Image Slider

Turba LDNU Sumenep di Ganding, Belajar Agama kepada Ahlinya

Ganding, NU Online Sumenep

Banyaknya warga NU yang mudah terprovokasi media sosial, dan kecenderungan model masyarakat modern yang mudah mencari sumber-sumber ilmu hanya dari internet. Hal ini menjadi perhatian Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep saat berkunjung ke acara rutin Bahtsul Masail dan Konsolidasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Ganding di Masjid Asshafrawi Talaga Ganding, pada Jumat (12/02/2021).

Menurut Sekretaris LDNU Sumenep, Kiai Surya Fajar Rasyid, ilmu itu harus diambil dari ahlinya, karena ilmu bukan sekadar kualifikasi keilmuan saja, melainkan kemampuan memegang tanggung jawab moral atas pengetahuan yang diajarkan para alim ulama.

Orang yang tak memahami ajaran Islam Aswaja secara baik tapi memegang otoritas agama di masyarakat akan sangat berdampak pada pengetahuan yang salah. Dan itu bisa menyesatkan orang lain.

“Kalau keilmuan kesehatan berikan ke ahli kesehatan, demikian juga hal agama berikan pada ulama yang bersanad pada Rosulillah. Jangan mudah mengambil ilmu apalagi agama dari sembarang orang”, ujarnya mengingatkan.

Pada kesempatan itu beliau juga menyinggung pentingnya warga NU menjadi ulama, cendekiawan sebagai implementasi dari semangat Taswirul Afkar. Serta warga NU diharapkan mulai fokus memikirkan peningkatan ekonomi ummat.

“Harus banyak warga NU yang jadi pengusaha sebagai implementasi dari semangat Taswirul Afkar dan Nahdlatul Tujjar yang dulu menjadi cikal bakal berdirinya NU”, tuturnya mengajak peserta yang hadir kuat fikrah dan ekonominya.

Selain itu, beliau juga menyoroti cara beragama dewasa ini yang gampang mengafirkan orang lain karena hidup berdampingan dengan non muslim dalam kehidupan berbangsa.

Padahal menurutnya, Piagam Madinah yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam jelas mengajarkan hidup berdampingan antar pemeluk agama. Piagam Madinah merupakan kesepakatan damai sekaligus draft perundang-undangan yang mengatur kemajemukan komunitas dan berbagai sektor kehidupan Madinah, mulai dari urusan politik, sosial, hukum, ekonomi, hak asasi manusia, kesetaraan, kebebasan beragama, pertahanan, keamanan, dan perdamaian.

Beliau tambahkan bahwa melalui piagam Madinah tersebut, Rasulullah menegaskan konsep kebebasan beragama, tanggung jawab, saling menjaga hak masing-masing setiap warga negara.

Dalam memperlakukan warga non muslim dengan baik di Madinah, beliau menyitir hadis nabi yang berbunyi :

“Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.”

Contoh guyonan hidup berdampingan antar umat beragama, beliau contohkan pada cerita seorang Kiyai dan Pastur dalam bus kota. Saat naik, kiyai berucap “Bismillahirrahmanirrahim“, Sang Pastor berkelakar, “Ini bukan Bismillah kiyai, ini Bus Kota”, ceritanya disambut tawa undangan yang hadir.

Saat dalam bus hujan deras, halilintar menyambar, bergemuruh. Si Pastor berucap “Haleluya…!”, Sang Kiyai balas berkelakar “Itu bukan Haleluya, Pak Pastor. Itu Halilintar…”, lanjutnya disambut senyum hadirin.

Ketua MWC NU Ganding Kiai Abd. Syakur dalam kesempatan tersebut meminta pengurus untuk menghilangkan kebiasaan lama, kebiasaan lambat datang ke rapat.

“Paling lambat pukul delapan mulai acara tiap bulan dimulai,” katanya, sembari beliau menjelaskan tentang pendataan warga NU yang sedang digalakkan oleh Pengurus Cabang NU Sumenep untuk nantinya dicetak menjadi Kartanu.

Editor : Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga