanya merupakan bagian yang saling melengkapi dalam proses manusia mencari dan memperoleh rezeki.

Suatu hari, Imam Abu Hanifah mendengar seseorang mengeluhkan kemiskinan dan kelaparan dari balik jendela rumahnya. Beliau kemudian memberikan bantuan berupa uang disertai nasihat agar orang tersebut tidak hanya mengeluh dan meminta kepada Allah, tetapi juga berusaha mencari rezeki dengan sungguh-sungguh.

Ketika orang itu kembali meminta bantuan pada hari berikutnya, Abu Hanifah kembali memberinya uang sekaligus menegaskan bahwa doa harus disertai ikhtiar dan kerja keras. Nasihat tersebut menyadarkan orang itu dari kemalasannya, sehingga ia mulai keluar rumah mencari pekerjaan dan mengubah hidupnya dengan bekerja keras, berusaha, serta tidak berputus asa kepada pertolongan Allah (hal 11).

Buku ini tidak hanya menyajikan susunan doa, tetapi juga dilengkapi kisah dan nasihat yang berkaitan dengan doa yang dibahas, sehingga pembaca tidak sekadar membaca rangkaian doa, melainkan dapat memahami dan menghayatinya serta membangun keyakinan bahwa doa dapat dikabulkan oleh Allah Swt.

Doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis tersebut menjadi tuntunan untuk memohon dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa membutuhkan, sekaligus mengajarkan adab dan akhlak dalam berdoa. Buku ini juga menegaskan bahwa doa perlu disertai ikhtiar nyata, karena harapan yang dipanjatkan kepada Allah harus dijemput melalui usaha, kesungguhan, dan etos kerja yang tinggi agar keinginan serta kebutuhan dapat diupayakan sesuai harapan dan ketentuan-Nya.

Rezeki tidak semata-mata dipahami sebagai hasil berupa uang atau materi, tetapi juga mencakup kelapangan, ketenangan, kesempatan, dan keberkahan hidup yang merupakan pancaran dari doa, kesungguhan dalam berusaha, dan keyakinan kepada Allah Swt. Karena itu, buku ini mengajak pembaca menjemput harapan dengan memadukan doa, usaha, kebersihan hati, dan tawakal setelah berikhtiar.

Doa-doa pilihan, refleksi mendalam, dan tuntunan hidup yang membumi disajikan sebagai pengingat bahwa spiritualitas bukan sekadar sikap menunggu, melainkan energi untuk bergerak dan berusaha. Setiap halaman menanamkan harapan, memelihara semangat, serta mengajarkan cara mengetuk pintu-pintu rezeki dengan penuh makna. Bagi siapa pun yang ingin hidup lebih berkah, bermakna, dan dekat dengan Allah Swt. sebagai Sang Pemberi Rezeki, buku ini menjadi sahabat perjalanan sekaligus pengingat bahwa doa dan ikhtiar perlu berjalan beriringan.

Judul: Doa Membuka Pintu Rezeki, Melejitkan Etos Kerja, Menangkap Mukjizat dalam hidup
Penulis             : Islah Gusmian
Penerbit           : Qaf
Cetakan           : Oktober 2025
Tebal                : 236 hlm/SC/Creamy Paper
ISBN               : 978-634-04-3116-2

*Guru SMP Nahdatul Ulama Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga