Oleh: Aldi Hidayat
Barakah adalah sesuatu yang sakral dalam dunia pesantren. Sakralitasnya tak ubahnya laba besar-besaran bagi pebisnis, khususnya pebisnis kapitalis. Sakralitasnya juga laksana sensasi bergelimang fans bagi para artis. Sakralitasnya pula ibarat penghargaan bergengsi bagi olahragawan dan atlet. Lebih dari itu, barakah bagi santri sebenarnya jauh melampaui semua sakralitas tadi, karena barakah adalah capaian bergengsi yang menembus sekat duniawi menuju singgasana ukhrawi.
Barakah adalah cita-cita adiluhung yang didambakan santri, baik dulu, kini maupun nanti. Masalahnya, barakah selama ini masih misteri. Meski ia selalu digaungkan di masjid, langgar, bilik, madrasah dan tempat lainnya, konsepsi santri mengenainya masih samar. Apa itu barakah? Beberapa santri beranggapan bahwa barakah adalah kemudahan aktif di masyarakat. Maksudnya, masyarakat menerimanya, bahkan menempatkannya sebagai sosok terhormat, meski secara profesi, ia tidaklah bergengsi, seperti menjadi sopir angkot. Berkat barakah, ia mendapat posisi istimewa dalam penilaian masyarakat. Tafsir demikian memang benar, namun masih mengidap kelemahan-kelemahan.
Pertama, barakah pada dasarnya jauh lebih luas ketimbang makna tadi. Makna tadi mengandung dua kemungkinan yang bertentangan. Dihormati dan dihargai oleh orang pada satu sisi menunjukkan kebaikan kita di hadapan masyarakat, namun pada sisi lain, menyiratkan bahwa kita ini dinilai menguntungkan. Pasalnya, sering kali penghormatan datang, karena orang lain menganggap kita menguntungkan. Adakalanya orang dihormati, karena dirinya diam tak berkutik menghadapi kebobrokan orang lain. Sebaliknya, sering kali orang dibenci, hanya karena ia berani melawan kelumrahan yang menyimpang. Gus Dur pernah diserbu oleh cacian, makian, celaan, karena ia berani melawan kelumrahan, yaitu tradisi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Keberaniannya ini mengantarkannya pada keadaan terpojok hingga akhirnya dilengserkan dari kursi kepresidenan. Apakah dengan demikian, Gus Dur tidak menuai barakah? Tentu saja tidak. Contoh ini adalah teguran halus bahwa dihormati orang belum tentu membuat kita sejatinya terhormat, melainkan karena kita tidak berani menasihati akan kejahatannya selama ini.
Menasihati tidak sama dengan menyalahkan. Menyalahkan itu tidak tahu situasi dan kondisi, sehingga setiap kali melihat kejelekan orang, ia bersiap menyalahkan. Sebaliknya, menasihati selalu berdasarkan situasi dan kondisi serta dilakukan dari hati ke hati.
Kedua, dihormati dan dihargai adalah bonus. Islam adalah agama proses. Karena itu, al-Qur’an menegaskan bahwa manusia tercipta untuk beribadah, bukan bahagia. Ibadah adalah proses, sedangkan bahagia adalah bonus. Terpaku pada pemaknaan barakah sebagai penghormatan dari orang lain bisa membuat kita lalai akan persoalan umat, sehingga ketika dihormati orang, kita merasa tidak perlu meningkatkan kinerja dalam membenahi permasalahan umat.
Memaknai barakah sebagai kehormatan saat terjun ke masyarakat memang penting. Akan tetapi, ada yang lebih penting dari itu, yaitu memaknai barakah sebagai proses. Bagaimana itu? Barakah adalah ziyadah al-khair (bertambahnya kebaikan). Kata M. Quraish Shihab, khair adalah kebaikan secara umum atau kebaikan dalam bentuk prinsip. Perwujudannya disebut ‘urf, yaitu menerjemahkan prinsip kebaikan sesuai budaya dan masyarakat setempat. Menutup aurat adalah kebaikan (khair), sedangkan perwujudannya yang sesuai masyarakat setempat (‘urf) adalah seperti memakai baju, sarung dan kopiah. Khair adalah visi, sedangkan ‘urf adalah program kerja (proker). Antara visi dan proker, terdapat misi. Lantas bagaimana menafsirkan barakah dalam bentuk misi? Tiga poin berikut akan mengupasnya.
Pertama, bertambahnya minat pada hal-hal baik. Salah satu tanda santri mendapat barakah ialah ketika ia semakin mencintai kebaikan. Jika sebelum mondok, ia biasa menghabiskan waktu dengan game, lalu ketika dan setelah mondok, ia beralih minat pada kitab, maka ia berarti mendapatkan barakah. Tentunya tidak sesederhana itu, karena ia hanyalah contoh. Santri bisa saja mendapat barakah melalui game, ketika ia mengubah niatnya. Jika sebelumnya, game ia niatkan untuk sensasi belaka, lalu dia mengubah niat ingin menjauhi maksiat dengan lawan jenis, maka game kala itu adalah ladang barakah baginya. Main game itu mubah, namun jika dilandasi niat suci seperti tadi, maka game bisa menjadi ladang ibadah.
Kedua, bertambahnya tanggung jawab. Tanggung jawab dalam terminologi Islam disebut amanah. Amanah adalah wahana menuai restu Tuhan melalui relasi dengan sesama manusia. Bilamana santri semakin lama mondok mendapat tanggung jawab, seperti menjadi pengurus pesantren, maka tanggung jawab tersebut sesungguhnya adalah barakah. Jadi, barakah tidak sekadar dinikmati saat menjadi alumni, namun sudah bisa kita tuai saat masih menjadi santri. Amanah tersebut tidak harus formal, melainkan amanah secara umum. Amanah berbeda dengan kepercayaan. Amanah sudah pasti tentang kebaikan, namun kepercayaan bisa saja berupa keburukan. Dipercayai untuk mengadu domba orang lain adalah kepercayaan, bukan amanah. Dipercayai menjadi ketua panitia maulid Nabi SAW adalah amanah sekaligus kepercayaan. Jadi, setiap amanah adalah kepercayaan, tetapi tidak semua kepercayaan adalah amanah.
Ketiga, bertambah kreatif atas hal-hal baik. Sebelum mondok, santri hanya tahu membaca kitab, namun ketika mondok, ia bisa menciptakan metode yang memudahkan santri lain dalam membaca kitab. Santri tersebut berarti memperoleh barakah. Kreatif adalah kemampuan mencipta perkara yang berguna, bahkan lebih berguna dari perkara sebelumnya. Kreatifitas berbeda dari inovasi. Inovasi selalu bertali-temali dengan kebaruan, sedangkan kreatifitas adalah kemampuan membuat, meski tidak baru, tapi mempunyai nilai guna. Inovasi tak selamanya baik, karena inovasi hanya menuntut kebaruan. Menciptakan virus baru bagi komputer adalah inovasi, bukan kreasi. Di pihak lain, membuat komputer adalah kreasi, meski komputer yang sama pernah dibuat. Pasalnya, membuat komputer tentu mendatangkan manfaat bagi mereka yang belum pernah menggunakan komputer. Jadi, kreatifitas adalah kemampuan membuat hal-hal yang berguna.
Ketiga misi di atas masih menyisakan celah. Bertambah minat, tanggung jawab dan kreatifitas adalah lumrah. Pasalnya, semakin dewasa, orang akan bertambah minat, tanggung jawab dan kreatifitas pada kebaikan. Jika begitu, apa perbedaan antara minat, tanggung jawab dan kreatifitas versi barakah dengan selainnya? Hakikat santri adalah mengabdi. Mengabdi ialah berbuat baik tanpa pamrih, tanpa terlalu sibuk memikirkan upah. Mengabdi adalah berbuat baik, karena sadar bahwa kebaikan memang dibutuhkan, bukan karena ingin mendapatkan harta dan tahta. Jadi, puncak dari barakah ialah ketika kita bisa melakukan salah satu tiga misi di atas atas dasar sukarela, bukan terpaksa dan bukan karena berhasrat pada harta, tahta dan wanita (bagi pria) atau pria (bagi wanita). Sukarela bukan berarti tidak mau digaji, diupah, diberi honor dan sebagainya. Semua itu adalah kebutuhan. Islam datang tidak untuk memberantas kebutuhan, tetapi mendewasakan kebutuhan. Mengharap gaji supaya bisa memakmurkan keluarga, menyukseskan pendidikan anak, ingin mandiri demi tidak merepotkan orang tua adalah pendewasaan ala Islam. Jadi, barakah turut menjelma aksi mengharap upah guna memanfaatkan upah tersebut dalam mempertahankan dan mengembangkan kebaikan. Wallahu A’lam.

