Image Slider

Belajar dari Gusdur, Imlek Merawat Kebhinnekaan

Hari Raya Imlek, begitulah masyarakat Tionghoa Indonesia menyebut pergantian tahun barunya. Tahun ini 2021 Imlek jatuh pada hari Jumat tanggal 12 bulan Pebruari 2021.

Perayaan malam Tahun Baru China ini biasanya dimulai pada malam tanggal 11 Februari, dimana orang-orang berkumpul, makan malam bersama keluarga dan ada yang begadang sampai larut malam.

Adapun tanggal 12 Februari, disebut Hari Tahun Baru China, orang-orang bergegap gempita silaturrahim mengunjungi keluarga dan saling memberikan hadiah.

Perayaan Imlek biasanya berlangsung sampai 15 hari. Hari terakhir disebut Cap Go Meh atau hari penutup perayaan tahun baru. Dikenal juga dengan Festival Lampions. Mereka menyalakan dan menggantung lentera-lentera bersinar yang gemerlap. Orang-orang lain menyaksikan tarian naga atau barongsai di jalan-jalan. Pagelaran yang menakjubkan. Kebahagiaan berantai.

Sayang, di tahun-tahun pandemi kali ini warga China yang biasa bergembira terpaksa harus mengunci bahagia. Negara menghimbau agar merayakan hari raya Imlek dengan cara baru yang lebih tolerans dan menghindari kerumunan, demi menjaga diri dan orang lain.

Kita jadi teringat sejarahnya yang kelam. Lebih 30-an tahun umat agama Kong Hu Cu mengalami diskriminasi yang dalam, terkucil oleh refresifitas orde baru.

Kebebasan beragama dan berkeyakinan yang diatur Undang- Undang, terpaksa harus bertekuk lutut dibawah tekukan peluru Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Perayaan Imlek (Guo Xin Nian) selain juga Cap Go Meh, Ceng Beng, Sembahyang Rebut, dan budaya lainnya dianggap sebagai sebuah afinitas budaya pada negeri leluhurnya, Tiongkok, yang difahami akan menghancurleburkan budaya bangsa Indonesia.

Padahal jika dilihat dari nama “Imlek” sendiri berbeda dengan perayaan hari raya China di negara lain. Imlek lahir melalui rahim senyawa Nusantara terhadap istilah Hokkian, “Yin li”.

“Imlek” katanya berasal dari kata Yin li, yang artinya lunar calendar (Kalender bulan). Tahun baru China itu dari roda kalender hitungannya sama dengan tahun baru Islam, karena dihitung berdasarkan peredaran bulan. Perayaan Imlek pada tahun 2021 ini telah memasuki tahun 2572 dalam kalender China.

Sejarah pernah memarjinalkan hari raya ini ke sudut-sudut terdalam dalam kehidupan peradaban bangsa. Padahal apa yang salah darinya. Bukankah UUD 1945 Pasal 29 Ayat 2 terang benderang menyatakan _”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”._

Pasal itu semestinya menjadi dasar pijakan bagi negara untuk menjamin kemerdekaan terhadap, _satu,_ kebebasan memeluk agama dan, _kedua,_ kebebasan beribadah sesuai kepercayaan. Kebebasan itu bagi warga Tionghoa pernah menjadi barang mahal yang menghantui warga Tionghoa.

Dan, bukankah negeri kita Indonesia tercinta ini sendiri mempunyai hubungan yang sangat manis antara agama dengan negara. Hubungan mutualistik yang saling melengkapi dan tidak saling memunggungi. Tidak saling mendepak atau saling mengucilkan. Sehingga minoritas tidak merasa tersungkur karena yang mayoritas diperlakukan tidak mampu merangkul. Kita percaya bahwa Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama yang berdasar pada agama tertentu saja.

Tapi apa kenyataannya, puluhan tahun kebebasan itu tercengkram erat tak berkutik dibawah ketiak orde baru. Kebebasan bagi warga Tionghoa seperti burung dalam sangkar beton yang tak mampu mengepakkan sayapnya terbang ke langit tropis menikmati alam Indonesia raya yang katanya subur dan makmur.

Kungkungan itu akhirnya pecah dengan datangnya Sang Pembebas, seorang pembaharu, tokoh besar Presiden ke-4 Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur. Beliau cabut Inpres presiden sebelumnya melalui Keppres RI Nomor 6 Tahun 2000. Gusdur dan kometmen keluarga besar Nahdlatul Ulama telah membuka rantai diskriminasi, melepaskan kebebasan warga Tionghoa untuk dapat merayakan hari rayanya di ruang publik.

Kebijakan Gus Dur di tengah kran demokrasi dan kebebasan berbicara yang terbuka lebar saat itu, bukan tanpa resiko. Banyak sekali kritikan, perlawanan, dimusuhi kelompok tertentu, difitnah, diprovokasi, disalahpahami.

Tapi Gusdur terus menembus badai. Saat sampai di puncak era keterbukaan seperti saat ini, dimana pluralitas dan kebhinnekaan makin membangun kesadaran kolektif banyak orang, dunia terbelalak bahwa yang dilakukan Gusdur dulu itu benar. Indonesia makin merasakan hasilnya sekarang, disaat negara-negara di timur tengah berada di kubangan konflik berdarah, Indonesia yang beragam agama dan etnisnya justru keluar dari ancaman konflik, damai dan sejahtera.

Gus Dur membuka cakrawala berfikir banyak orang bahwa warganegara Indonesia etnis apapun, di hadapan negara adalah sama dan setara kedudukannya. Tak peduli ia beretnis dan beragama apa. Bahkan agama Islam ditengah keberagaman makin menunjukkan kebesarannya sebagai agama universal. Islam sendiri memproklamirkan dirinya sebagai agama rahmatan lil’alamin, agama yang menggantungkan cita-cita agung, demi mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan beragama yang penuh belaian kasih sayang dan harmoni untuk alam semesta, bukan hanya untuk segelintir kelompok dan umat tertentu.

Gusdur, Pada tanggal 9 April 2001, dengan Keputusan Presiden Nomor 9 tahun 2001, meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif, libur boleh, tak libur juga tidak apa-apa. Empat tahun setelah terbitnya Inpres, tepatnya pada tanggal 10 Maret 2004, bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie, masyarakat Tionghoa lalu menyematkan julukan “Bapak Tionghoa” kepada cucu hadratus syeh KH. M. Hasuim Asyari ini.

Tak hanya itu, agama Kong Hu Cu kelak menjadi salah satu agama resmi negara tanah tercinta ini selain agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha.

Gusdur melakukan itu bukan hanya semata ingin menggapai misi kemanusiaan membela hak-hak kaum minoritas, tetapi lebih jauh lagi beliau ingin membentangkan jalan panjang dibukanya pintu gerbang eksistensi tradisi dan budaya etnis Tionghoa di bumi Indonesia.

Dulu, diskriminasi memenjarakan kreatifitas etnis Tionghoa pada masa Orde baru, tidak boleh menampilkan identitas komunal mereka di raung publik.
Instruksi Presiden Soeharto Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China, memaksa etnis Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadatnya hanya bisa dilakukan secara terbatas. Mereka diperbolehkan merayakan tapi dalam suasana tertutup, hanya di lingkungan keluarga.

Bahkan surat- surat kependudukan warga berdarah Tionghoa harus mereka urus secara berkala di kelurahan.

Tapi zaman itu sudah terkubur, kini sejak era Gus Dur penganut Kong Hu Cu telah memperoleh hak-hak asasi-nya, merayakan ritual kebudayaannya dengan bebas, dan mendapat pengakuan kependudukan yang sama.

Pada sebuah pertemuan lintas agama di Pesantren Tebuireng Jombang beberapa tahun yang lalu, umat Konghucu sangat gembira menghargai Gus Dur, dan mengatakan dengan nada humor, _”Apabila Gus Dur tidak diterima di surganya Islam, maka Gus Dur akan diterima di surganya Konghucu”_.

Kesamuderaan Gus Dur sejak dulu lebih mengedepankan sisi kemanusiaan manusia, bukan hanya semata segi formalistik kaidah-kaidah keagamaan Islamnya saja, kaidah fiqihnya saja. Tapi Maqasidus syariah untuk saling mengenal dan mengasihi dari tujuan mendasar berdirinya suku-suku dan bangsa bangsa terus digaungkan dan dikedepankan.

Ditengah keberagaman dan kemajemukan Indonesia, Perayaan Imlek oleh Gus Dur dibuka gembok sejarahnya, diperingati sebagai antitesis atas kebijakan pemerintahan Orde Baru yang amat diskriminatif. Diakui atau tidak, Inpres Nomor 14 tahun 1967 prakteknya telah mengeksklusi komunitas Tionghoa di antara hiruk pikuk kicau budaya etnis lainnya.

Sang Wali Gus Dur telah mengajarkan kita tentang cara memanusiakan manusia tanpa melihat suku, agama, ras, budaya. Kini tinggal bagaimana kita melanjutkan nilai-nilai peradaban kemanusiaan yang diajarkan oleh Gus Dur itu dapat kita rawat untuk menyempurnakan kemanusiaan kita, dan untuk merawat kebhinnekaan di tengah politik identitas yang selalu ditarik ulur sesuai kepentingan politik elektoral kebangsaan.

Saat ini, pemaknaan islam yang farsial juga kerap digunakan untuk mengharamkan komunitas agama dan etnis lain agar tak bergerak merayakan hari rayanya, merayakan Indonesianya.

Dimasa hidupnya, Gusdur melindungi dan membela umat Tionghoa dengan terminologi hari raya Imlek yang disebutnya bukan perayaan hari raya, tapi perayaan tani biasa yang biasanya dirayakan oleh para petani di China.

Bahkan beliau pernah mengaku dirinya sebagai Cina tulen. Menyebut nenek moyang beliau orang Tionghoa asli, tapi sekarang sampai di Indonesia etnis china sudah nyampur dengan Arab dan India.

Kata beliau, budaya Betawi tempat china itu tinggal telah campur aduk antara Arab, Melayu, dan Tionghoa.

Gusdur pernah cerita juga bahwa dirinya adalah turunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V. Putri Campa itu lahir di Tionghoa, lalu dibawa ke tanah subur bernama Indonesia. Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa itu dikaruniai dua orang putra. Yang pertama bernama Tan Eng Hian, pendiri kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama menjadi Raden Patah. Sedangkan putra Putri Campa yang satunya bernama Tan A Hok yang akhirnya menjadi seorang Jenderal.

Inilah semangat negara kesatuan yang dibangun Gusdur diantara ragam etnis dan agama yang berbeda. Semua manusia adalah saudara. Ia yang bukan saudaramu dalam agama sekalipun, ia adalah saudaramu dalam kemanusiaan (ukhuwah basyariyah).

Hindari dan abaikan jika masih ada segelintir pihak yang menaikkan isu provokasi atas nama agama, golongan, suku, etnis menggunakan percikan panas api politik identitas (membawa agama, ras, budaya), lalu melempar pihak-pihak lainnya seolah kecil, ringan dan sendirian.

Islam yang gagah dan megah ini jangan dipanggang menjadi tirani mayoritas untuk mengalahkan, dan mendiskriminasi minoritas.

Karena laksana bola api, di daerah dimana umat Islam minoritas maka akan diperlakukan sama, dan itu makin menyuburkan konflik ditengah keragaman yang indah ini.

Gus Dur telah tiada, tapi harumnya tetap menyeruak ke ruang-ruang kehidupan. Anak-anak ideologis Gus Dur dimanapun saja berada akan terus menggaungkan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan.

Diantara manusia- manusia sumbu pendek yang mudah terbakar dan terprovokasi, masih bejibun anak bangsa yang berfikir waras dan rasional, mampu melihat angkara kerakusan yang menyala-nyala, mengorbankan nilai kemanusiaan dan menumbalkan agama untuk saling berperang.

Memahami Hari Raya Imlek tahun ini, mari hentikan provokasi atas nama agama dan etnis.

Provokasi agama itu disebut Tuhan paling dzalim dan kejam. Semakin kita menikamkan api provokasi pada tubuh Indonesia, sejatinya kita sedang menyiapkan bunuh diri pada diri kita sendiri, pada ketokohan kita, pada jiwa-jiwa kita.

Sadari, peradaban semakin menuju kewarasannya. Saat ada fakta kewarasan terkuak, maka gelombang gelap itu terlempar, dan gelombang kebenaran tak akan mampu dikendalikan. Ia merasuk dalam hati, mewabahi setiap kawasan, menggetarkan resonansi jiwa dengan hentakan peristiwanya, menjadi ilmu menjadi peradaban.

Mari rawat apa saja yang telah diajarkan sang guru bangsa Gus Dur kepada kita melalui momentum hari raya Imlek ini. Gusdur mengajari dan menjaga kedewasaan kita dalam hidup beragama, berbangsa, dan bernegara.

Jadikan berbagai benturan horizontal selama ini sebagai proses kematangan beragama. Kita yang beragama dengan benar tentu tak ingin menyenangkan Tuhan dengan cara menyakiti kebahagiaan orang lain.

Jika orang lain bahagia dengan hari rayanya kenapa kita harus memendam sedih dengan tafsir agama yang kita fahami secara tunggal.

Bukankah mayoritas pesan agama itu universal. Jangan himpit hatimu dengan kesal dan dendam. Mari lebarkan tawa dan ulurkan tangan panjang-panjang, seraya berucap “Selamat Hari Raya Imlek saudaraku, Gong Xi Fa Cai, Selamat berbahagia dan kaya raya”. Kata Gusdur,
“Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Zubairi Karim: Wakil Ketua PCNU Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga