Oleh: Firdausi
Setiap daerah tidak lepas dari etos kerja yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh suku, ras, bangsa, sosial, kebudayaan, dan keyakinannya. Bagi orang Madura, etos kerja dimaknai sebuah perjuangan.
Nilai-nilai tersebut diperkenalkan sejak kecil hingga dewasa, sehingga mereka terbiasa. Apapun halangannya pasti dihadapi. Kendati demikian, mereka memiliki satu tujuan, yaitu merubah hidupnya dengan pantang menyerah.
Mobilitas kerja mereka terbilang tinggi. Ditopang dengan kesungguhan, kerajinan, dan keuletan mereka dalam mencari nafkah. Etos kerja tersebut tidak hanya dimiliki oleh seorang pria saja, tetapi juga oleh para wanita. Mereka turut mendampingi suaminya di sawah dan tempat usaha mereka. Jika tidak, mereka dengan sabar menunggu suaminya yang melaut, mengurus anak dan rumah tangga.
Untuk mengenalkan etos kerja Madura, muncullah dua puisi tembang lagu dolanan yang hakikatnya memberikan pesan moral kepada generasi muda, antara lain:
Pajjhar Lagghu’
Pajjhar lagghu’ arena pon nyonara
Bapak tane se tedung pon jhagha’an
Ngala’ are’ ben landhu’ tor capengnga
Ajhalanna ghi’ sarat kawajibhan
Atatamen mabanyya’ hasel bhumena
Mama’mor nagharana tor bangsana
Bagi masyarakat Madura, petani menjadi pekerjaan utama. Walau tanahnya kurang subur, gersang, dan kering, namun dengan semangat kerja yang giat dan pantang menyerah, dapat hidup dari bercocok tanam. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk bergotong royong dalam bercocok tanam. Maksudnya, seluruh anggota keluarga memiliki peran dan melaksanakan peran mereka secara bergotong royong.
Tanduk Majeng
Ngapote wa’ lajere e tangale
Reng majeng tontona lah pade mole
Mon e tegguh deri abid pajalannah
Duh mon ajalling odiknah oreng majangan
Abental ombe’ sapok angen salanjanggah
Ole olang, paraonah alajarah
Ole olang, alajarah ka Madureh
Reng majeng benyya’ onggu babajhana
Kabileng alako bedhe nyabanah
Pekerjaan melaut atau nelayan bagi orang Madura bukan hal yang mudah, sebab bekerja di laut bermodal nyawa. Karena cuaca laut tidak bisa diduga, bisa tiba-tiba ombak besar dan angin yang kencang. Tidak diprediksi selamat atau tidak.
Dari kedua lagu daerah tersebut menegaskan bahwa sikap orang Madura mencerminkan ketangguhan dan rasa tanggung jawab untuk meningkatkan produktivitasnya. Sehingga istilah bekerja diartikan sebagai ibadah. Pandangan ini muncul dan dikaitkan dengan nilai-nilai religius. Bekerja disamakan dengan ibadah yang wajib dijalani oleh setiap orang. Bekerja dan beribadah harus dijalankan secara seimbang. Lewat keuletan dan kerajinannya, muncullah pasemon atau ungkapan kar-karkaran colpe’, yang artinya mengais terus mematuk. Maksudnya, pesan ini melukiskan kerajinan orang Madura. Jika dianalogikakan, layaknya seekor ayam mencakar-cakar tanah mencari makanan sebutir demi sebutir. Kemudian butiran tersebut dapat dipatuk dan ditelannya. Oleh karenanya, orang Madura tidak pernah putus asa meskipun hasilnya sedikit. Tetapi ia tetap tekun bekerja sampai akhirnya memperoleh apa yang diinginkan.
Selanjutnya, orang Madura tidak akan menyia-nyiakan waktu, walaupun jangka pendek. Karena bagi mereka sangat berharga. Sejalan dengan itu, dapat dikatakan orang Madura sangat efisien terhadap waktu sebagaimana dalam petuah orang dulu atolo ngeras mandi, artinya bekerja sambil mandi.
Yang paling tampak dipermukaan adalah sikap du’ nondu’ mente tampar, artinya duduk menunduk sambil memintal tali. Secara kasat mata, kelihatan menunduk layaknya seseorang memberikan penghormatan. Namun orang Madura ulet dan rajin melakukan kegiatan yang bermanfaat. Intinya, setiap yang dikerjakan diyakini. Orang Madura yakin terhadap hasil sesuai dengan apa yang dikerjakan. Seperti halnya pasemonnya mon atane atana’, mon adhagang adhaging, artinya siapa yang bertani akan bertanak nasi, siapa yang berdagang, maka akan memperoleh hasilnya.
Seluruh karakteristik tersebut, banyak hasil penelitian menyatakan bahwa orang Madura suka menabung dan menggunakan uang secara efisien. Prioritas penggunaan tabungan adalah membangun rumah dan melaksanakan ibadah haji. Pada umumnya orang Madura menginvestigasikan uangnya untuk berternak kambing atau sapi, perhiasan emas, dan menabung di bank.
Wajar, tidak sedikit orang Madura meraih kesuksesan dalam melakukan usaha di berbagai bidang, seperti tembakau, kayu, besi tua, jual beli tanah, perhotelan, pertokoan, pertukangan, kerajinan, dan sebagainya. Bahkan ada beberapa yang berhasil menjadi konglomerat tingkat nasional. Dengan demikian, ajaran Islam tentang pekerjaan berpengaruh pada pandangan masyarakat, sehingga warga menegaskan bahwa harta dan aktivitas bekerja tidak boleh mengganggu pelaksanaan ibadah. Karena investasi akhirat jauh lebih mulia.
*) Direktur NU Online Sumenep

