Image Slider

Memahami Islam dari Masa Nabi hingga Era Modern

ADVERTISIMENT

Oleh: Amrullah*

Memahami agama Islam bukanlah proses yang sederhana, melainkan memerlukan pembelajaran yang berkelanjutan serta bimbingan dari pihak yang memiliki otoritas keilmuan, seperti guru, syaikh, atau muallim. Kehadiran figur yang kompeten dan kredibel dalam bidang keislaman menjadi penting agar ajaran Islam dapat dipahami secara tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Dalam buku ini, penulis menawarkan dua pendekatan dalam memahami Islam. Pertama, pembaca dapat mengikuti alur pembahasan secara sistematis dari awal hingga akhir. Kedua, pembaca juga diberi kebebasan untuk memulai dari bagian akhir menuju awal, sesuai dengan preferensi masing-masing.

Pendekatan membaca secara terbalik dinilai lebih fleksibel dan cenderung cocok bagi pembaca yang mudah merasa jenuh, karena memungkinkan mereka langsung mengakses bagian-bagian yang dianggap menarik. Sementara itu, pendekatan membaca secara berurutan lebih sesuai bagi pembaca yang menyukai ketelitian dan proses pemahaman yang bertahap serta mendasar.

Pemahaman Islam pada masa sekarang tentu berbeda dengan pada masa Nabi. Pada masa Nabi, ajaran diterima langsung dari beliau dengan cara bertanya. Penerimaan tersebut berupa sabda dan melalui penyaksian langsung. Melalui sabda, pemahaman dapat diperoleh sekaligus menghilangkan hambatan dalam memahami.

Dalam memahami kata-kata, dikenal istilah lingua franca (al-lughah al-musytarakah), yaitu bahasa yang digunakan bersama. Dalam diri pendengar, terjadi proses penerjemahan makna secara cepat terhadap kata-kata yang didengar. Oleh karena itu, apabila seseorang tidak memahami bahasa tersebut, maka ia tidak akan mampu memahami makna dari kata-kata itu. Dalam bahasa arab ada lima tingkatan-tingkatan dalam memahami bahasa.

Selanjutnya, untuk memperoleh pemahaman Islam yang komprehensif serta meminimalkan hambatan dalam proses pemaknaan, diperlukan pemahaman terhadap cara para sahabat dalam memahami ajaran Islam. Para sahabat merupakan individu yang secara langsung menyaksikan Nabi. Oleh karena itu, mereka memperoleh pembelajaran tidak hanya melalui kata-kata yang disampaikan Nabi, tetapi juga melalui pengamatan terhadap praktik beliau. Di sisi lain, Nabi juga mengamati para sahabat serta memastikan bahwa pemahaman mereka sesuai, bahkan melakukan koreksi apabila terdapat kekeliruan.

Kombinasi antara menyaksikan, berpartisipasi, dan mendengarkan—dengan mempertimbangkan kondisi serta konteks—menjadikan pemahaman para sahabat bersifat kuat dan mendalam. Dengan demikian, apabila suatu pemahaman terhadap hadis atau ayat tersebar secara luas di kalangan mereka, hal tersebut menunjukkan bahwa pemahaman tersebut memiliki tingkat keabsahan yang tinggi. Selain itu, faktor waktu dan media penyampaian tidak memengaruhi keaslian maupun keabsahan kata-kata yang disampaikan.

Memahami Islam tidak cukup hanya membaca teks, tetapi perlu metode yang benar, bimbingan ulama, serta keseimbangan antara akidah, akhlak, dan syariat. Dengan pendekatan ini, Islam dapat dipahami secara mendalam, relevan, dan terhindar dari kesalahan penafsiran.

Buku ini berupaya mengkaji struktur keilmuan dalam agama Islam secara sistematis. Untuk mencapai pemahaman yang tepat, diperlukan suatu metodologi yang jelas dan terarah. Penulis menekankan bahwa ketepatan metode akan sangat menentukan kualitas pemahaman yang dihasilkan.

Dalam pembahasannya, penulis menguraikan berbagai aspek penting terkait metodologi tersebut, sekaligus mengajak pembaca untuk merefleksikan sejumlah pertanyaan mendasar. Misalnya, jika Islam memiliki metodologi yang dapat dijadikan acuan, mengapa tetap muncul beragam perbedaan pemahaman, bahkan hingga melahirkan penafsiran yang menyimpang?

Lebih lanjut, buku ini juga mengkaji bagaimana cara memastikan bahwa metode yang digunakan dalam memahami ajaran Islam sudah tepat, serta bagaimana mengukur kebenaran pemahaman yang dihasilkan. Penulis juga membahas kapan teks Al-Qur’an dan hadis harus dipahami secara literal, dan kapan diperlukan pendekatan kontekstual yang mempertimbangkan tujuan serta substansi ajaran.

Selain itu, dibahas pula sejauh mana realitas sosial dan perkembangan zaman memengaruhi cara umat Islam memahami ajaran agamanya. Pertanyaan lain yang diangkat adalah mengenai relasi antara Al-Qur’an dan Islam itu sendiri—apakah keduanya identik atau Islam memiliki cakupan yang lebih luas.

Tidak kalah penting, buku ini menyoroti posisi hadis Nabi terhadap Al-Qur’an, termasuk pembedaan antara aspek yang bersifat keagamaan (normatif) dan yang bersifat keduniaan (kontekstual) dalam hadis, serta bagaimana keduanya seharusnya dipahami.

Pada akhirnya, penulis juga mengulas kemampuan Islam dalam merespons berbagai persoalan kontemporer yang sebelumnya tidak pernah terjadi, dengan menekankan pentingnya pendekatan metodologis yang kokoh dan adaptif.

Melalui pembahasan tersebut, buku ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai “anatomi” struktur keilmuan Islam, disertai upaya analisis yang kritis, jujur, dan mendalam.

Judul                : Bagaimana Kita Memahami Agama Ini?
Penulis             : Prof. Dr. Alaa Abdul Hamid
Penerbit            : Qaf
Cetakan            : Februari 2025
Tebal                : 404 halaman; Bookpaper
ISBN                : 978-623-10-6354-0

*Guru SMP Nahdatul Ulama Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga