Image Slider

Rais NU Sumenep: Jangan Cari Keuntungan dan Kemenangan di NU

Pasongsongan, NU Online Sumenep
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia yang didirikan oleh para kiai dan ulama pesantren, sejak awal telah menjadi lahan pengabdian untuk meraih barakah dan mendapat ridla Allah SWT.

Karenanya, Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. Hafidhi Sarbini mengingatkan agar tidak mencari keuntungan dan kemenangan di NU. Hal itu menurut beliau akan menghambat barakah, dan bahkan diyakini tidak akan bertahan lama.

“Jangan mencari kemenangan di NU. Tidak akan berjalan. NU didirikan tidak untuk mencari kemenangan. Karena itu bukan cara-cara agama,” tuturnya saat mengisi tausiyah di acara Silaturrahim dan Penguatan Ranting di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan, Ahad (26/12/2021), di Kantor MWCNU setempat.

Hendaknya, menurut Kiai Hafidhi, dalam mengabdi di NU harus dikerjakan dengan niat ikhlas dan karena Allah SWT. Dengan begitu, kemenangan akan diraih dengan sendirinya.

Beliau juga mengajak untuk tidak mencari penghasilan di NU. Baik dalam bentuk materi maupun yang lainnya. Beliau juga mengaitkan dengan shalat. Bahwa makruh hukumnya melaksanakan shalat dengan embel-embel mengharap pahala.

“Hasil tidak hasil itu urusan Allah SWT. Tetap harus diniatkan lillahi ta’ala. Bukan mencari keuntungan dan kemenangan. NU ya begitu. Yakinlah bahwa semua barakah dan ada manfaatnya,” imbuh beliau.

Dalam persoalan ranting, menurut Kiai Hafidhi, adalah satu hal yang mustahil bilamana tidak bisa dibentuk dan diaktifkan. Sebab membentuk ranting tidak harus dengan begitu formal. Langkah awal cukup mengajak dan merangkul beberapa orang untuk menjadi rais dan ketua.

Kemudian dilakukan pertemuan rutin yang dijalankan secara istiqamah. Baru setelah itu, dilakukan penyempurnaan dan pengembangan bilamana sudah berjalan baik.

“Mustahil jika tidak bisa membentuk ranting. Tidak usah berpikir panjang. Minimal cari tiga orang. Caranya bagaimana? Adakan kompolan. Gak usah banyak-banyak, yang penting istiqamah. Cukup dua tiga orang sering kumpul. Perlahan dikembangkan,” lanjutnya.

Kiai Hafidhi juga sempat menyinggung soal peran Walisongo dalam mendakwahkan agama Islam. Dengan beranggotakan sembilan orang, bisa memperluas ajaran Islam ke seluruh Nusantara. Perlahan, perjuangan Walisongo bisa merangkul banyak orang.

“Walisongo dari awal tidak langsung banyak orang. Dimulai dengan satu dua orang. Tetep istiqamah hingga mulai banyak orang yang ikut. Dan akhirnya bisa meluaskan dakwah,” tandasnya.

Kiai Hafidhi meyakini bahwa sering melakukan pertemuan, silaturrahim dan musyawarah, akan menjadi jalan turunnya Rahmat Allah.

“Aljamaah rahmatun. Jadi tidak perlu nunggu banyak orang, cukup beberapa saja di awal. Kemudian lakukan pertemuan rutin dan dengan bertahap ajak orang satu persatu hingga semua warga di satu desa aktif di ranting,” lanjutnya.

Diakhir tausiyahnya, Kiai Hafidhi menyampaikan terima kasih dan apresiasi. Diharapkan pertemuan tersebut bisa terus berlanjut.

“Maka dari itu, terima kasih atas kehadiran semua. Bahkan ini perlu dilanjutkan. Semoga bermanfaat,” pungkasnya.

Editor: Abdul Warits

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga