Image Slider

Halaqah Parenting di Al-Huda Gapura, Bahas Pola Asuh Tanpa Tekanan

ADVERTISIMENT

Gapura, NU Online Sumenep

 Madrasah Al-Huda menyelenggarakan halaqah pendidikan pola asuh anak bertema “Mendampingi Tumbuh Kembang Anak Tanpa Tekanan dan Perbandingan” di halaman Madrasah Aliyah Al-Huda, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini diikuti wali siswa baru dari jenjang PAUD hingga Madrasah Aliyah, serta dihadiri para guru dan abdi Al-Huda.

Halaqah menghadirkan praktisi pendidikan anak usia dini Nunung Fitriana, M.Pd. dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep H. Mohammad Iksan, S.Pd., M.T. sebagai narasumber.

Ketua Yayasan Miftahul Huda, A. Quraisyi, dalam sambutannya mengatakan kegiatan tersebut sengaja mengundang para ibu karena memiliki kedekatan yang lebih intens dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga mendapat perhatian serius dari keluarga.

“Kami sengaja mengundang para ibu karena ibu lebih dekat dan lebih memahami anak. Kami berharap orang tua ikut berperan aktif mendidik anak, tidak sekadar menyerahkannya kepada guru. Bangun komunikasi yang baik dengan madrasah sehingga setiap persoalan pendidikan dapat diselesaikan bersama, bukan melalui narasi yang tidak jelas di luar Al-Huda,” ungkapnya

Dalam pemaparannya, Nunung Fitriana menyoroti masih banyaknya orang tua yang memberikan tekanan kepada anak. Khusus di desa salah satunya kerena adanya orang tua yang salah memahami haflatul imtihan. Para orang tua memaham imtihan sebagai ajang menjadi juara, bukan ajang mengasah bakat.

“Anak harus bahagia terlebih dahulu, baru kemudian bisa berprestasi. Pada masa golden age, jangan sampai anak memiliki pengalaman buruk terhadap proses belajarnya,” kata Nunung.

Pengurus PC Fatayat NU Sumenep ini menjelaskan bahwa pengasuhan terhadap anak harus berfokus pada tindakan dan peran yang dilakukan orang tua dengan menggunakan hati dan perasaan. Itulah sebabnya disebut parenting, bukan childing. Ia menambahkan, orang tua generasi milenial cenderung lebih otoriter, sedangkan orang tua generasi Z lebih kreatif dan humanis, meski memiliki tantangan berupa kecenderungan over informasi dari gawai. Mereka hanya menerima dan menyetujui informasi tanpa menganalisanya.

Nunung juga mengingatkan pentingnya orang tua menyediakan daya dukung sesuai target yang diberikan kepada anak. Jika orang tua ingin anak menguasai bidang tertentu, maka lingkungan belajar, media, dan sarana pendukungnya juga harus disiapkan.

Di akhir pemaparannya ia menegaskan bahwa dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak, orang tua harus melakukan lima hal: Pertama, menentukan tujuan. Kedua, up grade pengetahuan. Ketiga, mengasah metodologi. Keempat, melakukan pengasuhan dengan menjadikan anak sebagai subjek yang interdependen melalui keteladanan,  komitmen,  dan konsistensi, dan yang kelima adalah vibrasi. (getatan batin)  orang tua sangat menentukan segalanya, semisal getarkan doa yang baik dalam hati untuk si anak.

“Vibrasi adalah getaran batin. Orang tua harus menggetarkan batinnya dengan doa yang baik kepada anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Mohammad Sadik mengajak para orang tua meninggalkan pola asuh yang otoriter. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda sehingga tidak boleh dipaksa memenuhi target yang sama dengan capaian orang tuanya.

“Jangan mendidik anak secara otoriter. Anak tidak harus ditarget memiliki kemampuan yang sama dengan orang tuanya. Yang terpenting adalah menciptakan rumah yang mampu menumbuhkan spirit anak untuk berkembang,” ujarnya.

Rangkaian halaqah ditutup dengan doa yang dipimpin guru sepuh Madrasah Al-Huda, K. Munir, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama para narasumber, guru, dan sebagian peserta.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga