Batuan, NU Online Sumenep
Semarak Hari Santri Nasional (HSN) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep yang dimulai sejak tanggal 1-25 Oktober 2021 telah resmi ditutup, Senin (25/10/2021) malam di aula setempat.
Ketua Panitia HSN, Moh Halili mengutarakan, momen tahunan ini digelar berangkat dari dua peristiwa besar umat Islam dan bangsa Indonesia. Yakni, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan meneladani peristiwa heroik perjuangan para santri saat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.
Selain itu, kegiatan ini sebagai media konsolidasi antara warga NU. Baik struktur atau pun kultur dalam rangka penguatan kelembagaan.
“Jenis kegiatannya yang telah terlaksana adalah bersifat keagamaan, Diklat, dan lomba-lomba yang diselenggarakan oleh lembaga sebagai departementasi NU,” tutur Wakil Ketua PCNU Sumenep saat melaporkan hasil kegiatan HSN.
Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu memaparkan, acara Maulid dilaksanakan secara serentak oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kabupaten Sumenep pada tanggal 18-20 Oktober. Sedangkan di tanggal 21, istighotsah HSN dilaksanakan secara serentak juga oleh seluruh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
”Seluruh kegiatan di luar ekspektasi. Kepesertaan jauh melampaui target atau kuota, seperti lomba baca kitab kuning yang ditarget 90 peserta di masing-masing tingkatan. Namun tembus 170,” terangnya.
Juga pelatihan dan layanan konseling pesantren yang targetnya 60 peserta, tiba-tiba sampai 70 peserta yang datang dari berbagai pesantren. Berangkat dari permintaan pengasuh pesantren, maka Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Sumenep guna melakukan pelatihan secara berkelanjutan.
Alumni Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto itu menegaskan bahwa, seluruh pembiayaan HSN dilakukan secara swadaya atau mandiri. Sedangkan peserta utusan dari struktur NU, pesantren, dan lembaga pendidikan.
“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak. Baik yang menyumbang pikiran maupun materi. Tidak ada gading yang tak retak, kegiatan ini pasti ada kekurangannya. Seluruh panitia menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Insya Allah kegiatan HSN tahun depan terbebas dari pandemi dan dilakukan lebih massif dan lebih terbuka,” tandas mantan Ketua MWCNU Bluto itu.

