Cerpen: Khuzaimah
Namaku Lara, Aku hidup seperti tak ubahnya burung yang terkurung, tak punya ruang untuk berkelana menikmati alam semesta. Semenjak sepeninggal kedua orangtua, aku hidup hanya sebatang kara, tak punya nenek, kakek, apalagi sanak saudara. Aku hidup dalam kehampaan, hanya mengalirkan air mata, seakan langkahku hanya sejengkal yang tak bisa kutapaki, setiap waktu menikmati ciptaan Tuhan yang sediakala banyak orang rasakan.
Dahulu, kala aku hidup di desa permai penuh lestari, setiap pagi burung-burung berkicau menemani petani merapalkan doa, mengharap rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Namun, hal itu hanya menjadi sebatas kenangan, hanya mengisahkan cerita indah yang tersimpan dalam naluri. Sekarang desaku sudah ternoda oleh tangan-tangan tak bertuan yang tidak memandang dengan mata hasta kebijaksanaan. Sekarang tanah di desaku sudah tidak dikuasai oleh orang-orang pribumi, melainkan dikuasai oleh investor asing yang hanya mengeruk kekayaan pribumi. Sekarang di desaku sudah banyak orang yang terlena oleh uang dengan menjual tanahnya kepada orang-orang asing tanpa memikirkan generasi di masa selanjutnya.
Mereka sudah terlena oleh keindahan semata, hati mereka dibuat buta oleh harta semata. Lambat laun desaku berubah; dulu pohon-pohon kekar dengan daunnya yang hijau kini menjadi hamparan jurang, nyanyian burung pun lenyap oleh bunyi mesin-mesin besar. Burung-burung berlarian mencari tempat yang lebih layak untuk dihuni, pohon-pohon tumbang, sungai-sungai tercemar. Mungkin, ini adalah perbuatan keji oleh orang yang tak punya hati nurani. Tuhan di manakah desaku yang permai? bagaimana masa depan bumi kami?
***
Pada bulir embun yang masih setia menunggangi rerumputan hijau, lambat laun jatuh menetes ke bumi, bola matahari muncul dari ufuk timur memberi kehangatan bagi semua insan untuk menuntaskan segala harapan di bawah keadilan Tuhan.
Pagi ini aku diajak oleh bapak dan ibu untuk mengais segala rezeki Tuhan yang berada dalam ladang-ladang para petani, setelah bapak dan ibuku selesai bekerja di tengah ladang, memahat segala harapan rezeki di bawah terik matahari yang menusuk tubuh. Sejenak aku, bapak, dan ibu beristirahat di gubuk kecil pinggir sawah sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Angin berkesiur agak gerah. Hanya terlihat dua ekor burung beterbangan bebas di sekitar. Menambah suasana indah betapa besar ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
“Bu!” sapa bapakku dengan nada agak lemas, karena baru saja mengeluarkan jerih payah untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami.
“Iya Pak?” jawab ibu dengan senyum seranum pagi itu. Karena ibu termasuk perempuan yang ramah menebar sesungging bibir mungilnya.
“Ini, Bu,” bapak kembali menyapa sembari menatap hamparan padi yang hijau.
“Betul Pak, Tuhan itu Maha Pemberi rezeki bagi segala mahlukNya, semua ini hanyalah titipan dari yang kuasa. Semestinya kita rawat atau perlakukan dengan sebaik mungkin,” ungkap ibu.
“Ibu Tahu, akhir-akhir ini desa kita sudah dihantui oleh para investor asing, mereka ingin membeli tanah warga desa untuk kepentingan mereka sendiri. Banyak dari kalangan kita sudah terlena dengan tawaran uang yang sangat menggiurkan. Benar saja, tanpa pikir panjang mereka menjual tanah-tanahnya, tanpa memikirkan masa depan anak dan cucunya,” sambung bapak sambil mengisap rokok.
“Bu, dulu desa kita asri dan enak dipandang, burung-burung bernyanyi setiap pagi, air-air mengalir dengan tenang, ikan-ikan menari seakan mensyukuri rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Tapi, hal itu sekarang hanya jadi kenangan belaka, banyak ladang-ladang kita sudah beralih fungsi, jadi tambang yang mirip jurang, dan terkadang membahayakan bagi manusia, pohon-pohon ditebang, sungai yang jernih menjadi kotor, ikan pun mati, dan sisanya mengungsi pada tempat yang lebih layak dihuni,” lanjut bapak mengerutkan dahi.
“Apa yang bapak katakan memang benar, banyak tanah di sekitar kita sudah berpindah tangan dari ladang-ladang yang hijau berubah jadi lubang-lubang pertambangan. Semoga kita tidak seperti mereka, menjual tanahnya hanya memuaskan nafsunya,” harap ibu sambil menghela napas.
“Hmm Sepertinya ya, Bu…Semoga saja.”
Tanpa terasa hari sudah mulai siang, terik matahari sudah menyengat. Sehingga, bapak dan ibu mengakhiri percakapan tentang desa yang mulai terkeruk tangan-tangan kebiadaban dan dengan penuh harap ikut menyayangkan keadaan pada saat itu.
Kami lalu bergegas pulang. Sepanjang jalan, angin berkesiur memberi sedikit kesejukan pada kami yang berada di bawah terik matahari.
Saat kami memasuki area pertambangan, ibuku tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dasar jurang bekas penambangan, bapak tak sempat menolongnya, ibu meringkuk tak berdaya, mengembuskan napas terahir saat itu juga. Langit terlihat mendung bersama hatiku yang tumbang, tak terasa air mata mengalir membasahi pipi melihat ibu terkapar dengan tubuh yang penuh bercak darah. Bapakku membisu, tiada kata yang terucap, hanya bulir-bulir air matanya perlahan jatuh dari matanya yang sendu.
Aku yakin semua itu adalah takdir Tuhan, walau di samping itu ada penyebab lain karena adanya lingkungan yang sudah rusak. Di daerahku lubang-lubang tambang berserakan. apa agi kendaraan pengangkut material mengepul asap dan debu yang meyesakkan dada setiap hari. Akhir-akhir ini korban meninggal dunia di mana-mana, terkadang anak-anak yang bermain tenggelam di bekas lubang tambang yang ada airnya, ada yang meninggal gara-gara sesak napas karena terkontaminasi oleh debu-debu penambangan, begitulah keadaan desaku sekarang.
Senja telah memerah, malam pun datang dengan gemerlap bintang tanpa mendung sedikit pun yang menghalanginya. Aku tidak terlalu larut dalam kesedihan semenjak ibuku meninggal, namun kenangan tentang ibu tak penah lenyap dalam ingatan.
Dalam uluran waktu yang terus berjalan, sekarang aku hidup berdua bersama bapak, meniti waktu dengan suasana berbeda tak seperti dulu lagi. Desaku akhir-akhir ini semakin berubah, penambangan semakin tak terkendali, lubang di mana-mana, seakan jejak langkah terhalang oleh hal itu.
Saat ini, keadaan kami sudah terusik. Bapak sudah tidak seperti dulu, dia sakit-sakitan, terserang batuk dan juga asma. Mungkin karena alam yang sudah tidak bersahabat dengan manusia. Semakin hari keadaan bapak semakin mengenaskan pula, hingga pada suatu itu, pada malam yang hening dengan rembulan yang bersinar sepenggal seperti hatiku yang tak sahaja seperti dulu.
“Lara,” uacapnya dengan napas yang terengah-engah
“Iya, Pak!” jawabku singkat.
Bapak memegangi tanganku yang berada di sampingnya.
“Nak, mungkin bapak sudah tidak akan lama lagi, penyakit bapak semakin hari semakin parah, mungkin ini adalah takdir tebaik bapak, Nak..!” suara bapak serak dan dalam.
“Tidak, Bapak tidak boleh berbicara seperti itu, saya tidak mau kehilangan pahlawan yang kedua kalinya. Bapak pasti sembuh. Bapak, harapan saya masih besar .Saya ingin meraih semesta dan menegakkan cita-cita luhur untuk merawat warisan nenek moyang kita.”
“Nak, keadaan divsini sudah rusak, sudah tidak seperti dulu lagi, maka dari itu aku titipkan desa ini. Semoga kamu bisa mengubah keadaan, bisa menutup lubang-lubang tambang, mengembalikan nuansa asri sehingga rakyat di sini tenang seperti dulu lagi.”
Sebentar suara bapak tersendat. Hening mencekam.
“Lara, masa depanmu masih panjang, tidak seperti bapakmu ini, yang mudah untuk tumbang. Maka dari itu kepalkan tanganmu, tegakkan ragamu, ajak semua orang untuk sadar akan masa depan bumi kita ini, rangkullah mereka yang sudah terjerat oleh keindahan uang semata, ajaklah mereka untuk menyayangi bumi, dan ajak mereka untuk lebih sadar masa depan anak cucunya nanti. Lara, hanya ini ya, Nak! Ingat ! jangan sampai telambat,” ungkap bapak sebelum akhirnya menutup mata dengan tenang.
Lalu aku menjerit seperti dataran tanah yang dikeruk para penambang; tumbang.
13/02/2021
*Penulis kelahiran Batang-Batang Sumenep, bagian pengkaderan PAC IPPNU Batang-Batang. Masih menjadi mahasiswa aktif di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Persatuan Guru Republik Indonesia ( STKIP PGRi) Sumenep, program studi, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan. Penulis bisa dihubungi melalui Email: khuzaimahaliyah8@gmail.com

