Kota, NU Online Sumenep
Wakil Rais PCNU Sumenep, KH Muhammad Shalahuddin A. Warits, mengajak kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) untuk membangun paradigma pendidikan humanistik yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya mencetak manusia yang kompetitif di dunia industri, tetapi juga harus melahirkan pribadi yang mampu menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Mamak, sapaan akrabnya, saat menjadi keynote speaker pada Pelantikan Pimpinan Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Kabupaten Sumenep di Aula Pesantren Universitas Bahauddin Mudhary (Uniba) Madura, Ahad (2/8/2026).
Mengawali penyampaiannya, Kiai Mamak mengaku bangga dapat membersamai para kader pelajar NU. Ia kemudian mengajak seluruh peserta untuk melihat arah pendidikan masa depan yang menurutnya sedang bergerak pada dua paradigma besar, yakni pendidikan yang berorientasi pada kompetensi dan pendidikan humanistik.
“Sesungguhnya paradigma humanistik itulah yang sejak lama menjadi ruh perjuangan Nahdlatul Ulama. Para sesepuh telah mengajarkan bahwa orientasi kita berorganisasi adalah tujuan kemanusiaan. Kemajuan yang kita cita-citakan bukan sekadar maju, tetapi kemajuan yang bernilai dan bermanfaat bagi manusia,” ujarnya.
Namun demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa ini mengakui bahwa nilai-nilai luhur Aswaja sering kali sulit diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran material yang mendominasi kehidupan modern.
“Kadang kita ditanya, apa nilai Aswaja ketika berhadapan dengan ukuran-ukuran yang serba materialistik? Di sinilah tantangan kita,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Mamak juga mengulas dua corak sistem ekonomi yang berkembang saat ini. Menurutnya, ekonomi kapitalistik yang berorientasi pada modal dan finansial memang mampu menciptakan pertumbuhan, tetapi tidak jarang berubah menjadi sistem yang mengorbankan kelompok lemah.
“Ketika yang penting hanya menguntungkan sebagian orang, semuanya dianggap wajar. Padahal banyak pihak yang akhirnya tumbang karena tidak memiliki modal yang cukup untuk bertahan,” ungkapnya.
Sementara itu, sistem ekonomi sosialisme lebih menitikberatkan pada kepemilikan barang sebagai basis ekonomi. Di tengah dua arus besar tersebut, ia mempertanyakan posisi kader NU.
“Pertanyaannya, ekonomi seperti apa yang lahir dari nilai-nilai Aswaja yang kita banggakan? Jangan-jangan kita hanya menjadi tenaga kerja bagi sistem ekonomi yang dibangun orang lain,” tuturnya.
Lebih jauh, Kiai Mamak menegaskan bahwa teologi Aswaja tidak boleh berhenti pada tataran konseptual, melainkan harus bersifat transformatif dan mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
“Hampir tidak ada gunanya kita berbicara teologi kalau tidak transformatif. Kita harus memiliki keyakinan bahwa ilmu yang kita pelajari, organisasi yang kita jalani, mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kader NU harus mampu menjawab pertanyaan tentang manfaat nyata keberadaan organisasi.
“Kalau orang bertanya, apa pentingnya menjadi kader NU? Apa yang bisa dilakukan NU? Maka kita harus bisa menjawabnya dengan karya dan solusi, bukan sekadar slogan,” ujarnya.
Menurut Kiai Mamak, pendekatan humanistik yang diwariskan para ulama NU tercermin dalam upaya mencetak kader yang moderat, toleran, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Ia menjelaskan, paradigma pendidikan humanistik memiliki sejumlah prasyarat penting. Salah satunya adalah terwujudnya kesejahteraan psikologis peserta didik.
“Pembelajaran harus mampu menyelesaikan persoalan kesejahteraan mental. Respons terhadap persoalan psikologis bukan dengan bermalas-malasan, tetapi dengan membangun kecintaan terhadap belajar,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa kebahagiaan dalam belajar harus melahirkan kecintaan terhadap ilmu, bukan fanatisme terhadap individu ataupun kelompok tertentu.
“Kalau seseorang benar-benar mencintai ilmu, dia tidak akan fanatik. Orang yang fanatik sesungguhnya bukan mencintai ilmu, tetapi mencintai apa yang ada di kepalanya sendiri,” jelasnya.
Selain itu, pendidikan humanistik juga menuntut adanya otonomi bagi peserta didik. Namun, menurutnya, kebebasan harus tetap memiliki arah.
“Otonomi bukan berarti disorientasi. Percaya diri juga berbeda dengan tidak tahu diri. Totalitas juga berbeda dengan kegilaan. Semua itu harus bisa dibedakan agar kita tidak kehilangan arah,” pesannya.
Menutup paparannya, Kiai Mamak mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang bergerak menuju masyarakat industrialistik. Jika pendidikan hanya mengikuti arus tersebut, ia khawatir generasi muda hanya akan menjadi pekerja yang menggerakkan sejarah orang lain, bukan menjadi subjek yang menciptakan sejarahnya sendiri.
“Kalau semuanya diarahkan pada industrialistik, besar kemungkinan kita hanya menjadi budak korporasi. Pendidikan seharusnya menjadikan kita agen perubahan dan subjek sejarah,” tandasnya.
Karena itu, ia berharap IPNU dan IPPNU menjadi motor penggerak lahirnya pendidikan yang inklusif, egaliter, dan humanistik, sehingga mampu mengurangi kesenjangan mutu pendidikan sekaligus memperkuat peran generasi muda NU dalam menjawab tantangan zaman.
“Mari kita isi masa depan dengan paradigma pendidikan humanistik. Jangan minder dengan berbagai indeks pendidikan yang sering dibandingkan dengan negara lain. Yang terpenting adalah apa sumbangsih kita bagi peradaban dan kemanusiaan di masa depan,” pungkasnya.

