Pasongsongan, NU Online Sumenep
Usai pelaksanaan konferensi beberapa waktu lalu, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan menggelar silaturrahim dengan berbagai elemen struktural NU dalam rangka menghidupkan NU di berbagai lini, termasuk ranting, Ahad (26/12/2021), di Kantor MWCNU setempat.
Sebagaimana diketahui, penguatan ranting menjadi salah satu program prioritas PCNU Sumenep pasca Konferensi Cabang beberapa waktu lalu. Karenanya, PCNU Sumenep mendorong beberapa MWCNU, termasuk di Pasongsongan guna menghidupkan kelembagaan NU di akar rumput NU itu.
Kiai Yusuf Efendi, Wakil Ketua PCNU Sumenep mengapresiasi atas upaya MWCNU Pasongsongan dalam melakukan penguatan ranting. Bahwa bilamana terdapat beberapa tantangan dan bahkan peluang, hal itu bagian dari dinamika kehidupan masyarakat, dimana NU harus selalu hadir mengayomi.
“Terima kasih atas kesediaan MWCNU dan ranting di Pasongsongan. Mudah-mudahan silaturrahim ini diridlai Allah SWT. Menjadikan NU sebagai ladang perjuangan dalam rangka menghamba kepada Allah melalui NU,” tuturnya.
Terpenting, lanjut Kiai Yusuf, bagaimana Pengurus MWCNU terus mengayomi masyarakat. Salah satunya dengan kegiatan rutinitas Lailatul Ijtima sebagai wadah silaturrahim.
“Yang jelas NU harus bisa mengayomi. Kalau tidak, NU akan tercerabut dari akar basisnya di masyarakat.
Mari kita wadahi dengan kearifan lokal, meskipun berbagai macam bentuk komunitas,” imbuhnya.
Sementara itu, Ahmad Riyadi, Ketua MWCNU Pasongsongan, Ahmad Riyadi menjelaskan bahwa kerja-kerja organisasi sudah mulai dirancang. Salah satunya membentuk beberapa lembaga yang disesuaikan dengan kebutuhan. Termasuk juga penataan dan penguatan kelembagaan ranting.
Sejauh ini, pihaknya telah membentuk 14 kepengurusan ranting di setiap desa se-Kecamatan Pasongsongan. Meski dengan kondisi yang berbeda-beda, namun ia bertekad akan terus mendampingi hingga dapat dikategorikan sebagai ranting yang solid dan aktif.
“Kami mulai mengidentifikasi beberapa persoalan yang ada. Diantaranya, pertama, NU di Pasongsongan mengalami disfungsi organisasi di lembaga dan ranting. Kedua, semakin maraknya pengaruh ormas lain yang menyimpang. Dan ketiga, NU asing di tengah komunitas jamaah,” ujarnya menjelaskan.
Kendati demikian, bersama kepengurusan yang lain, pihaknya terus bekerja keras guna menghadapi beberapa tantangan tersebut. Utamanya dalam penguatan ranting.
Ia optimis melakukan semua itu karena memiliki beberapa peluang, seperti banyaknya dorongan dari oarankiai dan guru ngaji untuk menghidupkan ranting, banyaknya santri dan alumni dari pesantren yang berbasis NU, serta banyaknya sarjana-sarjana yang memiliki kualifikasi baik untuk menggerakkan NU.
“Langkah silaturrahim sudah kami lakukan dengan para kiai dan pemuda potensial. Hampir tiap hari selama tiga bulan. Kita berembuk bagaimana NU masa depan. Ternyata para kiai dan guru ngaji sangat merespon terhadap NU. Kemudian menghimpun kekuatan untuk menghidupkan NU,” tandasnya.
Bahkan beberapa waktu lalu, MWCNU Pasongsongan sudah membeli tanah seluas 17,5 x 57 meter, tepatnya di Desa Panaungan. Juga setidaknya ada sembilan ranting yang aktif dalam kegiatan Lailatul Ijtima.
Geliat menghidupkan lembaga selama ini begitu kuat. Hal itu terlihat dari keaktifan beberapa lembaga dalam membangun jejaring, menggalakkan kegiatan, dan menebar manfaat. Seperti Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi NU) yang rutin menggelar acara-acara kesenian.
Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU juga demikian. Sudah menyiapkan beberapa langkah strategis dalam pengembangan pendidikan. Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) yang juga konsisten dalam mengelola konten-konten media sosial. Termasuk juga beberapa lembaga-lembaga lain yang tidak kalah aktifnya.
Hadir dalam acara tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakepsdam NU) Sumenep, Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU Pasongsongan, lembaga serta badan otonom (banom).
Editor: Abdul Warits

