Oleh: Amrullah*)
Dalam salah satu bagian kisah yang disajikan, pembaca diajak memahami berbagai kondisi emosional yang sering dialami manusia, seperti perasaan hampa, kesepian, serta luka batin akibat pengalaman hidup yang tidak menyenangkan. Melalui cerita tersebut diperkenalkan sebuah pendekatan spiritual yang diyakini mampu memberikan perubahan besar dalam kehidupan, yaitu dengan membiasakan diri melaksanakan shalat tahajud.
Kisah ini menggambarkan perjalanan hidup seseorang yang dipenuhi berbagai pengalaman traumatis sejak masa kecil hingga dewasa. Beragam peristiwa tersebut sempat memengaruhi kondisi mental dan emosionalnya secara mendalam. Namun, titik perubahan dalam kehidupan spiritualnya mulai terlihat ketika ia mulai membiasakan diri melaksanakan shalat tahajud pada bulan Maret 2023.
Dalam pengalamannya, ibadah tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga memberikan ketenangan batin serta membantu proses pemulihan luka emosional yang selama ini dirasakan. Pada saat bermunajat di sepertiga malam terakhir, ia merasakan hadirnya ketenangan yang mampu mengurangi beban batin yang sebelumnya terasa begitu berat. Melalui pengalaman tersebut, shalat tahajud diyakini memiliki peran penting dalam memberikan ketenteraman jiwa sekaligus menjadi jalan spiritual untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Kisah ini juga menggambarkan perjalanan batin seseorang yang mengalami krisis psikologis yang cukup mendalam serta proses pemulihan melalui pendekatan spiritual. Diceritakan bahwa pada tahun 2022 ia mengalami masa-masa sulit, ketika berbagai tekanan hidup, trauma masa lalu, dan kekecewaan terhadap lingkungan sosial membuatnya merasa terasing, kehilangan harapan, serta mengalami konflik batin yang berat. Kondisi tersebut bahkan memunculkan rasa putus asa dan kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri (hal. Viii).
Krisis psikologis yang dialami tidak hanya berdampak pada kondisi emosional, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Ia mengalami penurunan motivasi, kehilangan minat terhadap aktivitas sosial, serta melemahnya kedisiplinan dalam menjalankan kewajiban spiritual. Berbagai faktor seperti stagnasi dalam pencapaian karier, rasa kesepian, serta melemahnya keimanan turut memperburuk keadaan yang dihadapi.
Meski demikian, perubahan perlahan mulai terjadi ketika ia kembali membangun kedekatan spiritual dengan Allah melalui doa dan munajat. Pada awalnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menyalurkan berbagai emosi yang selama ini terpendam, seperti kesedihan, kemarahan, dan kelelahan mental. Seiring berjalannya waktu, aktivitas spiritual tersebut berkembang menjadi bentuk komunikasi batin yang memberikan ketenangan sekaligus menumbuhkan harapan baru dalam hidupnya.
Selain memperbaiki kualitas spiritual, ia juga mulai melakukan berbagai perubahan positif dalam gaya hidupnya. Ia berusaha mengurangi aktivitas yang kurang bermanfaat, memperbaiki pola hidup, membaca buku-buku pengembangan diri, serta melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui. Namun demikian, ia menyadari bahwa proses pemulihan yang lebih mendalam hanya dapat dicapai melalui peningkatan kualitas ibadah kepada Allah.
Perubahan yang paling signifikan terjadi ketika ia kembali melaksanakan shalat secara konsisten dan mendalami praktik shalat tahajud sebagai sarana untuk memperkuat kedekatan spiritual dengan Allah. Melalui ibadah tersebut, ia merasakan ketenangan batin yang sebelumnya sulit diperoleh serta menemukan kembali makna kehidupan yang lebih mendalam. Dalam kisah ini, shalat tahajud dipandang sebagai salah satu ibadah yang memiliki peran penting dalam proses pemulihan psikologis sekaligus transformasi spiritual (hal 10).
Kisah tersebut juga memuat empat puluh kesaksian yang berkaitan dengan pengalaman selama melaksanakan shalat tahajud. Kesaksian-kesaksian tersebut berhubungan dengan berbagai harapan dan doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam terakhir, yang menurut pengalamannya memberikan dampak nyata dalam kehidupan. Pengalaman-pengalaman tersebut dipandang sebagai bentuk pertolongan serta kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Salah satu kisah yang diceritakan berkaitan dengan seorang sepupu perempuan yang sangat berharap dapat segera memiliki anak. Sepupu tersebut baru saja menikah dan telah memasuki usia akhir tiga puluhan, sehingga ia menyadari bahwa peluang untuk hamil tidak lagi terlalu panjang. Kedekatan hubungan di antara mereka menumbuhkan keinginan yang kuat untuk melihat sepupunya merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Sebagai bentuk kepedulian sekaligus rasa terima kasih atas dukungan emosional yang selama ini diterima, doa-doa khusus kemudian dipanjatkan melalui shalat tahajud agar sepupunya dikaruniai keturunan.
Permohonan tersebut disampaikan dengan penuh kesungguhan kepada Allah pada waktu sepertiga malam terakhir. Menurut penuturan dalam kisah tersebut, sekitar tiga bulan setelah doa-doa tersebut dipanjatkan, sepupunya dinyatakan hamil secara tidak terduga. Peristiwa tersebut kemudian diyakini sebagai salah satu bentuk terkabulnya doa yang dipanjatkan melalui shalat tahajud. Rasa syukur yang mendalam pun diungkapkan atas karunia yang diberikan oleh Allah (hal 144).
Pengalaman tersebut merefleksikan kekuatan doa yang dipanjatkan melalui shalat tahajud. Buku How Tahajjud Saved My Life merangkum beragam narasi menyentuh yang sarat akan hikmah, mengilustrasikan bagaimana ibadah malam ini menjadi titik balik transformasi kehidupan menuju kebaikan.
Judul : How Tahajjud Saved My Life, Kisah Nyata tentang Mukjizat Shalat Malam dan Panduan Mempraktikkannya
Penulis : Saba Jaleel
Penerbit : Qaf
Cetakan : November 2025
Tebal : 231 hlm/SC/Bookpaper
ISBN : 978-634-04-4537-4
*) Guru SMP Nahdatul Ulama.

