Sahabat Rasulullah SAW, Bilal bin Rabah merupakan sahabat Nabi yang harus diteladani oleh umat Islam. Ia dilahirkan di Makkah sekitar tahun 43 sebelum Hijriyah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamarah, seorang budak berkulit hitam yang tinggal di Makkah kala itu.
Sebelum masuk Islam, ia tidak memiliki apa-apa, kecuali mengabdi kepada tuannya. Ketika memeluk Islam, dirinya memutuskan untuk hijrah ke Madinah dan diberi tugas sebagai mu’adzin di masjid Nabawi setelah dibangun. Sebab, Bilal memiliki suara merdu. Bahkan saat fathu Makkah, Bilal mengumandangkan adzan di atas Kakbah setelah diberi instruksi oleh Nabi.
Ketika Rasulullah SAW wafat, ia menyimpan kesedihannya. Bahkan ia tak sanggup lagi mengumandangkan adzan lagi di Madinah. Abu Bakar berusaha merayunya, tetapi Bilal bergeming, “Saya hanya muadzin Rasulullah dan tidak akan adzan setelah beliau wafat,” katanya sambil melontarkan alasannya.
Tidak lama kemudian, Bilal pindah ke Syam (Syiria). Ia tidak memilih tinggal di Madinah, sebab ia masih teringat pada Rasulullah. Karena setiap melihat sesuatu yang berhubungan dengan Nabi, kesedihannya semakin manjadi-jadi.
Setahun kemudian, ia bermimpi didatangi Rasulullah, “Apakah kamu tidak rindu padaku? Kenapa kau tidak mengunjungiku?,” kata Nabi di mimpi. Bilal kaget dan langsung bergegas pergi ke Madinah dengan memacu kudanya. Setiba di makam Nabi, ia menangis dan mencium makam Nabi.
Berselang kemudian, Abu Bakar mendatanginya dan memeluk sambil menangis. Abu Bakar bertanya, “Apakah kamu enggan mengumandangkan adzan?” Kemudian ia menjawab, “Dulu setiap selesai adzan, saya pasti mendatangi bilik Nabi dan mengabarkan bahwa waktu shalat telah tiba. Lalu Rasulullah keluar untuk memimpin shalat. Sekarang saya tidak kuasa lagi untuk adzan, karena Rasulullah tidak mungkin keluar lagi untuk memimpin shalat,” tegasnya.
Di waktu yang sama, ia bertemu dengan Hasan dan Husein, kedua cucu Nabi yang saat itu masih berusia 9 tahun dan 8 tahun. Bilal langsung memeluk dan mencium keduanya. Putera Ali bin Abi Thalib tersebut bertanya, “Paman, apakah engkau bersedia adzan untuk kami pada waktu subuh nanti?” Bilal tertegun dan menangis, “Bagaimana mungkin saya menolak permintaan yang disampaikan lisan yang pernah dikecup oleh Rasul,” ungkapnya sambil meneteskan air mata.
Saat masuk waktu shalat subuh, Bilal naik ke menara masjid, tempat ia dulu biasa adzan. Ketika lafadz Allahu Akbar dua kali dikumandangkan, penduduk Madinah kaget. Mereka ingat suara itu, suara yang sudah menghilang satu tahun lamanya. Hati warga bergetar penuh kerinduan. Masyarakat berduyun-duyun menuju masjid. Mereka menangis tersedu-sedu, sebab suara Bilal mengingatkan mereka pada kenangan indah bersama Rasulullah. Namun, ketika Bilal melantukan kalimat Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Bilal tak sanggup meneruskannya. Ia berhenti menangis tersiak-siak. Kalimat tersebut membuatnya teringat pada Nabi. Gemuruh isak tangis semakin menjadi-jadi.
Setelah peristiwa tersebut, konon tidak ada tangisan yang lebih memilukan lagi daripada tangis semalam. Dalam beberapa literatur menyebutkan, bila nama Rasulullah disebut-sebut dalam setiap kesempatan, Bilal menangis atas kepergian orang yang ia cintainya.
Referensi: Ibnu Atsir dalam Asadul Ghbah, As-Samanhudi dalam Wafa’ul Wafa’, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq.
*) Kisah ini diangkat dari Majalah Khidmah NU Sumenep tahun 2014 yang kemudian diedit oleh Firdausi.

