Image Slider

Puisi-Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Panduan Berdoa

jika kepalamu dikerubungi kekacauan-
kekacauan yang tak sepantasnya
jika lubang-lubang di dadamu
dimasuki kesedihan tak bernama
segera angkat tangan tinggi-tinggi
setinggi mungkin, sampai mengalahkan
tinggi malam yang naik
ke tepi wuwungan

(sebelumnya, biji-biji tasbih
saling menyundul, ayat dan huruf
rapalan keluar dari mulutmu)

apabila kesedihan semakin luap
meletup-letup dan menolak
dipadamkan, angkat tanganmu
sambil memejam dengan dalam
rasakan, betapa ruangan menjadi
sempit; kita bertemu dengan
Tuhan Maha Sakit

Sumenep, 2021

Setelah Kau Pergi

aku belum sempat mengecup sekejap
keningmu yang bening atau mengelus
rambut yang merah nyaris kuning
belum sempat mengucap selamat tinggal
atas nama kepergian

tetapi waktu lekas bertepuk
jarum jam melesat gila, sedang
angka dari kalender menetas

aku belum mencium tanganmu
kau belum mencium tanganku

betapa pun kepergian, mirip gerbong
kereta, meninggalkan stasiun
dan tidak berjanji waktu untuk
kembali

aku teringat sebelum kau pergi
sepasang mata—entah sengaja
atau tidak, berkaca-kaca

Sumenep, 2021

Umur

ini sudah kesembilan belas, katamu
kau meminta alamat rumah
kau pernah berjanji akan mengirim
perca hadiah paling cantik
tetapi, aku tidak mengingat
apapun, selain petemuan kita
yang terakhir
saat aku masih enam belas

dalam kamar kita
lilin-lilin menyala
debarnya mengalahkan debar
umur dan jantung.
ini sudah sembilan belas,
melewati tahun-tahun nahas
dan usia yang mulai meranggas

aku bertanya, siapa yang menyulut
umur diam-diam bahkan sangat
diam-diam?

Sumenep, 2021 

Perempuan Kopi

 setiap malam tidak ada yang kita bicarakan
selain kesedihan dan hal-hal rumit lainnya
kau mulai sadar jika hidup yang akan kita
lalui tidak pernah gampang, kau sering
meringis kesakitan, nyaris melambungkan
tangisan

 

kau sering lupa pada kesedihanmu sendiri
hingga kerap menasehatiku perihal sakit
perutku yang kerap kambuh
menurutmu, kopi adalah hal pertama yang
harus kuhindari. aku mengangguk taat

 

kau besar dari tangan-tangan halus
yang setiap hari berhati-hati memilah
biji kopi. kau pernah bercita panjang lebar
tentang itu. itulah sebabnya mengapa
sampai saat ini aku tidak pernah
berhenti mencintai kopi
mencintai dirimu yang memilih sendiri

Sumenep, 2021

Moh. Rofqil Bazikh lahir di Sumenep 19 Mei 2002.  Merupakan mahasiswa Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis puisi di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Merapi, Rakyat Sultra, Bali Pos, Harian Bhirawa, Duta Masyarakat, Lampung News, Analisa, Pos Bali, Banjarmasin Post, Malang Post, Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Cakra Bangsa, BMR Fox, Radar Jombang, Rakyat Sumbar, Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, Mbludus.com, Galeri Buku Jakarta, Litera.co, KabarPesisir, Ideide.id, Asyikasyik.com, dll.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga