Image Slider

Thuma’ninah Digital: Membaca Ar-Ra’d Ayat 28 di Tengah Bisingnya Algoritma

ADVERTISIMENT

Oleh: M. Deni Hidayatullah

Bagi manusia modern, pagi hari tidak lagi dijemput dengan regangan matang atau hirupan napas dalam-dalam. Refleks utama yang menggerakkan jemari saat kelopak mata pertama kali terbuka adalah meraba kasur, memburu benda persegi bernama ponsel. Sebelum kesadaran penuh terkumpul, layar gawai sudah menyala, dan beranda media sosial segera menjadi menu sarapan utama yang melahap perhatian kita.

Seketika itu pula, kita langsung terjebak dalam pusaran doomscrolling. Ibu jari bergerak mekanis menggulirkan layar tanpa henti, menyaksikan limpahan kabar buruk, perdebatan politik, hingga konflik antar-netizen. Sebuah riset dalam Jurnal Komunikasi Islam menyebutkan bahwa paparan konstan terhadap narasi konflik siber seperti ini secara nyata mengikis kedamaian psikologis dan memicu kecemasan akut bagi pembacanya.

Belum usai kegelisahan itu, linimasa kembali menghantam kita dengan badai Fear of Missing Out (FOMO). Kilasan kesuksesan semu dan pamer pencapaian (flexing) di Instagram dengan cepat melahirkan rasa tidak aman (insecure). Data dari Jurnal Psikologi Islam bahkan menegaskan bahwa tingginya durasi menatap layar berbanding lurus dengan meningkatnya rasa minder dan hilangnya rasa syukur atas hidup sendiri.

Rangkaian kegelisahan ini sesungguhnya bukan sekadar masalah psikologis biasa yang bisa disembuhkan sekadar dengan menutup aplikasi. Fenomena ini adalah alarm nyaring atas terkikisnya kesehatan mental sekaligus spiritual kita akibat hilangnya kemudi diri di ruang siber. Di titik inilah, pencarian atas kedamaian batin atau thuma’ninah digital menjadi sebuah urgensi mendesak yang harus dihadirkan kembali.

Untuk memahami mengapa kita begitu sulit lepas dari jeratan gawai, kita harus menguliti cara kerja attention economy (ekonomi perhatian). Aplikasi media sosial modern sejatinya tidak pernah dirancang secara netral; mereka sengaja dikembangkan dengan psikologi manipulatif untuk memanen perhatian kita. Setiap detik yang kita habiskan untuk menatap layar adalah komoditas bisnis yang dikonversi menjadi keuntungan korporasi teknologi.

Di balik layar, algoritma bekerja dengan sengaja mengumpan emosi-emosi ekstrem manusia. Sebuah artikel dalam Jurnal Sosiologi mengonfirmasi bahwa konten yang memicu amarah, kecemasan, kontroversi, dan rasa iri selalu diberi panggung utama karena terbukti membuat pengguna bertahan lebih lama. Akibatnya, lini masa kita sengaja didesain untuk menjadi ruang bising yang penuh ketegangan emosional demi mengejar metrik bisnis.

Realitas ini memicu pergeseran definisi moral decline (penurunan moral) di era siber. Kerusakan moral digital tidak lagi melulu soal penyebaran hoaks atau ujaran kebencian secara vulgar. Menurut ulasan dalam Jurnal Etika Sosial, penurunan moral yang paling subtil justru terjadi ketika kita secara sukarela menyerahkan kontrol kebahagiaan, emosi, dan kedamaian batin kita untuk disetir oleh kalkulasi matematika algoritma.

Dampak paling fatal dari tirani algoritma ini adalah terkikisnya orisinalitas diri manusia modern. Kita perlahan kehilangan kemampuan alami untuk merenung dalam kesunyian karena otak kita terus-menerus dijejali stimulus informasi tanpa jeda. Ketika ruang sunyi di dalam jiwa itu runtuh, manusia akan kehilangan kedalaman spiritualnya dan berubah menjadi sekadar konsumen digital yang pasrah pada arus beranda.

Di tengah kepungan bisingnya algoritma, Al-Qur’an menyediakan jangkar teologis yang kokoh melalui QS. Ar-Ra’d ayat 28. Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya dengan mengingat (zikir) kepada Allah, hati manusia akan menemukan kedamaian sejati (thuma’ninah). Penegasan ini menjadi sangat relevan sebagai obat penawar bagi jiwa-jiwa masyarakat siber yang gampang lelah dan dipenuhi kecemasan digital akibat doomscrolling.

Namun, di era digital ini, makna kata zikir perlu direkonstruksi agar tidak mandek sebagai ritual lisan di atas sajadah semata. Sebuah ulasan dalam Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menawarkan perspektif bahwa zikir dalam konteks modern harus dimaknai sebagai kesadaran penuh (mindfulness) akan kehadiran Tuhan. Kesadaran teologis inilah yang membentengi kontrol diri dan jemari kita saat berselancar di dunia virtual.

Dari sini, kita bisa merumuskan konsep thuma’ninah siber, yaitu kapasitas psikospiritual yang membuat jiwa tetap kokoh di tengah badai informasi. Berdasarkan kajian dalam Jurnal Psikologi Islam, ketenangan ini bermanifestasi dalam bentuk imunitas diri agar tidak mudah goyah oleh standar kesuksesan materialistik di Instagram. Jiwa yang thuma’ninah tidak akan mempan terkena racun FOMO karena memiliki kepuasan batin (qana’ah).

Konsep ketenangan ini berkelindan erat dengan etika tabayyun dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 yang sering dikaji dalam sosiologi komunikasi. Di era algoritma, tabayyun tidak boleh lagi diartikan sebatas menyaring informasi benar atau salah secara tekstual. Artikel dalam Jurnal Etika dan Budaya menegaskan bahwa tabayyun siber juga mencakup kurasi mental: menyaring apakah sebuah konten layak dikonsumsi atau justru merusak jiwa.

Pada akhirnya, refleksi ini menuntun kita pada tafsir atas konsep zuhud modern yang lebih memanusia di abad digital. Zuhud hari ini bukan berarti membuang ponsel pintar atau mengasingkan diri dari peradaban internet ke tempat sunyi. Esensi zuhud siber adalah kemampuan menaruh media sosial cukup di genggaman tangan sebagai alat, tanpa membiarkannya masuk dan menjajah ruang paling sakral di dalam hati.

Sebagai langkah konkret menjemput ketenangan jiwa, kita perlu menerapkan aksi nyata berupa digital detox atau puasa media sosial secara berkala. Sebuah eksperimen sosial yang dimuat dalam Jurnal Kesehatan Mental Masyarakat membuktikan bahwa mengambil jeda secara sadar dari dunia siber efektif menurunkan tingkat stres. Dalam Islam, ikhtiar ini bernilai ibadah karena merupakan bentuk nyata dari upaya menjaga keselamatan jiwa (hifzh an-nafs).

Puasa digital ini dapat dimulai dengan hal sederhana, seperti disiplin membatasi waktu layar (screen time) dan mematikan notifikasi aplikasi yang tidak mendesak. Menurut ulasan dalam Jurnal Konseling Mandiri, regulasi diri dalam membatasi stimulasi gawai adalah bentuk penegakan etika terhadap tubuh dan pikiran sendiri. Langkah awal ini memberi ruang bagi otak kita untuk beristirahat dari bombardir informasi yang melelahkan.

Dengan mengurangi durasi di ruang siber, kita dapat mengembalikan fungsi dan kehangatan di ruang nyata secara optimal. Artikel dalam Jurnal Sosiologi Kontemporer menyebutkan bahwa pengalihan waktu luang untuk berinteraksi langsung dengan keluarga atau membaca buku mampu merekatkan kembali modal sosial yang sempat renggang. Aktivitas riil seperti inilah yang pada akhirnya menumbuhkan solidaritas dan empati yang memanusia.

Pada akhirnya, berislam secara kaffah (menyeluruh) di abad ke-21 menuntut kita untuk bersikap bijak dan beretika di balik layar ponsel. Hasil ulasan dalam Jurnal Kebudayaan dan Islam mengingatkan bahwa kesalehan seorang Muslim hari ini juga diuji dari bagaimana ia mengendalikan jemarinya di ruang siber. Ruang digital harus mampu kita taklukkan sebagai sarana menebar kemaslahatan, bukan justru membiarkannya menjajah kedamaian batin.

Kunci kedamaian hidup manusia modern tidak terletak pada seberapa canggih algoritma media sosial yang kita ikuti setiap hari. Sebuah studi etika dalam Jurnal Filsafat Kontemporer menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bermula ketika kita berani mengambil sikap untuk merebut kembali kemudi jiwa yang sempat terkooptasi lini masa. Matikan layar gawai Anda sejenak, tataplah dunia nyata di sekitar, dan rawat kembali thuma’ninah di dalam dada.

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah yang aktif menaruh perhatian pada isu-isu sosial, pendidikan, dan keagamaan.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga