Dasuk, NU Online Sumenep
Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Dasuk menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di tengah masyarakat. Konferensi dinilai tidak semata-mata sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang muhasabah untuk memastikan organisasi semakin hadir bagi jamaah dan jamiyyah.
Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep dalam sambutan pada Konferensi MWCNU Dasuk,Ahad (23/08/2026).
Menurutnya, konferensi merupakan forum musyawarah tertinggi dalam struktur perkumpulan Nahdlatul Ulama. Karena itu, forum tersebut harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis ke depan.
“Konferensi bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum muhasabah untuk kebaikan serta memperkuat kehadiran NU bagi jamaah dan jamiyyah,” demikian pokok sambutan Ketua PCNU Sumenep.
Ia menekankan pentingnya posisi MWCNU sebagai garda terdepan organisasi di tingkat kecamatan. MWCNU, kata dia, memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat melalui jaringan ranting NU sehingga memiliki pengetahuan yang lebih konkret mengenai berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Persoalan tersebut mencakup sejumlah bidang strategis, mulai dari keagamaan, pendidikan hingga ekonomi. Kedekatan dengan masyarakat tersebut menjadi modal penting bagi MWCNU dalam menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan warga.
“MWCNU adalah garda terdepan sebagai wakil cabang yang paling tahu persoalan masyarakat melalui ranting-ranting di bawah naungannya,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Program Harus Terukur dan Berdampak
Ketua PCNU Sumenep juga mengingatkan agar program kerja yang dirumuskan MWCNU tidak berhenti pada tataran administratif. Setiap program harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurut dia, program kerja juga perlu dikemas secara menarik dan meriah sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan terbaik kepada warga sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan para mu’assis atau pendiri NU.
Dengan demikian, konferensi diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga melahirkan arah program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Konferensi MWCNU Dasuk sendiri dihadiri berbagai unsur masyarakat dan organisasi. Di antaranya tokoh pesantren dan masyarakat, pengurus ranting NU, jajaran PCNU, kepala desa, remaja masjid, serta badan otonom NU seperti Gerakan Pemuda Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa MWCNU memiliki basis sosial yang luas dan tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan masyarakat di tingkat lokal.
Di akhir sambutannya, Ketua PCNU Sumenep menyampaikan doa dan harapan agar MWCNU Dasuk terus berkembang dan semakin memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Semoga keberadaan MWCNU Dasuk semakin jaya dan berkembang,” menjadi harapan yang disampaikan dalam penutupan sambutannya.
Konferensi tersebut diharapkan menjadi titik penting bagi penguatan organisasi NU di tingkat kecamatan, terutama dalam memperkuat fungsi pelayanan kepada jamaah serta merespons berbagai persoalan masyarakat melalui program-program yang terukur dan berdampak.

