Image Slider

Menyelami Nasihat Syekh Abdul Qadir Jailani di 62 Majelis Ilmu

Oleh: Abdul Warits

Judul: Fathur Rabbani (Menemukan Kunci Rahasia Ilahi)
Penulis: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Penerbit: Turos Pustaka
Cetakan: Maret, 2021
Tebal: 632 halaman
ISBN: 978-623-7327-51-6

Dalam jagad keilmuan tasawuf, siapa yang tidak mengenal kehebatan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Waliyulllah dengan gelar “Sulthanul Auliya” ini sangat masyhur di kalangan umat Islam. Eksistensinya dalam dunia tasawuf telah menjadi inpirasi, nilai dan akhlak yang senantiasa ditiru oleh  masyarakat Islam. Salah satunya sikap kezuhudan, pendiam, banyak berdzikir, selalu berpikir serta berbagai sikap teladan lainnya yang terungkap dalam khazanah keilmuan Islam dari berbagai kitab klasik.

Buku berjudul Fathur Rabbani ini merupakan manuskrip yang diterjemahkan. Di dalamnya, berisi nasihat-nasihat yang disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-jailani di 62 Majelis ilmu dan ditulis oleh seorang muridnya. Nasehat dalam buku ini mengandung hikmah mendalam untuk direnungkan dalam kehidupan kita sehari-hari.  Tema-tema yang disajikan sangat kaya dengan bagaimana seorang hamba memperbaiki hubungan yang baik dengan tuhannya melalui beberapa sikap yang harus disemai dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti qanaah, zuhud, bertaubat, menerima ketentuan takdir Allah dan lain sebagainya.

Di buku ini disebutkan dengan jelas identitas tempat dan waktu dimana Syekh Abdur Qadir Al-Jailani memaparkan nasihat-nasihanya kepada murid dan pengikutnya. Bahkan, dilengkapi dengan tanggal, bulan dan tahun sehingga menarik buku ini menjadi referensi bagi para pendakwah dan penceramah yang ingin membimbing ruhani umat sesuai dengan tema-tema yang disampaikan. Tempat yang seringkali disebut di dalam buku ini adalah di Pondok, pengajian dan Madrasahnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Seperti ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berbicara tentang tema “Tidak Ada Keinginan untuk Menjadi Kaya” di Madrasah Ma’murah (hal. 22)

Buku ini disampaikan dengan bahasa yang cukup menyentuh hati nurani pembaca ketika membaca nasihatnya dengan perlahan demi perlahan karena langsung disampaikan dengan dengan bahasa lisan kemudian dituliskan menjadi buku terjemahan ini. Misalnya, “aku (ilmu) merupakan sebentuk alasan yang memberatkanmu jika engkau tidak mengamalkanku, dan menjadi alasan penguat untukmu jika kau mengamalkanku,” (hal. 24). Dari redaksi ini, kita dapat menangkap satu pesan menarik bahwa esensi dari ilmu yang dimiliki oleh manusia adalah pengamalannya. Bukan hanya pengalaman semata, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menganjurkan agar mendengar panggilan ilmu dengan telinga hati nurani. (hal. 25)

Kekayaaan tema-tema tentang tasawuf di dalam buku ini seakan menghipnotis pembaca untuk menyelami dan menuntaskan nasehat-nasehat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dari satu majelis ke majelis lainnya. Seperti kaitannya dengan pandemi saat ini, masyarakat melaksanakan ritual doa-doa yang dibacakan setiap waktu dari berbagai wilayah. Perintah doa bertujuan agar manusia diberkati dengan apa yang dimintanya dan agar semua takdirnya menjadi baik. Sebab itulah, menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani di dalam buku ini, sepantasnya doa yang senantiasa diucapkan ialah tentang permohonan maaf, kesehatan (rohani), keselamatan yang terus menerus dalam agama, dunia dan akhirat. (hal. 22)

Selain dijelaskan dengan bahasa yang lugas, penuh makna, dan menyentuh hati pembaca, buku ini juga berisi analogi sempurna dengan nasehat-nasehat yang memotivasi seorang pembaca untuk bersikap simpatik terhadap apa yang disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam nasehatnya.  Sikap qanaah (berpuas diri dengan apa yang dimiliki) merupakan khazanah yang tidak akan ada habisnya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menerangkan dengan analoginya, bagaimana mungkin kita akan mencari sesuatu yang tidak dibagikan kepada kita dan tidak ada di tangan kita sama sekali. Kendalikanlah dirimu, relalah dengan apa yang kau miliki, dan berzuhudlah pada selain Allah SWT. (hal. 32).

Beberapa contoh akhlak yang terpuji, terutama dalam peningkatan kualitas spiritual dalam berhubungan dengan Allah dijelaskan dengan penuh bijaksana dan komprehensif di dalam buku ini. Setidaknya jika disimpulkan isi buku ini meliputi bagaimana mengenal Allah SWT, menyucikan hati, akhlak yang baik bagi orang Islam, keutamaan setiap amalan, cinta dan takut kepada Allah, tatacara zuhud dan meninggalkan dunia, keutamaan akhirat, berpegang teguh pada Nabi Muhammad dan Al-quran, tata cara mencintai Allah, sabar terhadap ujian dunia.

*) Abdul Warits, Penulis lepas, lahir di Grujugan Gapura Sumenep Madura. Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep Madura.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga