Cerpen: Moh. Rofqil Bazikh*
Cerita pohon itu ada bahkan sebelum aku membuka mata di dunia, sampai abadi bertahun-tahun sejak pertama kali dibicarakan. Orang-orang boleh percaya, boleh juga tidak, sama sekali itu bukan masalah. Bahkan, untuk mengumpat cerita itu sebagai bualan semata juga sah-sah saja. Toh, sebenarnya tidak ada ruginya bagi diriku, atau bagi siapapun yang menceritakannya. Yang jelas, ayah meyakini bahwa pohon dalam cerita itu yang mendatangkan petaka. Tetapi, bagiku, pohon tidak pernah memberi apa-apa, termasuk petaka, selain keteduhan.
Dahulu nenek dan kakek dari jalur ayah percaya bahwa satu-satunya jalan untuk menghidupi dunia hanya dengan menanam pohon. Makan dan minum saja tidak cukup, katanya, kita butuh udara. Memang demikian, udara yang kita hirup saat ini satu-satunya pembantu berlangsungnya hidup sampai bertahun-tahun. Tidak cukup sampai di situ, udara tidak sembarang udara, semua manusia butuh udara yang bersih. Konon, menanam pohon juga satu-satunya cara agar membersihkan udara.
Sepetak tanah lapang yang sama sekali tidak ada tumbuhan di tengahnya, padahal saat itu bukan musim kemarau. Hujan datang sepanjang hari, tetapi pohon menolak tumbuh di ladang kakek. Ayah yang masih kecil juga tidak tahu apa-apa. Ia hanya paham, kalau hujan datang berarti waktu yang tepat bermain dengan lumpur; berlarian di halaman rumah kakek yang beceknya minta ampun. Sejak itu pula, nenek berhasrat untuk menanam pohon yang berdaun mirip binahong. Pohon itu kelak, setelah melewati perjalanan panjang, yang dituduh ayah sebagai pembawa petaka.
Sejak awal memang aneh, ayah menyebut pohon itu dibeli dari Andalusia, salah satu titik pusat Islam imperium Umayyah. Itu semua bukan ucapan ayah sendiri, ia hanya meneruskan dari kakek dan nenek. Kata kakek, pohon yang didatangkan dari tanah suci seperti Andalusia selalu membawa berkah. Sementara nenak hanya manut saja, ia tidak bisa membantah. Nenek dan kakek memang orang yang terlalu menyembah agama. Mereka pula selalu meyakini jika apa-apa yang terdapat bumbu agamanya pasti berakhir baik. Tetapi tidak untuk pohon ini, buktinya, setelah kakek meninggal pohon ini sebagai biang dari petaka, meski aku sendiri tidak percaya.
“Tetapi tidak hanya sebatas itu, pohon dahulu kala memang digunakan sebagai penyambung hidup” ayah menambah.
“Berarti kakek dan nenak tidak pernah makan?” pertanyaan polos yang dibuat-buat meluncur deras dari mulutku.
Ayah tidak menjawab, ia hanya menyulut linting dan menyemburkan asap ke udara. Memang, di waktu-waktu bercerita ayah selalu berhenti dan memulai menyulut setelah separuh bercerita. Ia tidak menyulut dari awal, selalu saja sampai di pertengahan sambil lalu menghentikan cerita. Seperti membuat kepalaku penasaran dengan setiap hal aneh sepanjang jalan cerita.
Betul, pohon yang ditanam tepat di tengah-tengah ladang kakek hidup dan berdaun lebat. Tentu, kakek dan nenek kegirangan, beda dengan ayah yang pasti biasa-biasa saja. Anak kecil memang selalu saja berbeda, ia masih lekat dengan bisikan-bisikan usil di kepalanya. Di saat berdaun lebat pula, ayah yang sering memetik daunnya, bahkan berkali-kali mematahkan tangkainya. Kalau sudah begitu nenek akan mendaratkan cubitkan di paha ayah yang mungil. Pastinya, jeritan keluar dari mulut ayah.
Setelah setengah tahun pohon itu berdaun lebat dan menjulang di ladang, kakek berhasrat memindahkannya ke depan rumah. Katanya, agar setiap pagi nenek bisa melihatnya, serta udara di sekitar rumah juga bersih sebab kekuatan supranatural pohon itu. Sangkaan itu, satu-satunya, yang terbukit sebab kakek dan nenek berumur lebih panjang dari manusia pada umumnya. Tibalah pohon di halaman rumah, tentu ladang kakek kembali lapang dan tidak ada apa-apa di sana. Tetapi, masa bodoh, yang terpenting adalah udara sekitar rumah jadi bersih. Tentunya, agar umur kakek, nenek, serta ayah, bisa lebih panjang.
Cerita aneh dimulai, kakek ingin ketika hari meninggalnya, ayah meletakkan tujuh lembar daunnya di kafan kakek. Tetapi, kakek tidak pernah memberikan alasannya mengapa hal itu harus dilakukan. Setelah umurnya yang panjang, kakek meninggal, tentu ayah yang sudah beranjak tua dan tidak kanak-kanak lagi gegas melaksanakan wasiat kakek. Ia menyelipkan tujuh lembar daun pohon yang persis binahong di kafannya, tanpa seorang pun tahu. Sampai ayah menceritakannaya saat ini padaku.
“Ayah yakin, tujuh daun itu yang akan digunakan kakekmu untuk mengembalikan napasnya di dalam kuburan.”
Aku terbahak, mana mungkin orang yang sudah jelas-jelas meninggal akan kembali mengembuskan napas. Kecuali, jika ia mengadakan perjanjian dengan Tuhan, atau mungkin malaikat agar ketika sesudah dikubur nafasnya dikembalikan. Hal itu mustahil, tetapi ayah satu-satunya orang yang percaya. Aku justru merasa kasihan kepada kakek kalau benar napasnya bisa kembali utuh perantara daun yang berjumlah tujuh. Sebab, di sana, ia tidak menemukan siapa-siapa kecuali kesepian yang semakin hari semakin liar.
Berbeda dengan kakek, wasiat nenek sebelum meninggal justru menyuruh ayah agar menyelipkan tiga daun pohon itu. Tidak lupa pula, nenek menyuruh agar daun-daun itu dibuat semacam bundelan dan dijadikan alat untuk menutup liang senggama dan anus nenek. Kata nenek, di dalam kubur banyak makhluk-makhluk gaib yang cabul. Maka satu-satunya cara mengindar dari perbuatan semacam itu tidak lain adalah menyumbat lubang yang biasa digunakan menyalurkan hasrat.
Aku kembali terbahak, kali ini di dalam hati, di lahad yang sangat sempit mana mungkin ada makhluk yang sempit berpikir begitu. Kata guruku di sekolah, di dalam kubur semua manusia hanya mengingat siksa dan seluruh amal perbuatannya di dunia. Mereka melupakan hal-hal lain yang dianggap tidak menguntungkan, apalagi untuk melakukan adegan mesum di kuburun. Suara itu hanya kencang di kepalaku, tidak sampai kulontarkan pada ayah. Menjaga-jaga takut perasaan ayah terlukai dan sakitnya kambuh lagi.
Sampai akhirnya, di suatu minggu yang dingin dikurung hujan, ayah memutuskan untuk menebang pohon itu. Setelah ayah bercerita dan tahu itu pohon bernama zakum yang dikirim dari neraka, bukan dari Andalusi sebagaimana ucapan kakek. Tidak tahu pasti, dari mana ayah mengerti nama pohon itu dan muasalnya. Kata ayah, daun pohon itu yang akan mengantarkan kakek dan nenek ke neraka. Masuk akal, sebab pohon itu memang berasal dari neraka. Kakek tidak akan bangkit hanya dengan tujuh lembar daun dan makhluk-makhluk gaib yang disebut nenek juga tidak akan pernah sempat melangsungkan adegan mesum.
Setelah pohon tumbang, ayah terisak-isak di halaman. Ia lupa bahwa pohon yang disebut mengantar nenak dan kakek ke neraka juga membantu kami hidup sampai ratusan tahun, sampai hari ini. Bahkan, hari ini tepat musim di mana pohon di seluruh dunia ditebang dan manusia hanya menunggu waktu kehancuran, pohon itu semestinya tidak ikut ditumbangkan. Sebab, hanya pohon zakum satu-satunya yang akan membuat umur kami lebih panjang. Lalu, kami akan menceritakan kembali kepada anak-cucu bagaimana riawayat muasal pohon itu, bagaimana kakek menyuruh menyelipkan daun tujuh lembar dan nenek empat lembar lebih sedikit.(*)
Yogyakarta, 2021
Moh. Rofqil Bazikh tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Harian Merapi, Harian Rakyat Sultra, Bali Pos, Analisa, Duta Masyarakat, Pos Bali, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, dll. Bisa ditemui di surel mohrofqilbazikh@gmail.com atau twitter rofqil@bazikh

