Image Slider

BU YON

Cerpen Ahmad Nyabeer*

“Urusanmu saat ini sudah sangat banyak.”

“Memang. Aku tahu betul itu.”

“Namun, kenapa kamu masih menjadi ketua?”

“Itu bukan kemauanku!”

Aku telah berkali-kali bilang kepada laki-laki yang egois itu bahwa aku tak pernah ingin menjadi ketua. Tapi dia terus saja menyalahkanku. Seakan-akan ini semua atas dasar keinginan dan rencanaku sendiri. Padahal, aku pun bingung kenapa bisa aku yang dipilih oleh teman-teman. Kenapa bukan yang lain. Benar-benar, aku menyesal telah meneleponnya tadi dan memberitahukan hal ini. Kali ini, aku sangat marah dan benci kepadanya.

Hanya saja aku mencintainya. Itulah kenyataan perasaan yang sedikit pun tak dapat aku pungkiri. Aku tahu dia keras kepala tapi toh aku tetap mencintainya. Itu sebabnya aku tak pernah ingin membuatnya kecewa. Aku akan merasa bersalah jika suatu saat dia kecewa terhadapku, terhadap segala yang kuperbuat dan kuinginkan.

Meski kadang aku berpikir, cintaku kepadanya sebenarnya juga bukan atas keinginan dan kehendakku sendiri. Setelah beberapa lama kami saling mengenal dan menjalin komunikasi, ada kedekatan perasaan di antara kami. Tiba-tiba tumbuh rasa cinta dalam diriku kepadanya. Alam seolah memaksaku untuk mencintainya. Barangkali hidup memang seperti itu. Begitu banyak sesuatu terjadi pada diri kita meski bukan kita sendiri yang menghendakinya. Seperti cinta dan pemilihan ketua ini. Namun, ternyata kita mengamininya.

“Yang bersikeras melarangku dulu untuk menjadi ketua adalah kamu. Kamu begitu ngotot tidak memperbolehkanku pada saat kuberi kabar bahwa aku akan menjadi ketua, dengan alasan ini dan itu. Tapi hari ini, toh kamu sendiri yang melanggar laranganmu.”

“Apakah itu berarti aku telah mengecewakanmu?”

“Tidak sepenuhnya, kekasih. Kamu sebenarnya lebih mengecewakan dirimu sendiri. Karena itu, aku pun kecewa pula.”

Aku lalu menangis dan menutup telepon cepat-cepat. Tak mampu lagi aku mendengar suaranya, suara kekecewaan itu. Sambil menunduk sedih, air mataku menetes-netes tanpa dapat kuhentikan. Aku tak membawa tisu saat ini. Kubiarkan saja air kerapuhan jiwaku jatuh satu per satu membasahi baju. Adakah yang bisa dilakukan seorang perempuan tatkala begitu banyak beban kesedihan dan kekecewaan menyesakkan dadanya selain menangis? Bukankah air mata memang diciptakan untuk mengeluarkan kesedihan dari hati seorang manusia yang rapuh?

Dua menit kemudian teleponku berdering. Dia menelepon lagi. Tapi aku tak mau mengangkatnya. Tidak! Tidak mungkin kudengarkan lagi suara itu. Tak tega aku. Sebaiknya, kumatikan saja telepon ini dan dia tidak meneleponku lagi. Setidaknya untuk saat ini. Setelah itu, kuusap sisa air mata yang hangat di pipi dan menggantung di ujung bulu-bulu mata. Lalu aku bangun dan berangkat menujumu di tempat ini.

“Itu semua sebenarnya ada di tanganmu. Dia bilang seperti itu kepadamu justru merupakan sebuah kekhawatiran. Sebuah refleksi kasih sayang dan perhatian. Bukan kekecewaan. Dia tidak menyalahkanmu sedikit pun. Dia cuma khawatir, gara-gara menjadi ketua kemudian kamu semakin sibuk sehingga pelajaranmu tertinggal. Karena sibuk lalu kamu mengorbankan reputasi belajarmu. Dan demikian itu tidak baik. Kamu sendiri yang rugi. Iya kan?,” jelasmu sambil mendongakkan tubuhku yang sejak tadi merebahkan diri ke pangkuanmu dengan sedu-sedan.

“Apa benar begitu?” Kamu hanya mengangguk kepadaku sembari tersenyum.

“Lalu aku harus bagaimana sekarang?”

“Fa’il. Kamu ingat filosofi dari fa’il sebagaimana diajarkan guru di kelas dulu? Lakukan sesuatu. Kamu harus bergerak keluar dari kesedihan dan ketakutanmu. Bicaralah dengannya secara baik-baik. Aku yakin dia pasti mengerti.”

Fajar. Aku seolah fajar yang menyemburat dari kungkungan malam yang gelap gulita. Kokok ayam yang bersahut-sahutan begitu riang menyambut cahaya kecerahan ini. Malam dengan segala petaka dan kesuramannya yang angker telah berlalu. Aku akan bergerak menjalani kenyataan ini secerah-cerahnya tanpa rasa takut kepada siapapun. Hidup yang telah dan akan kujalani sepenuhnya berada di tanganku. Ya, aku akan laksanakan nasihatmu, sahabatku. Akan kutelepon dia sekarang.

Angin semilir berdesir lembut dari selatan. Menyelinap nakal ke sela-sela kerudung dan bajuku. Kulitku disentuhnya dengan halus. Betapa sejuk. Beranda kamarmu tepat berada di bawah naungan rerimbun pohon mangga. Sejuk, hijau, segar. Ketenangan hidup sungguh sepele.

“Ayo cepat kamu telepon dia sekarang. Tapi ingat, bersikap bijaklah. Jangan terbawa perasaan dan emosimu.”

“Iya, iya. Aku paham kok.”

Waktu kuhidupkan telepon, azan berkumandang. Asar telah tiba. Itu berarti aku harus segera pulang. Telepon bergetar sebentar lalu layarnya menyala. Maka muncullah foto laki-laki yang egois itu di layar. Duduk di sebuah tangga sambil tersenyum. Sejenak, perhatianku terfokus padanya.

Ada sebuah pesan masuk. Telepon bergetar lagi. Oh ya, pesan itu darinya. Aku menoleh ke kiri. Kamu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala seolah mendukung terhadap apa yang akan kukerjakan. Kamu kan perempuan, tentu paham terhadap diriku. Lalu kubuka pesan itu. Hanya tertulis beberapa kalimat : Kamu tidak salah. Dan aku tidak kecewa. Malahan senang. Sungguh.

Itu dia kebiasaannya. Simpel, mengaku salah, dan merayu. Maka buru-buru kutelepon dia.

“Qin, maafkan aku. Tadi aku terlalu terbawa emosi,” dia memulai percakapan duluan tanpa basa-basi.

“Aku akan lebih tenang seandainya kamu mendukung dan memberi semangat kepadaku,” jawabku dengan sengaja menghapus kejadian tadi.

“Harusnya aku begitu memang. Kan aku laki-laki baik. Lagian, menjadi ketua adalah keberuntungan. Jarang orang mendapatkan kesempatan itu. Ditambah lagi kamu adalah perempuan. Itu artinya, pintu kesetaraan yang dulu dibuka oleh Raden Ajeng Kartini telah kamu masuki. Sebab, dalam hal belajar dan berproses menjadi yang terbaik, laki-laki dan perempuan adalah sama. Yang penting kamu tidak lupa bahwa aku tetaplah imammu. Maka belajarlah memimpin orang-orang dan dirimu sendiri. Itu kesempatanmu. Ketahuilah, pelajaran memimpin tidak ada di sekolah. Kelas-kelas sekolah hanya menyediakan buku-buku yang berisi kalimat-kalimat yang dapat dihafal dan dibaca banyak orang. Tetapi kekasihku, menjadi ketua lebih dari itu. Kamu akan belajar membaca huruf-huruf yang tidak ada di dalam buku dan kitab. Yang akan kamu baca adalah manusia dan kehidupannya. Apalagi, memimpin tanpa dibayar adalah pelajaran mengabdi yang sebenarnya. Karena itu, sekalipun nanti banyak yang akan kamu korbankan, tetaplah mengabdi dengan ikhlas dan…”

Di tengah-tengah suaranya yang belum selesai itu, ibuku menelepon. Aku harus segera pulang.

Nyabakan Timur, Nopember 2020

*Nama Pena Ahmad Fawa’id, Mahasiswa Instika, dan aktif di Komunitas Persi.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga