Image Slider

Orang Madura dan Tradisi Belajar yang Mulai Terlupakan

ADVERTISIMENT

Oleh: Moh. Riski Kohar*)

Di banyak kampung di Madura, suara anak-anak mengaji selepas adzan Maghrib masih terdengar dari langgar dan surau. Namun, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan, apakah tradisi belajar yang dahulu membentuk karakter masyarakat Madura masih hidup sekuat yang kita bayangkan, atau perlahan mulai tergeser oleh ritme kehidupan digital?

Dahulu, langgar bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Di sanalah anak-anak belajar menghormati guru, memahami adab, melatih kesabaran, dan mengenal arti tanggung jawab. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pelajaran, tetapi juga melalui keteladanan. Ilmu dan akhlak tumbuh bersama.

Tradisi itulah yang menjadi fondasi pendidikan masyarakat Madura jauh sebelum sekolah berdiri di setiap desa dan teknologi menghadirkan pengetahuan hanya melalui sentuhan jari. Langgar, surau, dan pesantren bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang pembentukan karakter. Di sanalah lahir keyakinan bahwa ilmu adalah jalan memuliakan manusia.

Bagi orang Madura, belajar tidak pernah dimaknai semata-mata sebagai jalan memperoleh pekerjaan atau mengejar gelar akademik. Belajar adalah proses memanusiakan manusia. Ilmu dipandang sebagai cahaya yang harus melahirkan akhlak, bukan sekadar kecerdasan. Karena itu, seorang anak tidak hanya dididik agar pandai membaca kitab, tetapi juga diajarkan menghormati orang tua, memuliakan guru, menjaga amanah, serta hidup berdampingan dengan masyarakat.

Pandangan tersebut tercermin dalam falsafah bhuppa’, bhabbu’, ghuru, rato, sebuah tata nilai yang menempatkan penghormatan kepada orang tua, guru, dan pemimpin sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Falsafah ini mengajarkan bahwa ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus berjalan beriringan dengan adab. Sebab, kecerdasan yang kehilangan adab mudah berubah menjadi kesombongan, sedangkan adab tanpa ilmu akan kehilangan daya menghadapi perubahan zaman.

Tradisi belajar seperti inilah yang melahirkan banyak ulama, kiai, guru, akademisi, dan tokoh bangsa dari bumi Madura. Hingga kini, Jawa Timur tetap menjadi salah satu pusat pendidikan pesantren di Indonesia. Data Kementerian Agama menunjukkan terdapat ribuan pondok pesantren dengan ratusan ribu santri yang menempuh pendidikan di provinsi ini. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tradisi belajar berbasis pesantren masih memiliki akar yang kuat. Tantangannya bukan menjaga agar pesantren tetap berdiri, melainkan memastikan nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, zaman telah berubah. Anak-anak tumbuh bersama telepon pintar, media sosial, dan kecerdasan buatan. Pengetahuan dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik melalui internet. Kemajuan ini patut disyukuri karena membuka kesempatan belajar yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun, kemudahan memperoleh informasi juga menghadirkan tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan layar gawai daripada rak buku, lebih sering bertanya kepada mesin pencari daripada berdiskusi dengan guru, bahkan terkadang lebih mengenal tokoh media sosial daripada ulama dan cendekiawan di lingkungannya sendiri. Perlahan, belajar bergeser menjadi aktivitas mencari jawaban tercepat, bukan proses menempa cara berpikir, membangun kepekaan, dan membentuk kepribadian.

Yang sesungguhnya terancam bukanlah keberadaan langgar atau pesantren, melainkan memudarnya tradisi belajar yang menghidupkan keduanya. Bangunan dapat tetap berdiri, tetapi ruh pendidikan akan memudar apabila generasi muda tidak lagi memandang ilmu sebagai jalan membentuk diri, melainkan sekadar alat mengejar nilai, pekerjaan, atau pengakuan.

Di sinilah tradisi belajar Madura menemukan relevansinya kembali. Warisan pendidikan yang tumbuh dari langgar dan pesantren mengajarkan bahwa tujuan belajar bukan sekadar mengetahui lebih banyak, melainkan menjadi manusia yang lebih baik. Teknologi dapat mempercepat akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan seorang guru, kehangatan majelis ilmu, maupun keberkahan yang lahir dari adab dalam menuntut ilmu.

Karena itu, tantangan pendidikan hari ini bukan memilih antara tradisi dan modernitas. Yang diperlukan adalah mempertemukan keduanya. Anak-anak Madura harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Mereka harus mahir memanfaatkan kecerdasan buatan, tetapi tidak meninggalkan kebiasaan membaca, berdiskusi, mengaji, serta menghormati guru dan orang tua.

Kemajuan suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikannya. Masyarakat Madura telah mewariskan pelajaran yang tak lekang oleh zaman, ilmu menemukan kemuliaannya ketika berjalan bersama adab, dan adab memperoleh kekuatannya ketika diterangi oleh ilmu. Warisan inilah yang membuat pendidikan tidak sekadar melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Maka, mungkin yang paling kita butuhkan hari ini bukan sekadar mengenang ramainya langgar pada setiap malam, melainkan menghidupkan kembali semangat belajar yang pernah tumbuh di dalamnya. Sebab, ketika suara mengaji tetap hidup, penghormatan kepada guru tetap terjaga, dan tradisi mencintai ilmu terus diwariskan, Madura tidak hanya sedang menjaga sebuah tradisi, tetapi juga sedang merawat masa depannya sendiri. Dari sanalah akan lahir generasi yang bukan hanya mampu mengikuti perubahan zaman, melainkan juga memiliki kebijaksanaan untuk memberi arah bagi perubahan itu.

*) Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga