Gapura, NU Online Sumenep
Warga Sumenep khususnya warga Timur Daya yang meliputi kecamatan Gapura, Dungkek, Batang-Batang, dan Batuputih baru saja larut dalam suasana duka. Sebab salah satu guru terbaik warga, yaitu Ny. Hj. Hanifah telah wafat pada Senin malam (14/6/2021) sekitar pukul 20.30 WIB di kediamannya, kawasan Pondok Pesantren Al-Huda, Dusun Pangabasen, Desa Gapura Timur.
Ny. Hj. Hanifah lahir di Sumenep, tepatnya di Desa Gapura Timur pada tanggal 03 Juni 1957 dari pasangan KH. Abdul Halim dan Nyai Hosna. Beliau adalah istri dari Almarhum KH. Hanif Abdullah (Pengasuh kedua PP. Al-Huda) yang mempunyai empat orang anak, di antaranya; Ny. Mas’odah (Pembina PAC Fatayat NU Gapura sekaligus istri K. Musrsyidul Umam, Pengasuh PP. Nurul Jalil Battangan Gapura Timur). K. Jamalul Muttaqin (Kepala MA Plus Darul Muhibbin Jember), K. Wahedi (PP. Al-Huda), dan Ra Farhan (masih nyantri di PP. Al-Falah, Ploso, Kediri).
Ny. Hj. Hanifah yang dipercaya sebagai pembina Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Gapura ini menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Nasy’atul Muta’allimin Gapura dan di Muallimin Annuqayah. Selain itu beliau juga mengaji sorogan kepada KH. Hasani Syahid.
Nyai yang bernama asli Ny. Fatmah ini dikenal sebagai juru dakwah yang gigih dan tekun mengisi 14 kompolan pengajian (majelis taklim atau perhimpunan skala kecil bagi ibu-ibu rumah tangga sebagai media transfer keilmuan) dalam seminggu. Kompolan-kompolan pengajiannya itu tersebar di berbagai desa yang ada di Kecamatan Gapura, Batang-Batang, Dungkek, dan Batuputih Kompolan-kompolan tersebut berbentuk ceramah yang pada sesi terakhir dibuka tanya jawab.
Bagi almarhumah, kompolan bukan sekadar kegiatan rutinitas biasa yang boleh tidak dihadiri jika dalam kondisi kepepet. Akan tetapi beliau selalu berupaya kompolan binaannya tetap berjalan normal sebagaimana biasanya meski dirinya kepepet sekalipun. Jika memang dirinya benar-benar udzur, beliau akan menyuruh putrinya, Nyai Mas’odah atau putri menantunya, Nyai Suciana Mukhtar–salah seorang anggota LKNU MWCNU Gapura yang juga terkenal sebagai dai muda–untuk mengganti dirinya mengisi kompolan itu.
Ra Farhan, putra bungsu beliau saat diwawancarai NU Online Sumenep menuturkan, bahwa kompolan-kompolan itu sebagian di antarnya dulu pada mulanya adalah majelis taklim yang didirikan oleh almarhum KH. Hosamuddin, pendiri PP. Al-Huda yang tak lain adalah ayah mertuanya.
“Beliau sangat bersyukur karena dulu dibuatkan majelis taklim oleh Mbah Hosa sehingga dengan majlis talim itu beliau bisa memetik hikmah dan pelajaran,” ungkap Ra Farhan kepada NU Online Sumenep, Senin (21/6/2021).
Meski beliau dikenal sebagai juru dakwah yang sudah biasa mengisi pengajian, tetapi beliau dikenal rendah hati dan tak lelah belajar, terbukti di setiap ada pengajian, beliau senantiasa membawa kertas dan pena untuk mencatat poin-poin penting yang disampaikan penceramah.
Dalam berdakwah, beliau tak pernah mengenal kata “lelah” dan “bosan”, bahkan meski di usia sepuh atau dalam keadaan badan kurang sehat sekalipun, beliau tetap hadir ke kompolan selama tidak berisiko tinggi terhadap dirinya. Mengenai kegigihannya ini, K. Zainul Hasan, sekretaris PCNU Sumenep sekaligus salah satu instruktur PKPNU mengaku salut kepada Ny. Hj. Hanifah karena beliau merupakan anggota PKPNU paling sepuh yang tetap disiplin mengikuti proses pengkaderan hingga selesai meski beliau harus berjalan tertatih menggunakan tongkat.
Di tengah perjuangan dakwahnya bukan sama sekali tidak ada rintangan, Menurut Ra Farhan, dulu beliau pernah dililit utang yang kisarannya sekitar tiga kali setoran haji. Tapi meski begitu, tidak lantas membuat beliau sibuk dan abai pada kompolan pengajiannya. Beliau tetap istiqamah mengisi pengajian yang jumlahnya cukup memakan tenaga itu. Dan karena kesabarannya, akhirnya atas izin Allah SWT beliau mampu membayar utang itu dan bahkan malah bisa naik haji bersama suaminya.
Pesan beliau yang sempat Ra Farhan ingat adalah senantiasa meminta putra-putrinya untuk menjalin silaturrahim dan ikhlas dalam beramal terutama dalam berdakwah, selalu bersikap jujur, dan menjalin kerukunan dalam keluarga.
Selain itu, Ra Farhan juga menambahkan bahwa selama hidupnya Ny. Hj. Hanifah, selain dikenal selalu bersemangat dalam berdakwah, juga dikenal sebagai sosok yang gemar bersedekah dan peduli berbagi kepada dluafa.
Terbukti beliau selalu hadir melayat siapa pun yang meninggal terutama saudara, tetangga, dan jamaah kompolannya, bahkan meski sudah lewat dari 7 hari kematian sekalipun, pungkas lora yang masih nyantri di PP. Al-Falah Ploso Kediri ini.
Narasi di atas sudah cukup untuk memuarakan pandangan ke satu titik pemahaman; beliau pejuang tangguh. Selamat jalan, Nyai!. Semoga husnul khotimah.
Editor: Ibnu Abbas.

