Zuhur
terang. angan terapung menumis waktu
mengaji amsal cahaya-cahaya langit
azan mengajak dedaunan hijau kenanga
bersalaman dengan angan-angan cahaya.
berjabat senyampang senyum tangan-tangan
diraut gemelap mahligai ketenangan
dibawakannya secumbu kasih yang memutih
terperangkap dalam rantauan azan selatan.
waktu merias ambigu. menjadikan detik
dan detak jantung bersemayam di batu-batu,
resital nada doa, menyampaikan geliat jumpa
yang diaminkan oleh semoga lirik irama.
matahari, laut, daun dan angin, semuanya diam
terbata. bertukar peluh jiwa pada pulau yang
terhimpit nyanyian musim-musim tua
di sini, zuhur menyulam zikir yang terukir.
(2020)
Asar
ingatan mulai rentan. sehabis terang selayang pandang
asar menyimpan seruan yang tercabik-cabik dos
sebagai tujuan yang hakiki, sebagai puisi yang berarti
Tuhan, angin meniup tubuh-tubuh rumput yang cemberut
bergoyang kesana-kemari mencari gumpalan arti seni
entah ia yang biasa disebut sebagai asmara paling moksa.
lubang hati dan lubang waktu jejak mencari mata air
dibasuhnya tangan-tangan jumpa perjingkatan
mengalir basahi tanah terhisap tanah moyang kita
magrib tak pernah menagih kapan suara azan tiba
magrib tak pernah mengira kapan tangis itu reda
tapi, perjalanan dan khayalan biasa tunduk bada derita.
ketoprak saronen masa mulai mengunjing peristiwa
dibawa ke sumur-sumur ke kolam-kolam mencari
bulir jumpa kita yang telah senja termakan derita.
(Agustus 2020)
Magrib
petang. hitam menyambar tarian senja tua
labirin jejak menikung ka suatu sawah
menyusur lewati ribuan lorong penuh duri.
hitam. bulan kapangan hampar berteduh,
berteduh di dada waktu, penuh merah ayu
menikam tangisan kelepak sayap Isak.
selawat leking mengajak tubuh tabah merayu
angin tertidur berutas benang tali tandang
merasuk susur kaki langit jingga. tiada aba-aba.
magrib. batu-batu bersorak ria. semadi bagai
gumpalan yang terbuang di alun senja-senja kita
seputih takbir meronta meminta aba-aba doa.
suara semakin menjauh dari latar amper kisah
keluh kesah jingkat menjamu langkah rima yang
berpuisi tanpa alunan tasbih-zikir yang merujuk.
(2020)
Isak
Malam membujuk lantunan bulir waktu
yang terbawa embun melodi kisah puisi
hingga gelora hilangkan sepi paling sunyi.
gejolak hujan tangis merias tanah moyang
rumput-rumput senang membagikan aib seni
membacakan gemerlap tarian sufistik kuno.
(2021)
Saiful Bahri, Bukan penyair. Bukan pula tukang sihir. Hanya orang biasa yang diciptakan suka pada dunia literasi.

