Image Slider

Anak Pancingan

Cerpen: Zainul Muttaqin

“Gibran! Tunggu,” Gibran menoleh melihat ibunya yang terengah-engah. Ia menghampiri Marena dan membawanya ke dalam rumah. Gerimis tipis turun dari langit. Tangan Gibran menghalau hujan yang jatuh di atas ubun-ubun ibunya.

“Kenapa kau tiba-tiba pergi dari rumah dan tak ijin sama ibu?” Marena memandangi anaknya. Berarti menurut Gibran, ibunya benar-benar tak mendengar suara Gibran saat dipanggilnya tadi. Ia jadi tak mendengar gara-gara terlalu sibuk dengan perutnya yang kian membesar. Dari sanalah kejengkelan Gibran bermula. Gibran ingin menjelaskan semuanya, tapi dia membatalkannya karena memang tidak pantas menyimpan kesal di ceruk hatinya hanya soal perhatian ibu lebih mendalam pada calon bayinya ketimbang Gibran.

“Aku sudah panggil ibu berkali-kali. Tapi ibu tak mendengar,” kata Gibran. Ia berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum. Langit lebam menurunkan hujan yang merayap di kaca jendela dan berisik di atas genting. Ibunya membalas senyum Gibran. Namun jarum jam baru saja berputar semenit ia sudah kembali mengelus perutnya.

Sadiman yang sedang berdiri di ambang pintu melihat Gibran melengos kecut ke kamarnya. Istrinya tidak sadar Gibran sudah hilang di sampingnya dan terkejut melihat Sadiman berdiri di dekatnya. Kepada suaminya ia bertanya “Loh kemana Gibran?” lelaki berkulit putih itu menggelengkan kepalanya. Meski nyatanya ia mengetahui kemana Gibran pergi. Sadiman mengembuskan napasnya agak berat keluar dari dadanya yang ringkih melihat tingkah istrinya terhadap Gibran.

“Tak seharusnya kau acuhkan Gibran seperti itu,” Sadiman melihat istrinya yang masih saja mengelus perutnya dengan pelan-pelan sejak sejam yang lalu.

“Aku tidak mengacuhkannya,” Marena memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya. Ia berusaha menyembunyikan sesuatu dari lelaki yang menikahinya sepuluh tahun silam itu.

“Aku melihatnya sendiri kau membiarkan Gibran melengos kecut dan masuk ke kamar. Kau tak menghiarukannya,” gari-garis keterkejutan nampak bersilang-silang di dahi Marena. Sadiman mengerti jika istrinya tengah bahagia lantaran ia akan punya anak yang benar-benar lahir dari rahimnya dan mengalir darah dagingnya sendiri. Tapi bukan berarti ia harus lupa dan tak lagi menyanyangi Gibran layaknya anak kandung. Walau anak lelaki sepuluh tahun itu diambil dari panti asuhan saat sepasang suami istri itu tak kunjung dikarunia anak di usia pernikahan yang nyaris mencapai sepuluh tahun.

Sadiman tak ingin peristiwa besar yang disimpannya selama bertahun-tahun terbongkar sebelum waktu yang tepat. Gibran tak boleh tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia bisa jadi akan minggat dari rumah berupa gedung mewah itu kalau saja Gibran mengetahui cerita yang sesungguhnya. Melihat tingkah istrinya Sadiman menjadi was-was. Khawatir Gibran bertanya macam-macam. Itulah mengapa Sadiman kerap menyarankan pada istrinya supaya tak menulikan telinganya ketika Gibran bicara, apalagi menunjukkan gelagat aneh di depan mata Gibran.

Belakangan, Marena memang kerap memancing curiga anak lelakinya itu. Kali ini ia berjanji pada suaminya untuk lebih waspada. Tak lagi memamerkan tingkahnya yang kelewat senang lantaran perutnya benar-benar dihuni seorang bayi setelah susah payah selama ini mencari cara dan minta petuah dari orang-orang terdahulu. Marena masih ingat betul petunjuk yang didapat dari Sari, perempuan mandul yang akhirnya punya anak. Bahkan semua anaknya kini berjumlah belasan.

“Mungkin kau kurang syarat jadinya tak dikarunia anak,” kata Sari waktu itu. Anak-anak Sari saat ini sudah ada yang dewasa. Tapi perempuan itu tetap rajin melahirkan. Katanya, banyak anak menambah rezeki.

“Syarat apa Sar?” Marena memburu jawaban dari mulut Sari. Matanya berbinar-binar mengeluarkan cahaya. Sungguh ia tak sanggup lagi mendengar kelanjutan kata-kata Sari.

“Kau adopsilah anak,” Marena mengernyitkan dahi. Ia tampak kecewa setelah tahu apa yang dikatakan Sari padanya. Tapi Sari malah tertawa terpingkal-pingkal melihat Marena menelan ludah menandakan putus harapan.

“Aku mau punya anak sendiri. Lahir dari rahimku sendiri. Bukan anak adopsi!” Sari semakin tertawa sampai bahunya berguncang-guncang mendengar penjelasan Marena. Sadiman hanya mendengar perbincangan istrinya dengan Sari dan tak sedikit pun ia menimpali. Dahinya berkernyit dan baru kali ini ia menambahi ucapan istrinya, “Kami ingin anak yang lahir dari darah daging kami. Bukan adopsi. Apa syarat sebenarnya?” keinginan Sadiman untuk punya anak sama kuatnya dengan istrinya. Cukup rasanya ia menanggung kesepian berdua bersama istrinya selama kurang lebih sepuluh tahun. Cukup pula syarat ia ikuti, tapi tak ada hasil. Kepada Sari, mereka menumpukan harapan agar menemukan jalan yang bisa memberinya mereka keturunan dari darah daging sendiri.

“Kau adopsi anak sebagai pancingan. Kau tahu Aris, anak tertuaku bukan anak yang kukandung. Aku mengadopsinya dari sepupuku yang terlebih dulu punya anak. Aris hanya untuk memancing supaya aku hamil. Begitulah juga yang dilakukan orang-orang terdahulu. Kalau kau memercayainya, lakukanlah.” Sadiman langsung menatap istrinya. Ia melihat matanya menyala. Marena percaya begitu saja dengan perkataan Sari karena cara itu telah terbukti dengan hamilnya Sari setelah mengadopsi Aris.

Dalam bilangan bulan Marena sempat risau bila ia tak kunjung mual-mual pertanda kehamilan. Padahal ia sudah menuruti saran Sari. Ia mengadopsi Gibran dari sebuah panti asuhan. Waktu itu Marena dipertemukan dengan seorang ibu, wajahnya lusuh datang ke panti asuhan menitipkan anaknya di sana. Sadiman yang menemani istrinya ke panti melirik Gibran kecil dalam gendongan ibunya, dan lelaki berkumis tebal itu tertarik untuk mengambil bayi itu jadi anaknya.

Tak sia-sia usaha Marena. Ia hamil setelah purnama bulat berbaring di hamparan biru langit. Usia kehamilannya kini menuju bilangan bulan kelima. Perhatian Marena tercurah habis pada bayi yang bersemayam dalam perutnya. Sampai-sampai kadang ia lupa kalau ada Gibran di rumah itu. Inilah yang membuat Sadiman cemas melihat tingkah pola istrinya. Ia takut peristiwa sekian silam yang disimpannya itu bocor ke gendang telinga Gibran.
“Selain niat sebagai anak pancingan. Niatkan pula bahwa kita mengadopsi Gibran juga untuk menolong kehidupannya, menyanyanginya sebagaimana anak kandung sendiri. Ia tidak boleh tahu semua ini. Karena akan sangat sakit hati bila ia mengetahui kebenarannya,” kata Sadiman seraya memerhatikan gerak runtun tangan istrinya yang senantiasa mengusap perutnya.

Ucapan Sadiman membuat mata Marena terpejam, menelusuri kejadian demi kejadian saat ia lebih sering mengacuhkan Gibran beberapa bulan ini. Marena ingat, Gibran adalah anak yang baik. Tak pernah merepotkan dirinya selama kurun waktu sepuluh tahun ini. Ia mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Alangkah merasa bersalah Marena dengan Gibran karena tingkahnya sendiri yang terlampau mencintai kandungannya sampai lupa pada Gibran. Padahal ia yang membuat bibir Marena mengembang serupa kuntum bunga mekar di pagi hari.

“Tetapi kelak kita harus memberitahunya, sebelum ia mengetahuinya sendiri.” Marena menatap kerutan yang bergaris terombang-ambing di dahi suaminya. Sadiman masih belum menemukan cara dan waktu yang tepat untuk mengungkap tentang diri Gibran. Ia tidak ingin merobek hati Gibran, tetapi akhir-akhir ini Gibran melihat gelagat yang lambat laun tampak kentara dari Marena.

Sadiman sudah sekuat tenaga mengunci mulutnya, termasuk mulut istrinya yang susah ditutup. Tapi pada hari itu, keduanya tidak sadar telah membuka obrolan pendek di ruang tamu yang sampai terdengar ke gendang telinga Gibran. Angin bergoyang di ujung daun. Geletar merambat dari lutut Gibran sampai ia nyaris tersungkur ke lantai. Ia tak dapat percaya dengan apa yang didengarnya sendiri barusan, “Gibran memang cuma anak pancingan, tapi ia sudah seperti anak kandung,” kalimat ini diucapkan Sadiman pada istrinya yang tak berhenti mengelus perutnya.

“Apa guna aku tinggal di rumah ini?” suara Gibran terdengar dari belakang. Mereka menoleh secepat angin. Sadiman memandang wajah Marena, lalu mereka sama-sama menatap wajah Gibran yang memperlihatkan raut kesedihan. Mereka tak dapat berkata apa-apa, kecuali mengembuskan napasnya masing-masing. Marena coba memeluk tubuh Gibran, tetapi anak lelaki sepuluh tahun itu menolak mentah-mentah tangan Marena yang hendak melingkari tubuh kecilnya.

“Ketika ikan sudah didapat, maka umpan tak berguna lagi. Dan aku hanya umpan supaya ibu bisa hamil. Dan apalah artiku sekarang ini?” mata Gibran berkaca-kaca, selanjutnya gerimis meleleh melalui kedua pipinya dan jatuh di atas lantai.

Hening. Tidak ada yang bersuara. Jarum jam berdetak bersahutan dengan degup jantung mereka masing-masing. Wajah Marena pucat begitupun raut muka Sadiman yang tiba-tiba pias. Dalam sekejap Marena memeluk Gibran diikuti suaminya. Mereka terisak bersama dan bersama-sama pula mengucurkan air mata hingga angin berhenti di pinggir jendela. Sebelum pelukan itu terlepas Marena bilang pada Gibran, “engkau anak yang kukandung dari kasih sayang walau tidak sedarah.” Tangis Gibran terdengar merana. Setangkai senyum tumbuh dari bibirnya.

Zainul Muttaqin. Lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Kini tinggal di Pamekasan Madura. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep. Cerpennya “Celurit di Atas Kuburan” terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 2019. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Buku kumpulan cerpennya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2019).

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga