Image Slider

Pertahankan Kekuasaan, Belanda Pakai Politik Adu Domba

Demi melanggengkan kekuasaannya di Indonesia, Belanda menggunakan taktik devide et impera (memecah belah lalu menguasai). Lewat cara itulah kerjaan-kerajaan di Nusantara berselisih, lalu berperang, dan akhirnya Belanda datang mendamaikannya serta tampil di depan sebagai pemenang. Mereka seolang-olah berada di posisi netral. Padahal kenyataannya ia menggunakan jasa pribumi untuk melawan bangsanya sendiri.

Sebagaimana dikatakan oleh KH Abd Mun’im DZ, Belanda juga mengambil strategi serupa ketika menghadapi kelompok Islam dengan taktik lain, yaitu ‘politik belah bambu’ (satu diinjak yang lain disanjung). Maksudnya, mereka mengadu domba antara satu agama dengan agama lain. Termasuk menjadi sutradara saat membentrukan antar sesama Islam. Bagi yang beragama Kristen, Belanda memberikan banyak kelebihan dan kemudahan untuk penyebaran agama Kristen.

Kedua strategi ini dijadikan kebiasaan agar mengekspansi beberapa daerah yang belum ditaklukkan. Dalam kacamata sejarah, strategi di atas merupakan benturan yang menyebabkan perpecahan dan kehancuran di setiap pihak. Jika setiap pihak hancur, mereka bisa menguasai dengan mudah.

Startegi yang mereka lakukan dilatarbelakangi dari kelompok pesantren yang memiliki tradisi kuat. Pesantren dengan tegas menolak kehadiran Belanda. Walaupun Belanda mengembor-gemborkan isu negatif pada Islam kuno atau Islam tua. Semua yang disampaikannya serba buruk dari lisan ke lisan, seperti mengatakan kaum sarungan adalah Islam yang kolot. Tudingan itu dilakukan karena Islam klasikal memiliki kepribadian yang kokoh dan tidak bisa diubah sedikit pun, termasuk oleh penjajah.

Sedangkan kelompok Islam yang bekerja sama dengan Belanda, membangun sistem sekolah modern, berpakaian modern, cara berpikir dan perilakunya sama dengan pihaknya. Kelompok ini disebut Islam modern, yang disanjung-sanjung oleh Belanda sebagai Islam yang sesuai dengan kondisi zaman. Bahkan dalam beberapa literatur, mereka mendapat subsidi dari kolonial Belanda untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pada warga.

Berbeda dengan Islam tradisionalis yang dianggap menentang, sehingga kaum modernis mampu menyerang secara kultur pada kaum tradisionalis. Yang lebih parah lagi, ada yang mengatakan bahwa Islam pesantren bercorak Hindu, anemis, dan lainnya.

Kedua strategi tersebut dilakukan oleh Belanda. Sebab keberadaan pesantren menjadi basis perlawanan atas pemerintahan Belanda. Ada lagi yang ditakutinya, yaitu pesantren mempunyai sistem pendidikan yang bersifat rohani. Wajar wataknya tidak bisa dipatahkan begitu saja dengan mencekoki budaya Eropa. Sedangkan pesantren menolak cara berpakaian, bahasa, dan sistem pendidikannya.

Benang merah dari strategi tersebut adalah Belanda menginginkan umat Islam bisa diatur dan dijinakkan. Namun pesantren sulit dijinakkan. Karena memiliki paradigm sendiri.

Referensi: Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga