Peristiwa malam Sumpah Pemuda kembali menjadi saksi sejarah bagi aktivis lingkungan yang ada kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan (kini IAIN Madura). Kala itu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Mastapala mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang berorientasi pada lingkungan hidup dan sosial kemasyarakatan.
Malam Sumpah Pemuda merupakan peristiwa besar dan Maha penting bagi bangsa kita. Begitu besarnya perannya hingga boleh dikatakan bahwa kemerdekaan tidak akan diperoleh seandainya tidak ada Sumpah Pemuda. Ditetapkan pada malam tersebut simbol perlawanan bagi para aktivis lingkungan. Mengingat semangat dari para perumus Sumpah Pemuda akan mengalir di hati para angkatan perintis Mastapala.
Berangkat dari momen bersejarah tersebut, penulis mengajak untuk merefleksikan ulang bahwa sumpah pemuda diawali dengan pergerakan di daerah tertentu guna mendirikan organisasi kedaerahan. Sebab kala itu terjadi konflik perkepanjangan dengan penjajah yang menindas rakyat Indonesia.
Di tahun 1915-1924, muncul organisasi lokal, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java pada 1915, Jong Soematranen Bond pada 1917, dan Jong Islamieten Bond pada 1924. Pada tahun 1926, Kongres Pemuda I berhasil dilaksanakan dengan berdirinya Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi lintas primordial dengan anggota dari seluruh Indonesia. Berlanjut di tahun 1928, Kongres Pemuda II dilaksanakan dalam tiga rapat di gedung berbeda atas prakarsa PPPI. Rapat pada 28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda yang awalnya diucapkan sebagai Sumpah Setia.
Sebelum kongres ditutup, WR Supratman yang makamnya berada di Jl. Kenjeran, Rangkah, Tambaksari, Surabaya itu menampilkan lagu ciptaannya, yakni ‘Indonesia Raya’. Lagu tersebut mendapat sambutan meriah. Kemudian Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan Indonesia yang sering dinyanyikan oleh seluruh organisasi kemasyarakata, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan lain-lainnya. Sejak itulah lagu yang sering dinyanyikan oleh aktivis lingkungan di puncak gunung 3000 MDPL menjadi identitas bangsa Indonesia.
Berikut isi ikrar atau sumpah pemuda yang dirumuskan dari Kongres Pemuda II. Pertama, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Selamat ulang tahun Mastapala ke-XIII, semoga tambah dewasa dan menyongsong kehidupan yang lebih gemilang.
Penulis: Moh Hafidz Hamsih dan Firdausi, Perintis Mastapala IAIN Madura.

