Gapura, NU Online Sumenep
Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-18, Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Baitul Maal wa Tamwil Nuansa Umat (BMTNU) Jawa Timur menggelar Rihlah Sanad Perjuangan Pengelola BMTNU dengan mengunjungi Pondok Pesantren Wali Songo Panji, Situbondo, Kamis (16/06/2022).
H Masyudi Kanzillah, Direktur Utama BMTNU Jawa Timur berharap, dengan adanya kegiatan ini, pengelola lebih menguatkan daya juang dan jiwa pantang menyerah sehingga benar-benar menjadi pejuang sejati di jalur ekonomi keumatan.
“Ada 44 pengelola yang ikut rihlah. Semoga pengelola meningkatkan hubungan ruhani dengan guru dan pondok pesantrennya masing-masing,” harap alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini saat dikonfirmasi NU Online Sumenep.
Dijelaskan pula, nilai-nilai kesantrian yang penuh dengan kejujuran dan kesederhanaan, harus terpatri di dalam sanubarinya.
“Setelah mendengarkan taujihad wal irsyadat dari pengasuh, bisa memompa semangat juang pengelola dan membesarkan sama-sama BMTNU ini,” pungkas Wakil Bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu.
Berikut pokok-pokok taujihad wal irsyadat pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo Panji Situbondo, KHR Kholil As’ad Syamsul Arifin.
1. Akad-akad produk BMTNU yang tertuang dalam buku Bahtsul Masail, benar-benar diterapkan dengan baik.
2. Pengelola BMTNU bukan dicetak sebagai pekerja, namun dilahirkan sebagai pejuang ekonomi syariah. Oleh karena itu, sebagai seorang pejuang harus siap dan bersedia untuk mengorbankan harta, pikiran, dan tenaga secara totalitas. Karena tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, dan niatkan berjuang karena ingin mendapatkan ridha dari Allah SWT.
3. Pejuang itu memiliki tanda-tanda perjuangan, jangan kemudian berjuang di jalan Allah SWT tapi hanya beorientasi bisnis semata. Contohlah perjuangan NU yang berorientasi pada sosial kemasyarakatan dan keagamaan.
4. Janganlah mengerjakan sesuatu tanpa mengetahui ilmunya, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Karena mengerjakan sesuatu tanpa ilmu akan mengakibatkan kerusakan. Hal ini sesuai dgn dawuh Sayyidina Umar bin Abdul Aziz dalam kitab Sullam Safinah.
“Orang yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat akan lebih banyak dari pada maslahat yang diperoleh.”
5. Dalam menyalurkan pinjaman, tidak boleh berdasarkan pada agunan yang dijaminkan, tetapi melihat dulu usahanya.
“Analisa apakah usaha mitra bisa berkembang dengan pinjaman yang kita keluarkan. Sehingga upaya kita dalam membantu mitra benar-benar dirasakan manfaatnya. Jika tidak demikian, maka pinjaman yang kita salurkan justru malah bisa memberatkan mitra, dan ini termasuk perbuatan dzalim. Lalu, apa bedanya dengan lembaga keuangan lain yang hanya berorientasi kepada keuntungan. Oleh karena itu, konsep dalam bermuamalah yang harus kita bangun adalah lembaga keuangan bisa untung, dan mitra pun bisa untung. Sehingga pinjaman yang kita salurkan bisa bermanfaat,” dawuh KHR Kholil As’ad Syamsul Arifin saat memberikan wejangan.
6. Semua orang mukmin itu bersaudara, maka janganlah merugikan sesama mukmin. Berbuat baiklah antar sesama.
“Jadikan diri kita bermanfaat kepada orang lain, khairun nas ‘anfa’uhum linnas. Karena amal ibadah yang paling utama adalah bisa membahagiakan sesama mukmin dan orang-orang di sekitar kita,” tegasnya.

