Oleh: Firdausi
Alkisah, ada rombongan wisata religi yang berasal dari Sumenep pergi ke Bangkalan untuk nyekar ke maqbaroh Syaikhona Muhammad Kholil bin Abd Latif di Desa Martajasah, Kecamatan Kota/Bangkalan. Usai berziarah, kebiasaan orang Madura adalah pulang ke rumah harus membawa buah tangan atau dikenal oleh-oleh untuk dishadaqahkan pada tetangga dan kerabatnya di rumah.
Ketika dalam perjalanan pulang, ibu Siti (warga Sumenep) melihat pedagang buah jeruk di pinggir jalan. Sontak ibu tersebut meminta kepada sopir untuk menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Ibu A: Monggo ibu…jeruknya kami jual murah.
Siti: Wah…segar-segar buah jeruknya. Ngomong-ngomong manis ngak jeruknya?
Ibu A: Jeruk ini lok celok bu.
Siti: Yeh…mon lok celok, burung se melleyah (berhubung buah jeruknya kecut semua, maka saya gagalkan untuk membelinya).
Ibu A: Bunten bu…jeruk ini tidak kecut.
Siti: Loh…bukannya tadi jennengan bilang bahwa jeruknya lok celok?
Ibu A: Di Bangkalan, lok celok artinya tidak kecut.
Siti: @#$%^*&+!

