Image Slider

Peringati HPN, Santri Annuqayah Guluk-Guluk Gelar Ngaji Jurnalistik

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Hari Pers Nasional (HPN) diselenggarakan setiap tanggal 9 Februari. Seluruh pegiat media, baik cetak maupun online menyemarakkan momen tahunan tersebut, tak terkecuali santri yang menekuni ilmu pers sebagaimana yang dilakukan Persatuan Santri Lenteng (Persal) Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Guluk-Guluk. Persal memperingati HPN dengan menggelar ngaji jurnalistik pada Senin malam (8/2/20210). Acara tersebut dilaksanakan di Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah.

Ketua Panitia HPN Persal, Zainal Arifin mengatakan bahwa acara ini sengaja digelar untuk memperingati Hari Ulang Tahun Wartawan Indonesia yang didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (RI) Nomor 5 Tahun 1985.

Menurut Zainal, pers nasional memiliki sejarah tersendiri dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Tanpa pers kita tidak akan bisa menikmati sajian informasi.

“Perlu diketahui, tanpa pers, kita tidak akan menikmati sajian informasi yang kita lihat di koran, majalah, bulletin, radio, telivisi, website, youtube, Media Sosial (Medos), dan lainnya,” tuturnya saat memberikan sambutan.

Pada saat yang sama Ketua Persal, Moh Waritsy Apriliani H menceritakan, bahwa dunia jurnalistik sudah dimulai sejak 3000 tahun yang lalu, tepatnya di masa Raja Firaun dan Amenhotep III di Mesir. Mula-mula dimulai dari adanya kegiatan pengiriman surat kepada para perwira di berbagai provinsi saat itu.

Santri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut melanjutkan penjelasannya secara historis, bahwa di Roma sekitar 2000 tahun yang lalu, pernah membuat aturan yang ditempel diberbagai aturan, dan itu dinamakan Acta Diurna.

“Jurnalistik baru benar-benar dimulai ketika huruf-huruf lepas untuk percetakan mulai digunakan di Eropa pada sekitar tahun 1440 yang berupa lembaran berita dan pamflet, hingga pada puncaknya sekitar tahun 1930-1960 berita film sangatlah populer dan dikenal pada tahun 1847-1931 setelah ditemukannya gambar bergerak oleh Thomas Alva Edison yang dikenal si penemu lampu pijar. Sedangkan televisi pertama kali ditemukan oleh John L. Baird pada tahun 1926,” terangnya.

Dirinya menambahkan bahwa istilah pers digunakan untuk merujuk semua kegiatan jurnalistik, tertuma kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun berita, baik oleh wartawan media elektronik maupun oleh wartawan media cetak.

“Pada malam ini, kami berharap kepada adik-adik untuk mensakralkannya, mengingat para masyaikh, alumni, dan santri Annuqayah mayoritas ahli di bidang literasi. Semoga dengan kegiatan ini, kalian bisa menimba ilmu dari narasumber yang kami undang,” pungkasnya.

Acara dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Firdausi, Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep sebagai pemateri tunggal. Adapun materi yang ia sampaikan antara lain: tahap awal menentukan topik berita, teknik wawancara, teknik menulis berita, dan disempurnakan dengan praktik menulis berita.

Pewarta: Lukmanul Hakim
Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga