Image Slider

Pentingnya Model Dakwah Walisongo dalam Penguatan Ranting NU

Pasongsongan, NU Online Sumenep
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Kiai Yusuf Efendi, menuturkan, bahwa dalam upaya penguatan ranting diperlukan menggunakan strategi atau model dakwah ala Walisongo. Sejarah membuktikan, bahwa meski dalam waktu yang relatif singkat, Walisongo mampu menyebarluaskan dakwahnya ke berbagai elemen masyarakat.

Hal ini disampaikan beliau saat menyampaikan sambutan dalam rangka silaturrahim dan penguatan ranting bersama MWCNU Pasongsongan, pada Ahad (26/12/2021), di kantor MWCNU setempat.

“Sejak awal NU memang memiliki tugas untuk melanjutkan tugas-tugas para Walisongo yang belum terselesaikan. Maka dalam melakukan penguatan ranting ini, kita harus hadir mengayomi masyarakat,” tuturnya.

Strategi dakwah ala Walisongo sangat penting diterapkan mengingat NU saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Termasuk bagaimana menjaga masyarakat dari pengaruh kelompok-kelompok ekstrimis. Maka diperlukan strategi dakwah dengan mengayomi dan melakukan pendekatan emosional kepada masyarakat.

“Bagaimana kita menghadapi hal itu? Tentunya diperlukan metode pendekatan kultural sama dengan Walisongo, karena NU merupakan penerus perjuangan Walisongo yang belum terselesaikan,” imbuhnya.

Sejarah mencatat, bahwa pengaruh Walisongo sangat begitu kuat. Menurut Kiai Yusuf, hal itu disebabkan karena Walisongo dalam berdakwah melalui akulturasi budaya. Sehingga diperlukan kearifan setiap pengurus NU dalam menyusun strategi guna menghadapi berbagai dinamika yang ada di tengah-tengah masyarakat.

“Semua sunan memiliki strategi sendiri dalam berdakwah dengan mengakulturasi budaya. Metode ini sangat dibutuhan dalam mengembangkan NU. Kondisi seperti ini perlu kearifan kita,” pintanya.

Guru di Madrasah Aliyah Nurul Islam Karangcempaka Bluto Sumenep itu mengaku bangga dengan upaya yang selama ini dilakukan oleh MWCNU Pasongsongan. Sekaligus juga mengerti dengan setiap kondisi yang dialami. Terpenting adalah bagaimana tetap bisa mengayomi masyarakat.

“Kami bangga dan mengerti kondisi itu semua. Yang jelas NU harus bisa mengayomi. Kalau tidak, NU akan tercerabut dari akar basisnya di masyarakat. Mari kita wadahi dengan kearifan lokal, meskipun berbagai macam bentuk komunitas, mari kita wadahi kemudian perlahan kita arahkan untuk ber-NU,” harapnya.

Iapun meminta agar menjadikan Lailatul Ijtima sebagai kegiatan rutinitas untuk menghidupkan ranting. Hal tersebut dianggap penting karena di pertemuan itu bisa saling menyambung silaturrahim dan membahas berbagai macam isu dan permasalahan lain yang nantinya bisa dicarikan solusinya.

“Mudah-mudahan keberagaman masyarakat ini menjadi potensi bagi kita untuk melayani masyarakat. Semoga dengan hidupnya NU di pasongsongan nanti bisa bermanfaat untuk kita semua. Bagaimana ranting menjadi ujung tombak kehidupan NU,” tandasnya.

Kepada pengurus MWCNU dan Ranting yang hadir di acara silaturrahim itu, Kiai Yusuf mengingatkan bahwa dalam mengurusi NU tidak sama dengan pemerintah. Karena itu semua elemen harus digerakkan.

“Di pemerintahan selama masih ada ketua, wakil tidak gerak. Di NU tidak begitu. Ketua maupun wakil semua sama-sama jalan,” terangnya.

Di akhir sambutannya, Kiai Yusuf juga menjelaskan bahwa PCNU Sumenep selama ini mengerahkan semua program ke basis ranting. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendorong keaktifan ranting.

“Makanya di hari santri kemarin, PCNU hanya menggelar launching dan beberapa lomba. Selain itu diarahkan ke ranting. Makanya semua ranting mengundang PCNU untuk menghadiri acara. Sampai-sampai kewalahan. Ini menjadi satu kebanggaan bagi kita atas keaktifan ranting dan antusiasmenya dalam menggelar acara,” pungkasnya.

Editor: Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga