Image Slider

KH. Muth’am Imam, Kiai Kharismatik yang Berinisiatif Dirikan Pesantren Lintas Agama

Ambunten, NU Online Sumenep

Salah seorang kiai kharismatik, tokoh NU di Sumenep, KH. Muth’am Imam wafat diusianya yang ke-61 tahun. Tepat pada pukul 21.09 WIB, di Kampong Sokon, Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten.

KH. Muth’am Imam adalah salah seorang Putra kelima dari pasangan suami istri: KH. Muhammad Imam bin Ahmad Dahlan Karay dengan Ny. Hj. Rahmah binti KH. Ali Wafa Ambunten.

Beliau merupakan sepupu dari KH. Fayyadl As’ad Dahlan, Pondok Pesantren Al-Karawi, Karay Ganding Sumenep. Sebab Ibu KH. Muth’am Imam dengan Ibu KH. Fayyadl masih saudara kandung, sama-sama Putri KH. Ali Wafa, atau saudara KH. Thaifur Ali Wafa, Pondok Pesantren Assadad Ambunten Sumenep.

Kiai yang juga Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ini dikenal sebagai seorang kiai yang visioner dan memiliki loyalitas yang tinggi untuk NU. Hidupnya ia hibahkan untuk mengabdi dan memperjuangkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah an-Nahdliyah.

Sekitar sepuluh tahun yang silam, KH. Muth’am Imam sakit parah dan kecil kemungkinan untuk bisa sembuh. Kemudian beliau bernadzar, jika ia sembuh dari penyakitnya maka ia akan mengabdi di NU.

Rupanya, Allah SWT mengijabah doa tersebut yang kemudian menjadi sebab ditunaikannya nadzar untuk aktif di NU. Maka, beliau memulai aktivitas pengabdiannya di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ambunten.

Tidak tanggung-tanggung, keaktifan beliau di struktur NU mampu menjadi penggerak kemandirian ekonomi. Hal itu dibuktikan dengan gagasannya untuk mendirikan toko yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat yang nantinya akan menjadi sumber pendapatan MWCNU Ambunten.

Saat itu, bisa dibilang sangat langka, strategi pengembangan ekonomi tumbuh di tatanan struktur NU tingkat kecamatan. Namun, berkat idenya yang visioner, gerakan pengembangan ekonomi dalam rangka mewujudkan kemandirian NU mampu diimplementasikan.

Hingga kini, beliau selain menjabat sebagai Mustasyar PCNU Sumenep juga dipercaya untuk mengemban amanah di Wakil Rais MWCNU Ambunten.

Tidak hanya itu, menurut Ny. Zainab Ali Hisyam, salah seorang keluarga almarhum yang masih berstatus Adik Sepupu, KH. Muth’am Imam juga pernah berinisiatif untuk mendirikan pondok pesantren yang bisa menerima santri dari lintas agama.

“Dulu, beliau sempat bilang kepada saya bahwa beliau tidak akan mendirikan pondok pesantren jika tidak bisa menerima santri dari semua agama. Beliau yang juga termasuk guru saya, secara langsung menyampaikan keinginan itu tanpa ragu,” kenang Ny. Zainab Ali Hisyam.

Lantas, Ny Zainab Ali Hisyam bertanya kembali kepada KH. Muth’am Imam tentang bagaimana mungkin bisa mewujudkan inisaitif tersebut, sedang konsekuensi yang akan diterimanya cukup berat, yakni mendapatkan anggapan negatif dari berbagai pihak.

Belum lagi, soal penerapan metode dan materi pengajarannya. Bagaimana mungkin dalam satu pondok pesantren mengajarkan aqidah yang berbeda. Tentu dalam pandangan Ny Zainab Ali Hisyam kala itu buram.

Namun, seolah tanpa beban, KH. Muth’am Imam menjawab terkait perihal yang dipertanyakan Ny Zainab Ali Hisyam itu.

“Ya gampang, kalau santri yang Kristen, tinggal kita datangkan guru dari kalangan Pendeta. Demikian pula agama lainnya,” jawab KH. Muth’am Imam.

Sejatinya, KH. Muth’am Imam mengungkap bagaimana pendidikan akhlaq atau budi pekerti dapat diprioritaskan tanpa membedakan latar belakang keagamaan. Karena menurut beliau tidaklah begitu penting soal status agamanya, terpenting adalah bisa belajar akhlaq dengan baik.

Editor: A. Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga