KOLAK KACANG HIJAU
: teringat ibu
Ibu membuka panci yang mendidih
Kacang hijau mulai pecah membelah dadanya
Senyum ibu mekar di bibir panci
Dan tangannya mengecilkan api
Ini makan ke sekian kali
Semoga kau menyukai
Bismillah, lalu kau suap kacang dan kuah
Tambah irisan roti di sampingnya adalah
Hati ibu yang higroskopis menyerap segala rasa dalam hidup
Berbahagialah,
Masih ada irisan-irisan semangka
Merah hati ibu setia
Melayani sepanjang rasa.
Sampang, 10 April 2026
AKU INGAT IKAL RAMBUTMU
sepiring mi goreng bagai ikal rambutmu
terurai menyebar wangi ke udara
beberapa iris telor dadar lintang-melintang
dilengkapi taburan kecil sambal goreng
sayur, mie dan bawang goreng bagai kebun bunga
memanggil kupu-kupu dan serangga
ia memanggil lapar yang bernyanyi dalam perut
menyantap potongan tempe dan tahu goreng
sementara di halaman angin nêmor
kencang bertiup membawa kabar makmur
otongan miring buah timun membawa pesan petani
sebagai pelengkap dalam sajian nutrisi
disela kunyahan,
kalori hangus terbakar dalam tungku pencernaan
yang halus terserap
yang ampas dilepas
butiran-butiran apel di piring
enak dalam pandang,
kecut dalam sesapan
Sampang, 13 April 2026
NASI AYAM BUMBU HITAM
Yang pedas, rasa di ujung lidah yang terbakar
Cabai, bawang, dan jahe dengan wangi serreh di kebun belakang
Bersatu dalam ulekan melumur tubuh sebadan
Hidup terasa pedas saat keringat mengucur di dahi
Banyak persoalan dan tuntutan kebutuhan membentur pikiran
Percayalah, penyedap yang dituang di atas wajan
hilangkan bau yang menguap dari gelap percakapan
Kunyit yang kuning desinfektan lenyapkan amis olahan
Maka jangan pernah kau anggap remeh rempah dalam adonan
Bumbu-bumbu yang dipasang adalah pesan yang harus sampai
Bahwa yang buruk rupa belum tentu rusak tabiatnya
Hitam ayam goreng diangkat dari atas kompor
Tubuh pasrah menyerahkan dada untuk santapan bersama
Dada yang busung menyimpan kisah perbukitan tanah kapur
Kekar bahu penyiram tembakau gunung dan
Otot lengan nelayan Pasongsongan
Daging yang berminyak
Aroma lepas pantai pagerungan dan pesisir camplong
Tenggelam dalam terusan selat Madura
Beginilah nasib sebagai santapan
Disobek dan dicuil hingga tinggal tulang
Habis nikmat tinggal pedas di bibir siang
Sampang, 15 April 2026
SOTO
aku terima makan siang ini memgunyah
sejarah adaptasi dari negeri tirai
kutambahi daging kata yang dipotong dari
kisah-kisah gelap percakapan dibalik meja makan
perjalanan lewat pesisir utara, sampai pula ke desaku
di tepian bukit tempat tumbuh batu-batu dan pohon kayu
nasi putih bentangan sawah berkilau oleh cahaya pagi
cahaya matamu berbinar meniti pematang hari
suara angin susuri batu-batu merangkul lembah haru
cerita tumbuh bagai tabur kecambah disela bihun
pada setiap suapan teringat perjalanan sejarah yang selalu mencari arah
berbaur tanpa harus bertumpah darah
ada nasi ada lontong
ada ubi ada kentang
pilih sesuai selera tuan
namun jangan lupa percikkan irisan jeruk pecal
biar yang lemak terasa segar
yang gurih terasa nyaman
tuangkan sambal,
pelengkap keseruan pedas di ujung lidah
dan
tumpahkan keringat bahasa yang mulai begah
Sampang, 16 April 2026
Hidayat Raharja, Guru, menulis esai dan puisi. Pernah memenangkan beberapa lomba yang diselenggarakan kementerian pendidikan dan majalah sastra horison. Buku puisi : Lautan, Ibu dan Anak (2012), “Kangean” (2016), “Kloning:Persilangan Biologi dan Puisi” (2018). Kumpulan Esai Pendidikan “Ruang Kelas yang Terus Bergerak, (basabasi, 2024). Penerima Anugerah Sutasoma Bidang Sastra dari Balai Bahasa Jawa Timur (2024), Anugerah Madura Cendekia dari Sivitas Kothēka (2026). Saat ini tinggal di Sampang, selain menulis rajin membuat drawing dan sketsa di kertas limbah.

