Image Slider

Padamkan Ego, Latih Diri Jadi Pemaaf

“Memaafkan adalah yang paling hak (benar) dikerjakan”. (HR Baihaqi)

Dalam menjalani kehidupan sosial, kita pasti menemukan konflik antar individu, keluarga, sahabat ataupun rekan kerja. Sebagai seorang hamba, manusia memiliki banyak kesalahan terhadap sesama. Namun tak jarang dalam sebuah konflik, seseorang merasa enggan untuk saling memaafkan. Ego seseorang kadang membuatnya gengsi untuk saling memaafkan.

Salah satu akibatnya sering ditemukan orang yang tidak saling bertegur sapa dalam jangka waktu tertentu. Padahal perilaku ini dalam agama mendapatkan kecaman dan ancaman keras. Maka jelas bagi kita semua bahwa saling memaafkan merupakan tindakan yang sangat mulia.

Banyak dari kita tidak bisa memaafkan orang lain karena kesalahan yang diperbuat. Sehingga kadang muncul rasa marah atau dendam. Rasulullah SAW telah banyak mendorong umat Muslim untuk saling memaafkan melalui contoh perbuatannya semasa hidup, seperti Rasulullah SAW yang tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi (orang suruhan Hindun istri Abu Sufyan) yang telah membunuh paman tercinta Nabi, yaitu Sayyidina Hamzah (dengan cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya dan mengeluarkan jantungnya).

Hal serupa juga dicontohkan oleh panutan kita, Habib Umar bin Hafidz. Ketika bertemu dengan manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup beliau sendiri, yaitu membunuh ayah kandungnya (Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz).

Dikisahkan bahwa pertemuan Habib Umar bin Hafidz ini melalui murid beliau yang bernama Habib Ali Al Jufri. Berikut cerita Habib Ali:

“Aku pernah berada di Kota Aden, berada dalam satu majelis dengan seorang bekas penguasa atau pemimpin yang sangat dzalim. Di mana ketika berkuasa, dia melakukan banyak kemungkaran dengan membantai atau membunuh banyak ulama besar Hadramaut. Di antara yang menjadi korbannya adalah guru mulia kami asy-Syahid Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar bin Hafidz”.

“Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya. Dan ketika aku menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka atau tidak nyaman yang luar biasa. Bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekadar berdakwah sekalipun. Aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan. Dan tiba-tiba saja orang dzalim itu menghampiriku dan berkata, ‘Aku ingin bertaubat! Apa yang harus kulakukan’ Aku pun berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik. Dan aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan.

“Segera setelah keluar dari majelis, aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku, Sayyidil Habib Umar bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu. Dan beliau hanya bertanya:,

“Apa maunya?”

“Aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dengan baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan di masa lalu”.

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz kemudian berkata:,

“Ali, penuhilah hak Allah atasmu, yaitu menuntun ia kepada Allah. Tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam. Dan untuk perasaanmu yang tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu, maka alihkan kepada kebencian terhadap perbuatannya, bukan kepada individu atau orangnya. Karena, Rasulullah SAW tetap menerima keislaman Wahsyi yang telah membunuh paman tercinta Nabi, yaitu Sayyidina Hamzah. Nabi SAW pun tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi, meski beliau mengalami kesulitan menatap wajah Wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi. Bukan karena benci pada Wahsyi, tetapi karena akan membuat kesedihan beliau teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid’.

“Kata-kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga bagiku, karena beliau sedang berbicara tentang manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup beliau sendiri (yaitu membunuh ayah kandung beliau) dan memisahkannya dengan keluarga beliau, akan tetapi masih menerima dan membantunya tobat” pungkas Habib Ali mengakhiri ceritanya.

Kisah Sunan Kudus dan Pecat Tunda
Di bumi Nusantara ini juga pernah ada kisah yg sangat luar biasa ketika Sunan Kudus memaafkan adipati Pecat Tunda pembunuh ayahnya (Sunan Ngudung).

Di kutip dari kitab Ahlal-Musamaroh karya Kiai Abu Fadhal Tuban, bahwasanya saat perang antara Majapahit dan Demak, Penglima awal Demak (Sunan Ngudung) syahid saat bertarung dengan Adipati Pecat Tunda.Sebelum berlanjut pada kisah lengkapnya perlu diketahui nama asli dari pada Adipati Pecat Tunda adalah Raden Husain, beliau saudara seibu dengan Raden Fatah (sultan Islam pertama Demak Bintoro, hanya saja Raden Husain ketika nyantri di Ampel berhenti dan memilih mengabdi di Majapahit kemudian namanya di ganti menjadi Pecat Tunda)

Setelah penglima Islam syahid, yakni Sunan Ngudung, maka penglima perang diganti oleh putranya, yakni Sunan Kudus. Singkatnya, Islam menang dan Adipati Pecat Tunda terdesak di desa yang bernama Terung.

Ketika diketahui bahwa Pecat Tunda berlindung diri di Desa Terung, maka Adipati Pecat Tunda mendapatkan surat dari Sunan Kudus. Kemudian Sunan Kudus memerintahkan seseorang untuk menyampaikan kepada Adipati Pecat Tunda. Berikut isi suratnya:

“Dari; Amir Al Hajj Kudus panglima perangnya Amirul Mukminin Raden Fatah. Kepada; Adipati Pecat Tunda di Desa Terung. Tujuan dari surat ini adalah untuk memberi tahukan dan memperingatkan sekaligus memberi nasihat.

Bagaimana kamu bisa melupakan agamamu, hingga kamu bisa-bisanya membantu orang-orang kafir hanya karena urusan dunia? Padahal engkau sendiri adalah temanku waktu  mencari ilmu di Ampel dari Sayyid Rahmat.

Jika kamu menyudahi penolakanmu untuk berdamai, maka aku akan memaafkan apa yang telah kamu lakukan walaupun engkau bersalah besar sebab telah membunuh ayahku yaitu Usman Al Hajj (Sunan Ngudung).

Jika kamu memang mau berdamai maka segera temui aku di Sriraga, sebelum aku mendatangimu dengan membawa tentara-tentara yang tak kan mampu kau tandingi!. Wassalam”.

Setelah selesai membaca surat itu Adipati Pecat Tunda menangis  ketakutan karena dosanya, dan dia pun mulai menyesali perbuatan salahnya selama ini. Maka kemudian dia berkata pada temannya:

“Aku menerima surat dari Sunan Kudus, dia memperingatkan aku dan mengancamku, dia pun juga berjanji akan memaafkanku jika aku mendatanginya untuk berdamai dan patuh padanya. Tapi aku khawatir ini hanya tipuannya untuk menjebakku karena akulah yang membunuh ayahnya!”.

Maka temannya berkata kepada Pecat Tunda:

“Jika perkataan ini memang benar dari Sunan Kudus maka itu bukan sebuah kelicikan, dia orangnya jujur maka seharusnya kamu mematuhinya bukan malah menuruti hawa nafsumu sendiri. Menurutku Sunan Kudus dan pasukannya tidak akan mengharapkan apapun kecuali sebatas balasan akhirat.”

Walhasil. Dapat disimpulkan dari beberapa kisah yang sudah dipaparkan di atas bahwa saling memaafkan menjadi sebuah kebutuhan bagi seluruh manusia. Bukan sekadar sebagai tanda ada rasa bersalah dan pengakuan atas seluruh kesalahan yang telah dibuat.

Meminta maaf dan memaafkan juga menjadikan kita sebagai manusia yang penuh dengan kelapangan dan kerendahan hati. Memaafkan orang yang bersalah kepada kita bukan hanya membuat mereka terlepas dari rasa bersalah, tetapi membuat kita semakin bersyukur karena  masih diberi kesempatan untuk memaafkan orang lain.

Alhamdulillah, puasa sudah hampir selesai, lebaran telah berada di ambang pintu. Wajar, pada hari lebaran kita bergembira, kita harapkan bahwa kita telah kembali kepada fitrah kesucian kita.

Maka dari itu, di momentum Idul Fitri kali ini mari kita saling memaafkan antara satu dengan yang lain agar hidup kita semakin membawa berkah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H. Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Taqabalallahu minnaa wa minkum. Amin Amin ya Rabbal alamin.

*) Ahmad Herzi, Kepala Bidang IT TVNU Sumenep.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga