Pragaan, NU Online Sumenep
Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan sehubungan dengan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi).
“Intinya hisab itu adalah teori ilmiahnya dan rukyat sebagai ajang praktiknya,” ujar Lukmanul Hakim, Sekretaris Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk.
Hal ini disampaikan saat dirinya menjadi narasumber dalam Podcast Ramadlan TVNU Sumenep, Senin (11/05/2021). Mengingat, keberadaan hilal dan kapan sebenarnya hari raya Idul Fitri 1422 H tiba, menjadi pertanyaan besar bagi para nahdliyyin di akar rumput.
Ustadz Lukman, begitu ia akrab disapa, juga menambahkan penjelasannya dengan proses pelaksanaan rukyatul hilal tersebut.
“Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis,” ungkapnya.
Kepala perpustakaan MA 1 Annuqayah itu menyebutkan, beberapa kriteria ideal suatu tempat yang dapat dijadikan sebagai tempat rukyat.
“Kriteria ideal dari tempat rukyat itu diantaranya ke arah barat bebas pandangan pada azimuth 240 derajat adalah sampai 300 derajat, berada di tempat yang tinggi, bisa juga di pantai, bebas dari polusi cahaya, terdapat jaringan listrik, dan jaringan internet yang stabil,” paparnya.
Tidak sampai disitu, ia juga mengutarakan hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum merukyat.
“Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum rukyat yaitu memilih tempat rukyat, menyediakan teleskop, menyediakan tripod, menyediakan laptop, menyediakan kompas, dan menyediakan data hisab awal bulan hijriah,” jelas santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk itu.
Di kesempatan yang sama, pria yang pernah menjadi asisten dosen di prodi PAI INSTIKA ini memberikan komentar terkait keberadaan hilal pada tanggal 29 Ramadlan 1442 H/11 Mei 2021 M.
“Pada hari Selasa tanggal 29 Ramadlan 1442 H/11 Mei 2021 M saat matahari terbenam, keberadaan hilal masih minus yakni -4 derajat 59 menit. Ini berarti hilal masih berada di bawah ufuk dan sudah tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat yaitu minimal 2 derajat. Sedangkan secara hitungan astronomi, bulan masih belum ijtimak dengan matahari. Ijtimak baru akan terjadi pada malam Rabu dini hari jam 1:59:46 WIB. Kalau sudah hilal tidak dapat dilihat pada tanggal 29 Ramadlan, maka solusi yang ditawarkan oleh nabi yaitu kita harus menggenapkan puasanya menjadi 30 hari (Istikmal),” tegasnya.
Pertanyaan terakhir yaitu seputar kapan 1 Syawal 1442 H itu tiba. Dari hal itu, pria asal desa Lembung Barat, Lenteng ini mengulas dengan lugas dan jelas.
“Secara hisab, pada hari Rabu sore saat matahari terbenam ketinggian hilal mencapai 4 derajat 58 menit 45.47 detik. Ini sudah memungkinkan hilal dapat terlihat. Berarti kesimpulannya, hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Kamis, tanggal 13 Mei 2021 M. Tapi kita harus menunggu dulu hasil keputusan sidang itsbat Kementerian Agama (Kemenag) RI Pusat yang akan dilaksanakan besok malam kisaran jam 18:00 WIB. Saya yakin, hasilnya tidak akan berbeda dengan apa yg sudah dihisab oleh LFA,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

