Giliraja, NU Online Sumenep
Kabupaten Sumenep kaya dengan bangunan bersejarahnya dan syarat dengan nilai estetik, sehingga menjadi icon wisata religi bagi para pelancong, baik dari manca negara dan warga lokal.
Jika masjid Jamik menjadi landmark di perkotaan, berbeda dengan masjid jamik Alhamdulillah yang letaknya di Dusun Lombang, Kepulauan Giliraja, Kecamatan Giligenting. Masjid kuno tersebut berdiri kokoh dengan gaya arsitektur klasik. Dinding bangunan, pintu gerbang, tiang masjid, dan beragam ornament di area sekeliling masjid terbuat dari batu karang yang konon pembuatannya memakan waktu yang cukup lama dan disertai ritual keagamaan.
Profil Masjid Alhamdulillah
Masjid tersebut didirikan oleh K. Abu bakar pada tahun 1982 bersama santrinya di kampong Cang-Cang. Yangmana sebagian santrinya dari kalangan TNI dan POLRI. Menurut K. Umar Al-Faruq selaku ketua takmir masjid mengutarakan bahwa saat proses mendirikan masjid, K. Abu Bakar tidak pernah melibatkan masyarakat sekitar.
Saat dimintai keterangan oleh tim media, Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja tersebut menjelaskan bahwa kebiasaan beliau adalah selalu berpindah-pindah ke tempat lain dengan misi membangun masjid, seperti di daerah Banyuwangi, Bali, dan Batam yang pernah dijalankannya. Kebiasaan tersebut berdampak pada finishingnya, sehingga sebagian masjid yang didirikannya terbenkalai pada tahun 2003. Hingga akhirnya tanah tersebut diwakafkan kepada masyarakat untuk melanjutkan misi luhurnya, yaitu li i’la kalimatillah dan syiar atau dakwah.
Ketika ditinggal oleh sang arsitektur (K. Abu Bakar), masjid tersebut tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Pada tahun 2003, masjid yang letaknya di kepulauan Giliraja diserahkan dan dikelola oleh masyarakat, sehingga lambat laun masyarakat berbondong-bondong bisa melaksakan shalat Jum’at dan menyelenggarakan beragam perayaan hari besar Islam di kawasan tersebut.
Sebelumnya, banyak tantangan dari sebagian tokoh masyarakat yang menyatakan ushalli algudengi (Red. Madura) bukan dengan niat ushalli tahiyyatal masjid. Maklum pada waktu itu shalat Jum’at yang pertama kali dilaksanakan di masjid tersebut atapnya masjid masih menggunakan terpal. Berangkan dari permasalahan tersebut, maka diganti dengan talang asbes yang bentuknya seperti gudang. Disitulah diberi nama masjid Alhamdulillah karena masyarakat sekitar mulai banyak yang shalat dan meramaikan masjid.
Saat tanggal 10 Asyura, masyarakat menyembelih sapi, kemudian kepalanya diletakkan dalam sebuah bitek (tempat sesaji) dan dibuang ke tengah laut. Tradisi tersebut sebagai bentuk mengungkapkan rasa syukur pada Allah SWT bahwa masjid Alhamdulillah telah berfungsi sebagaimana mestinya masjid lain. Pada saat yang sama, disusnlah struktur masjid dan menggelar selamtan atau syukuran disertai menyantuni anak yatim yang berlangsung hingga saat ini.
Susunan Takmir Masjid
Dahulu kala, susunan pengurus takmir masjid, terdiri dari ketua dan didampingi perangkatnya yang membidangi pembangunan serta kegiatan ubudiyah. Ketuanya adalah ustadz Jumadin dan didampingi oleh ustadz Musa Bahtiar. Pada tahun 2004, K. Umar Al-Faruq ditunjuk sebagai ketua takmir.
Megahnya masjid Alhamdulillah yang saat ini menjadi pusat syiar Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah an-nahdliyah di kepulauan Giliraja, hakikatnya digagas oleh 15 orang yang dikatakan minal mukhlisin, antara lain: K. Umar Al-Faruq, ustadz Jumadin, Bura’ie, Matgasim, Atryono, Hordiyansyah, P. Rus Ma’ iel, P. Torasit, Ervan, Sudarsono, M. Jazuli, Supandi, P. Parto, P. Danik Matriju, dan P. Asrawi. Kelima belas orang tersebut terlibat dalam pembangunan dan kemakmuran masjid Alhamdulillah hingga saat ini.
Pewarta: Firdausi

