Kalianget, NU Online Sumenep
Turba Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep kali ini ke Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kalianget. Tepatnya di Mushalla rumah Bapak Sayuti Kalinget Barat Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep, Ahad (03/01/2020).
Kegiatan rutin yang dihadiri pengurus MWCNU dan ranting NU se-Kecamatan Kalianget tersebut selain membahas masalah waqi’iyah hukum Islam yang terjadi di tengah masyarakat, juga berisi penguatan fikrah keislaman dan kebangsaan.
Dalam sambutannya, K. Abd. Ghofur mengatakan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan dalam kancah perpolitikan daerah dan nasional bersikap netral, tidak berpihak kepada calon manapun, baik dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).
Disamping itu, beliau juga mengungkapkan kenyataan bahwa banyak warga nahdliyyin belum memahami NU yang sebenarnya.
“Disinilah pentingnya penyampaian materi pengajian di ranting-ranting guna memantapkan nilai-nilai Ke-NU-an, keislaman dan kebangsaan,” Ungkap Ketua MWCNU Kalianget itu.
Merespon hal tersebut, Ketua LDNU PCNU Sumenep, Kiai Imam Sutaji mengulas dengan gamblang alasan kenapa kita harus ber-NU. Menurutnya karena, Pertama, NU menghargai perbedaan yang ada di negeri ini, baik beda agama, beda suku, etnis bahkan golongan, apalagi beda pilihan politik. Perbedaan tersebut, sambungnya bukanlah alasan untuk berpecah atau hanya menganggap dirinya atau golongannya saja yang benar, lalu menyalahkan orang atau golongan lain dengan membabi buta. Itu bukan NU.
“Berbeda pendangan itu biasa di NU. Bahkan perbedaan kerapkali menjadi hazanah kekayaan tersendiri dalam bingkai rahmatan lil ‘alamin“, ujar da’i muda NU itu.
Kedua, karena secara keilmuan, sanad NU mutawatir nyambung sampai kepada sang junjungan Rasulullah SAW. “Ikut NU berarti ikut ajaran baginda Rasulillah SAW. Di NU tak ada sanad keilmuan apapun yang terputus dari Sang Rasul”, tambahnya lagi penuh nasehat.
Ketiga, karena NU meyakini adanya barakah. Barakah sesuatu yang tidak terlihat, tidak bisa dihitung dengan angka nominal, tapi pengaruhnya nyata dalam kehidupan.
“Berkhidmat di NU, kita ingin mendapatkan barokah dari ulama dan waliyullah. Hanya ulama dan para wali yang dekat signalnya dengan Allah,” tambah Dosen Institut Keislaman Annuqayah (Instika) itu.
Keempat, karena NU mampu mengonsolidasi tiga kekuatan: bidang keagamaan, konsolidasi kebangsaan dan konsolidasi bidang sosial.
Untuk mewujudkan konsolidasi ketiga hal dimaksud, maka dalam berkhidmat di lingkungan Nahdlatul Ulama, menurutnya, perlu ketelatenan dan kesabaran.
“Orang di luar NU terkadang hanya bicara menguatkan agama saja, sehingga kerapkali negaranya dilemahkan. Maka mengawinkan keduanya terkadang dianggap mengabaikan agama, padahal NU sedang meninggikan agama itu sendiri dengan cara menjahit agama dan negara dalam satu tarikan nafas,” tegas Instruktur Pendidikan Kader Penggerak (PKP) NU Jawa Timur itu sebelum mengakhiri pembicaraan.
Pewarta : Zubairi Karim
Editor : Ibnu Abbas

