Ganding, NU Online Sumenep
Seiring dengan kemajuan zaman, sangat jelas sekali kaum wanita khususnya kalangan muda banyak yang termarginalkan akibat minimnya pengetahuan dan pengalaman dalam menjalani kehidupan di era 4.0
Menyadari akan hal tersebut maka Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Asy’ariyah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding, menggelar kajian dengan mengangkat tema “Perempuan Generasi Insan Ulul Albab“. Narasumber yang dihadirkan adalah M Faizal Fendi Utomo, alumni PMII Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Selasa (2/3/2021) di kediaman mantan Ketua Kopri masa khidmat 2019-2020, tepatnya di Dusun Tengginah, Desa Larangan, Kecamatan Ganding.
Dalam sesi penyajian, narasumber mengatakan bahwa peran seorang perempuan sangat penting demi kesejahteraan hidup manusia. Oleh karenanya, perempuan masa kini dituntut terus mengasah intelektual, salah satunya dengan cara mengikuti kaderisasi formal seperti Sekolah Islam Gender (SIG) dan Sekolah Kader Kopri (SKK) pada umumnya.
“Kalau SIG peserta tidak hanya bagi kaum perempuan, laki-laki juga bisa ikut. Tapi kalau SKK hanya untuk kader putri, karena kaderisasi Kopri yang kedua ini sifatnya lebih khusus lagi,” terang Sahabat Fendi, sapaan akrab narasumber .
Usai penyajian, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Perserta diskusi merespon baik terhadap materi yang disampaikan oleh penyaji melalui pertanyaan-pertanyaan yang tentunya tidak melenceng dari tema utama. Selain bertanya, ada pula peserta yang menyanggah dan menambah penjelasan dari pemateri.
Pertanyaan pertama datang dari sahabat Ach Fauzi Hazazi. “Kesetaraan dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa antara laki-laki dan perempuan sama, kenapa kaum perempuan masih termarginalkan?” tanyanya sembari menghangatkan suasana diskusi.
Menanggapi pertanyaan sahabat Moh Ghalib Bafadlal selaku Ketua Mandataris menyampaikan bahwa marginalisasi terhadap wanita disebabkan oleh kepribadian seorang laki-laki yang ingin bertindak sewenang-wenang tanpa memikirkan nasib kaum wanita.
Pendapat lain muncul dari sahabat Ramadhani selaku anggota PMII Asy’ariyah Stidar. “Hal tersebut sebenarnya terjadi apabila rasa bersosial para kaum laki-laki tidak tertanam dalam diri mereka,” sergahnya.
Tak mau kalah, Sumiati salah satu kader PMII Asy’ariyah Stidar juga angkat suara dalam forum tersebut. “Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan adalah kualitas dan kondisi fisiknya saja,” ujarnya menanggapi.
Di akhir diskusi, Sahabat Fendi menyimpulkan bahwa antara laki-laki dan perempuan adalah terletak pada kualitas dan ketahanannya dalam menyelesaikan tugasnya baik yang bersifat pribadi ataupun keluarga.
“Laki-laki dan perempuan yang membedakan hanyalah kekuatan fisiknya dalam menyelesaikan tugasnya baik yang bersifat pribadi ataupun keluarga,” pungkas aktifis UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta ini.
Pewarta: Firdausi
Editor: Ach. Khalilurrahman

