Image Slider

Bhuju’ Pandih; Sang Wali Pandai Besi

Pragaan, NU Online Sumenep

Warga Desa Aeng Panas, Pragaan, Sumenep dan sekitarnya menyebutnya dengan sebutan ‘Bhuju’ Pandih’. Pandih sendiri bermakna si pandai besi. Nama aslinya ialah K. Abdul Wahab. Entah tahun berapa keberadaan masa hidupnya di Desa Aeng Panas, tak ada yang dapat mengira. Namun yang pasti, beliau adalah seorang wali pendatang dari Batu Ampar, Pamekasan yang sangat kondang dan banyak didatangi warga.

Beliau dikebumikan di Dusun Nong Malang, Desa Aeng Panas, tepatnya di sebelah timur Madrasah Al-Islamiyah, Aeng Panas. Menuju lokasi asta sang Wali, dari jalan raya Sumenep-Pamekasan kira-kira 4 km ke arah utara jalan desa Aeng Panas. Adapun istrinya dikebumikan di desa Gingging, Bluto, Sumenep. Beliau menurunkan anak cucu yang banyak dan tinggal di Gingging.

Menurut K. Abd. Rasyid, sesepuh yang merawat pesarean Bhuju’ Pandih mengatakan, jasad yang di kubur di maqbarah Aeng Panas ini adalah potongan tangan kanannya. Adapun badan utuhnya ada di Desa Demong Karang Anyar, persis sebelah timur sungai pelabuhan di Besuki, Situbondo.

P Hamimah sapaan akrab penjaga asta Bhuju’ Pandih menceritakan, bahwa jelang akhir hayatnya, Bhuju’ Pandih berlayar ke Besuki untuk suatu keperluan dakwah dan tujuan lainnya. Hingga kemudian Allah tiba tiba memanggilnya, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Sebelum meninggal, beliau berwasiat, kalau anak cucu di Madura mau menaburkan kembang keberkahan di pusaranya, maka tangan kanannya bisa diambil untuk dikubur di asta yang kita kenal dengan ‘Asta Bhuju’ Pandih’.

Ditilik dari silsilahnya K. Abdul Wahab atau Bhuju’ Pandih ini  termasuk keturunan Bhuju’ Batu Ampar, Pamekasan. Bhuju’ Pandih ini dikubur di tanah pemakaman milik Conik alias P. Ma’ati, Dusun Nong Malang, Desa Aeng Panas. Keturunan Conik saat ini yang masih hidup adalah K. Abd Rasyid yang mengurus pemakaman Bhuju’ Pandih tersebut. Asal usul tanah pemakaman tersebut milik Pekol alias P Busari yang beralamat di Sarkojuk, Prenduan, lalu dipasrahkan ke Conik untuk dijadikan pemakaman umum warga.

Ihwal tentang penamaan ‘Bhuju’ Pandih’ karena pekerjaan beliau sehari-hari ialah membuat keris bertuah. Keris yang dibuat langsung hanya dari pijitan tangan keramatnya sendiri, dan menebar karomah bagi yang memilikinya. Ciri pamor keris buatannya bertanda cekung pijitan, pertanda cap jempol pada setiap ruas cekungannya.

Dituturkan pula, bahwa karomah istri beliau dalam pembuatan keris bertuah justru jauh lebih sakti. Sang istri kalau membuat keris hanya memasukkan batang besi ke ketiaknya, dan besi itu pun tiba-tiba menjelma keris bertuah. Sedang ciri pamor buatan istrinya adalah pamor serabut rambut seorang perempuan.

Sebagai seorang pandai besi bertuah, banyak hasil keris buatannya. Sebilah keris peninggalannya sebagian masih ada. Saat ini, keris tersebut dipegang oleh seorang warga bernama Zaini, Dusun Nong Malang, Aengpanas. Keris bertuah lainnya juga pernah diwariskan kepada Conik alias P. Ma’ati orang tua K. Abd Rasyid atau P. Hamimah. Namun demikian, sewaktu hidupnya keris tersebut dipinjam oleh seorang kiai kampung, yakni K Mursyidi. Dan kini keris tersebut sudah tak diketahui di mana rimbanya.

Selain keris, ada juga peninggalannya berupa sebilah golok. Sebilah golok tersebut didapatkan secara ghaib oleh K. Abd. Rasyid. Secara tiba-tiba, golok menempel di kayu jati yang tumbuh di atas maqbarah Bhuju’ Tanggung, salah satu pengawal utama Bhuju’ Pandih.

Diceritakan, pada malam jum’at manis, seorang gadis aneh bernama Nabiyah yang sudah meninggal dunia datang dalam mimpi K Abd Rasyid. Gadis tersebut menyebutkan bahwa ada barang bertuah disuruh ambil di maqbarah Bhuju’ Tanggung. Di malam sabtu selanjutnya, maqbarah yang di atasnya tumbuh pohon jati itu disambangi. Namun, barang itu tidak ada, hanya ular aneh berwarna biru yang menempel pada kayu di atas maqbarah. Karena hanya ular K. Abd Rasyid pun pulang dengan sejuta misteri. Pada malam harinya, tiba-tiba K. Abd Rasyid bermimpi lagi didatangi ibunya, bahwa barang itu memang mau diberikan ke K Abd Rasyid. Dengan perasaan tidak tenang, beliau kembali mendatangi maqbarah tersebut. Persis di tempat ular semalam, tiba-tiba ular itu sudah menjelma menjadi sebilah golok panjang yang ternyata warisan Bhuju’ Pandih.

Sewaktu sowan kepada K. Bahid, ulama kharismatik di Karay, Ganding, Sumenep, golok tersebut dibenarkan sebagai warisan Bhuju’ Pandih dan diminta diletakkan di mushalla tempat tinggalnya, tempat mengaji al-Quran anak santri setiap malam.

Perjuangan Bhuju’ Pandih dalam Dakwah Islam

Bhuju’ Pandih sewaktu berjuang membawa nilai-nilai keislaman ke pedukuhan di Dusun Nong Malang, Aeng Panas, keadaan masyarakat masih awam agama Islam. Namun, dengan kemampuan pandai besinya, lambat laun berhasil dipengaruhi dan mengenal tradisi keislaman.

Dalam berdakwah, beliau didampingi oleh kiai kesohor lainnya, yaitu kiai yang kemudian dikenal dengan ‘Bhuju’ Tareh’, asal Lengkong, Dusun Nong Malang, dan ‘Bhuju’ Tanggung’ dari Nong Malang, Laok Songai. Adapun nama sebenarnya dari keduanya belum dapat diketahui.

Seorang kiai yang ahli tirakat K. Abd. Mawi mengatakan berhasil menjumpai keduanya dalam mimpi. Bahwa pengawal ini berbaju hitam ala Sakera, memakai celana slebor dan udeng hitam khas Madura. Keduanya mengatakan, “tak usah engkau tahu namaku, ya aku ini orangnya yang engkau tirakati tiap malam”.

Sewaktu hidupnya, Bhuju’ Pandih berpesan, kalau anak cucunya Bhuju’ Pandih dan masyarakat warga umum lainnya di mana pun yang berada dalam kesulitan hidup dan bertabarruk di maqbarahnya, maka Bhuju’ Pandih akan datang mendoakan semua hajatnya. Insya Allah akan dikabulkan oleh Sang Khaliq.

Dalam memutuskan banyak persoalan hidup sewaktu beliau berdakwah, beliau selalu minta pandangan pada kedua pendampingnya, yakni  Bhuju’ Tareh dan Bhuju’ Tanggung. Disebut ‘Tareh’ (pertimbangan) karena selalu menjadi tempat pertimbangan yang bijaksana dalam memecahkan problem hidup. Disebut ‘Tanggung’ (menanggung) karena selalu menjadi pemutus masalah dan penanggung resiko dari setiap kebijakan hidup. Keduanya lalu berkomunikasi dan menyerahkan keputusan kepada Bhuju’ Pandih’ sebagai wali junjungannya, untuk kemudian mendoakan dan memasrahkan hidup kepada Allah SWT. Semoga semua hajat dari tamu-tamunya dikabulkan oleh Allah Azza Wajallah.

Letak uburan Bhuju’ Tareh ini di sisi timur Asta Bhuju’ Pandih, sedangkan Asta Bhuju’ Tanggung berada di sebelah selatan pesarean Bhuju’ Pandih.

Bujuk tanggung sang pengawal ini pernah mengatakan, bahwa kalau besok saya meninggal dunia, dinding areh (tutup mayat jasadnya) disuruh dibikin dari potongan batang kayu pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati. Dari kayu tutup mayat itulah kemudian tiba-tiba tumbuh pohon jati besar persis di atas kuburan Bhuju’ Tanggung.

Suatu ketika, ada seorang kiai dari Karduluk, namanya K. Moh Bahar meminta untuk memotongnya untuk masjid. Namun nahas, sewaktu ujung tajam kapak menyentuh batang pohon, darah merah tiba-tiba menetes dan diketahui banyak orang. Akhirnya K. Moh. Bahar mengurungkan niatnya untuk memotong pohon jati tersebut.

Kediaman asal dari Bhuju’ Pandih ini berlokasi di daerah Nong Celeng, persis di sebelah barat jalan rumah Misat P. Madlihan. Bekas situs tempat tinggalnya ini masih ada, berupa bekas sumur yang terbuat dari batu yang diberi nama ‘Somor Tantoh’ (sumur tempat menentukan nasib), yang digunakan sebagai tempat menimba air untuk menjalankan syariat agama bagi beliau dan para santrinya. Serta digunakan untuk mencuci wujud kasat keris buatannya. Di dekatnya juga ada sumur lainnya yang disebut dengan ‘Somor Canteng’ (sumur dari gayung kelapa), yang dipergunakan untuk penyucian wujud halus pusaka buatan Bhuju’ Pandih.

Seperti tersebut di atas, Bhuju’ Pandih dilihat dari sisi silsilah keturunan masih ada hubungan darah dengan Bujuk Batu Ampar, Pamekasan. Diceritakan K. Abd Rasyid, bahwa Gus Salamet (keturunan Bujuk Toampar) pada mulanya sering datang ke asta Bhuju’ Pandih untuk bertabarruk dan menjumpai K Abd Rasyid beserta keluarganya. Gus Salamet berpesan, agar di maqbarah Bhuju’ Pandih nantinya dapat ditanami pohon ketapang untuk menandai kesamaan aliran darah dengan saudara-saudaranya yang ada di Bhuju’ Ketapang, Batu Ampar, Pamekasan.

Pewarta: Zubairi Karim

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga