Oleh: Firdausi
Seluruh pesantren di Indonesia memiliki tradisi yang kuat dalam mengagungkan Rasulullah SAW. Wujudnya berbentuk pembacaan shalawat yang isinya pujian-pujian dan doa-doa kepada Nabi Muhammad SAW.
Jenis shalawat sangat beragam. Dalam praktiknya, setiap pesantren menggunakan shalawat yang berbeda-beda. Ada beberapa shalawat yang lumrah dipakai oleh setiap pesantren, seperti shalawat Fatih, Nariyah, Munjiyah, Mukafaah, Ibrahimiyah, dan Nur Al-Anwar. Selain itu juga ada Shalawat Kamilah, Taysyir, Burdah, Asyghil, An-Nahdliyah, Syaikhana Kholil, dan lain sebagainya. Jenis shalawat tersebut menjadi warid dan pujian kaum santri di pesantren. Tujuannya adalah untuk ketenteraman dan sarana menghadapi marabahaya.
Uniknya, di kalangan nahdliyin shalawat Badar dijadikan shalawat penggerak kaum muda untuk melawan PKI di masanya. Dengan syair yang heroik dan irama yang dinamis, mampu membangkitkan spirit kaum muda NU, seperti halnya IPNU-IPPNU, PMII, Ansor ataupun Banser. Sehingga mereka sigap, tegar, dan siaga saat menghadapi PKI yang dipersenjatai lengkap.
Dengan demikian, shalawat Badar hakikatnya untuk memberikan semangat dan menjernihkan suasana ketika terjadi ketegangan atau kekacauan. Dan Shalawat Badar terbukti ampuh untuk menyatukan kembali semangat juang, sehingga warga NU bersatu melawan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Berkat perkembangan teknologi, shalawat yang digubah oleh Kiai Ali Manshur semakin sering digunakan, bahkan tidak hanya digunakan oleh kalangan santri tetapi juga oleh masyarakat luas.
Bahkan, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep pernah menyampaikan dalam ceramahnya, bahwa membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling besar pahalanya. Sesungguhnya membaca shalawat mampu mengantarkan pengamalnya ke makrifat Allah SWT, meskipun tanpa guru. Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi.
*) Direktur NU Online Sumenep

