Image Slider

Puisi-puisi Zainur Rahman

NARASI SELEMBAR DAUN

            ~Mengenang Maulana Sayyid Yusuf, Talango Sumenep

Dari keraton, ia mencoba menganyam sayap mentari

Padahal perkutut masih bertekukur menggulung mimpi

Demi menabur benih agama Tuhan ke seberang pulau

Walaupun panas menerpa layaknya kegelisahan

 

Setibanya di Kalianget, ia saksikan senja di ubun langit

Dibimbingnya untuk menepi di sudut malam

Bercengkrama dengan purnama tak kenal hirau

Juga angin-angin kecil yang menyapa gugusan bintang-bintang

 

Tapi pada dini hari paling sunyi

Sekelebat cahaya menyeberangi matanya

Lepas landas di sebelah timur pelabuhan ; pulau Poteran

Maka setelah subuh dilaungkan

Ia pun bergegas berlayar, mencari jatuhnya sinar

 

Dirayapinya bibir hutan yang belukar

Dan tibalah di hadapannya sebuah pusara

Salam pun dikumandangkan, terdengar sahutan pertanda sebuah jawaban

 

Seketika tangan mungilnya merangkak menusuk langit

Munajat dipekikkan, terserampak selembar daun bersimpuh di haribaan

Ia saksikan lamat-lamat dadanya ;

Hadza Maulana Sayyid Yusuf bin Abdullah al-Hasani

 

Bersama ia hujamkan batu nisan

Serta tongkat ditancapkan

Menjadi batang paling rindang, dan getahnya meleleh

Sebagai tanda yang remang segera terang.

 

(Kobhung, 2021)

 

GADIS PENCARI KAYU

            ~Mengenang Syeh Abdul Mannan, Batu Ampar Pamekasan

 

/1/

Engkau pergi dengan cemarut kekuasaan

Yang melanda bumi Bangkalan

Menyulam hari dengan sengsara, juga derita

Seperti kehilangan yang tak lelah diukis senja

 

Dan pada akhirnya engkau mengakhiri jalan

Pada bukit Batu Ampar di tengah hutan

Mencoba bertapa, taqorrub kepada-Nya

Di kaki Kosambi yang rindang tempatnya

 

Syahdan tapa berpuluh tahun begitu lama

Gugur daun-daun di beranda

Hingga engkau ditemukan

Oleh gadis pencari kayu di hutan

 

Engkau dibawa ke rumah orang tuanya

Diberi minum sebagai pelepas dahaga

 

/2/

Hari semakin memilin benang waktu

Timbullah kata mufakat, agar selamanya terikat

Meminang si sulung, dengan kulitnya yang lepuh

Tapi Tuhan memiliki cara

Dijelma parasnya mejadi jelita, hingga tersiar kemana-mana

 

Barangkali inilah jawaban

Dari segala celaka yang pernah bertandang

Bahwa segala kesah akan menjadi kisah

Yang mekar ke langit purnama, sampai gelap menjadi doa.

 

(Kobhung, 2021)

 

TEMBANG KEROCOK

            ~Mengenang Syaikhona Kholil Bangkalan

 

Dan pada susut senja ke berapa

Debar paling debur sesekali gemetar

Memukul ombak yang semai

Dari paruh Camar tak kalah ramai

 

Di sudut bumi Bangkalan, Kyai Syamsul Arifin ;

Sahabat sekaligus muridmu, setia menemani tanpa hulu

Mensyarahkan pesantren dan perkara Bani Adam

Hingga tak sadar baskara akan segera pulang

 

Pada pelabuhan terakhir, Ashar belum dilaungkan

Di antara cemas dan kekhilafan

Sehingga ia yakin, bahwa kesempurnaan adalah milik bayang-bayang

 

Terserampaklah kerocok dilayarkan

Melesat, membelah laut hampir tenang

Menuju Mekkah, Masjidil Haram

Demi menyudahi salah satu perintah Tuhan.

(Kobhung, 2021)

 

RITUS MATA AIR

            ~Mengenang Syeh Zainal Abidin (Sunan Cendana)

 

Bersama aroma tanah ini

Kau belum purna di sudut bumi sana

Sebagai pembawa pembeda

Sebagai tirakat dari selaksa doa

 

Seketika tubuhmu tertiup angin-angin yang mungil

Demi meruncingkan Subuh setelah takbir

Mencari-cari mata air, atas nama syarat dan syariat

Namun Tuhan berencana lain

 

Maka engkau harus pulang, menepi di beranda surau

Tak lupa tongkat ditancapkan

Serempaklah sumber mata air, deras tak jumpa hilir

Dua kullah, tidak kurang dan tak lebih

Sampai tawar yang mekar, berkelindan bibir pantai.

(Kobhung, 2021)

Kerocok : Sejenis pelepah aren yang dapat mengapung di air

*Zainur Rahman, lahir di Sumenep Jawa Timur. Alumnus MTs. Al-Manar Brungbung Prenduan Sumenep dan MA 1 Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa aktif Fakultas Tarbiyah prodi Tadris Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri Madura (IAIN Madura).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CINCIN PENUH KENANG

            ~Mengenang Kyai H. Hasyim Asy’ari

 

Engkau datang dari lentera paling terang

Tempias dalam kegelapan yang hakiki

Memilukan ombak menjelma gemuruh

Kepada harakat yang rindang di tepi batu karang

 

Dan di hari yang satu

Cincin kesayangan istri gurumu

Jatuh ke jamban, tampak nian sedu sedan

 

Demi mengais bulir-bulir berkah

Engkau takzim tanpa tepi, dengan kesabaran, keikhlasan

Dirayapinya jamban itu, mengeja gulita, terpancar nurmu

Ditemukannya cincin penuh kenang

Berkelindan gembira, puji syukur berkumandang

Hingga engkau disayang-sayang.

 

(Kobhung, 2021)

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga